ANGKLUNG GUBRAG, ANTARA ADA DAN TIADA

0
89

Kabupaten Tangerang lebih dikenal sebagai daerah industri.  Namun di salah satu sudut Kabupaten Tangerang, tepatnya di Desa kemuning, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, kita masih dapat menemui seni budaya local bernama Angklung Gubrag.  Jenis kesenian ini termasuk seni yang jarang dimainkan dan kurang popular di masyarakat kita.  Padahal, Angklung Gubrag termasuk jenis kesenian ‘karuhun’ yang sudah semestinya dilestartikan.

Pada zaman dahulu, kesenian Angklung Gubrag dilaksanakan pada saat ritual penanaman padi dengan maksud agar hasil panen akan berlimpah nantinya. Sekarang  Angklung Gubrag biasa dimainkan saat acara khitanan dan selamatan kehamilan.  Semua pemain menari, kecuali penabuh dogdog (alat musik yang terbuat dari batang kayu bulat) dan saat menari diiringi oleh beberapa penari perempuan dengan kostum kain dan kebaya.

Keunikan Angklung Gubrag terletak pada ukurannya.  Angklung Gubrag memiliki ukuran yang lebih besar daripada angklung pada umumnya. Jumlah tabungnya pun ada tiga, berbeda dengan anklung biasa yang umumnya memiliki dua tabung. Pada saat dilaksanakan pertunjukan kesenian Angklung Gubrag, biasanya digunakan beberapa instrumen seperti enam buah angklung menggunakan bambu hitam, seruling,  dan terompet kendang pencak. Diatas angklung dikaitkan kembang wiru yang diikat membentuk pita yang menurut kepercayaan kembang wiru dan air yang berasal dari angklung dapat menjadi obat dan penyubur tanaman.

Angklung Gubrag terbuat dari bambu hitam, karena selain banyak ditemukan di wilayah Jawa Barat, bambu hitam juga dapat menghasilkan suara yang lebih nyaring ketimbang jenis bambu yang lain. Bagian atas angklung gubrag dihias dengan kembang wiru, yang akan bergoyang jika angklung dimainkan. Berbeda dengan angklung pada umumnya, angklung gubrag tidak mempunyai tangga nada. Meski demikian, angklung jenis ini terdiri dari 6 bilah angklung yang masing-masing diberi nama, antara lain bibit, anak bibit, engklok 1, engklok 2, gonjing, dan panembal.

Penggunaan angklung gubrag sebagai iring-iringan saat nandur bukan tanpa alasan. Masyarakat Sunda meyakini bahwa suara rampak yang keluar dari angklung gubrag dipercaya dapat menggetarkan tumbuhan, sehingga padi dapat cepat tumbuh.  Kini keberadaan Angklung Gubrag seolah semakin terkikis jaman di tengah derasnya arus perubahan social pada masyarakat kita.   Adalah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk tetap mempertahankan eksistensi seni budaya tradisional semacam Angklung Gubrag sehingga tidak punah ditelan jaman. ***(DS – disarikan dari berbagai sumber).  Sumber foto : Kidnesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here