Aksi Teatrikal Gerindra di Pusaran Koalisi Pilkada Pandeglang

0
3

Oleh : Zaenal Abidin

Penulis adalah :  Ketua Lakpesdam NU Pandeglang

Kontras dengan sikap partai besar lain yang lebih awal menyatakan dukungan. Partai Gerindra apik memainkan peran dan drama dipengujung babak. Sempat lepas kendali, Gerindra lantas mengatur kemudi, komando diambil alih, haluan diputar arah. Gerindra menahan arus sekaligus mengayun gelombang. Kini, layar mulai mengembang, tinggalah sauh ” tak tahu kemana perahu hendak melabuh”.

Itulah kira-kira gambaran Partai Gerindra dalam konstalasi politik pilkada 2020 Kabupaten Pandeglang. Kedengaran, sampai saat ini Partai besutan Prabowo Subianto tersebut, belum menentukan sikap dukungan politik untuk mengusung pasangan calon manapun. Belum ada Kandidat resmi yang diumumkan, Entah itu mengusung kader internal ataupun eksternal.

Sikap Partai Politik yang nir-ideologi, nyaris dalam setiap menentukan arah koalisi, cendrung lebih bersifat teaterikal ketimbang konsepsi subtansial. Dimana kepentingan masyarakat diletakan dideretan paling bawah dari sekian banyak tawar menawar kepentingan yang dinegosiasikan dibelakang layar, tapi dikemas dalam frasa ” Penjajakan ” oleh elit politik, atau dalam bahasa Burhanudin Muhtadi, “Mencari Kesamaan Visi dan Platfrom dalam membangun Koalisi”(2019). Yang pada akhirnya, baik yang jauh-jauh hari sudah menentukan dukungan, maupun yang baru membuka wacana pembentukan poros koalisi, ataupun yang bermanuver zig-zag sekalipun, tidak ada bedanya. meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer, gerak gerik parpol dalam menentukan koalisi ibarat ” Badai Dalam Secangkir Kopi “. Karena apapun ceritanya, mereka adalah satu komplotan, yang kadang berseteru kadang bersatu.

Namun, opsi Gerindra menahan laju perahu melabuh, sedikitnya membuat pilkada Pandeglang sedikit masih enak ditonton. Kecendrungan Partai tambun menjadikan incumbent opsi utama bahkan secara “berjamah” mendukung sejak awal, menjadikan kontestasi pilkada terasa ” membosankan “. Gerinda setidaknya mengobati rasa itu. Paling tidak, masih ada Gerindra dengan raihan 7 kursi dengan partai papan tengah yaitu PKB, PPP, NASDEM, PERINDO masih belum tergoda berada satu barisan di Kubu incumbent. Sebenarnya, jika kelima Partai ini membuat satu poros koalisi utuh, perhelatan Pilkada Pandeglang berjalan menarik. Incumbent dengan dukungan GOLKAR,PDIP, DEMOKRAT, PKS, DAN PAN bertemu dengan lawan yang sepadan, “Gajah vs Gajah”.

Sebagai pemenang Pileg dan Pilpres 2019 di Pandeglang, Sudah waktunya
Gerindra mengambil momentum Pilkada sebagai insentif politik untuk menjadikan dirinya sebagai trend setter bukan lagi follower. Menjadi bandul politik yang mampu menggeser arah dan peta episentrum politik di Pandeglang. Gerindra menjelma menjadi partai besar, jangan punya mimpi yang sama dengan parpol kelas medioker.

Masih tak bergemingnya Gerindra akan pinangan incumbent harus memberikan isyarat dan sinyal “Kekuatan” bukan sekedar gimik untuk menaikan tarif. Justru, jika belum memutuskan dukungan dimaksudkan untuk menaikan angka tawar, sangat keliru. Yang namanya datang terakhir, kalau gak “untung ya buntung” kalau mau diborong ya harus ” diskon gede gedean”. Lihat saja irisan kepentingan di kubu incumbent, GOLKAR dengan posisi wakil, Demokrat dengan sokongan putra mahkota, PKS punya backup dari Dimyati natakusuma, PDIP Katanya karena KTA Petahana. jika Gerinda datang belakangan, bisa jadi publik beranggapan ini soal ” rente dan cawe cawe”.

Meskipun begitu, apapun sikap gerindra sah sah saja, bergabung dengan incumbent atau membangun poros di kubu penantang adalah sebuah kalkulasi politik. Burhanudin Muhtadi dalam bukunya ” Populisme Politik Identitas dan Dinamika Elektoral ” mengungkapkan, ” Dalam politik nir-ideologi dan nir-gagasan, platform koalisi juga lebih di dorong oleh bandwagon effect. Politisi pada dasarnya adalah makhluk yang rasional dan realistis. Mereka ingin ikut rombongan kereta pemenang, sehingga kalkulasi menang kalah menjadi faktor menentukan.(Burhanudin Muhtadi,2019:89).

Komentar dibawah ini