Arti Penting Keterampilan Menulis Bagi Mahasiswa

0
1

Oleh : Dr. Elli Widia, S.Pd., MM.Pd

 

Peenulis adalah : Dosen Pascasarjana Universitas Batam (Uniba) serta Tutor Pendidikan Dasar S1 dan Pascasarjana Universitas Terbuka (UT). Akademisi kelahiran Blang Pidie Nanggroe Aceh Darussalam ini juga mengajar di SD Islam Nabilah Batam.

Sahabat Nabi yang juga khalifah keempat Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan, “Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya”, sementara Al-Ghazali, seorang pemikir Islam terkemuka mengemukakan, “Bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah.”

Kata-kata bijak dari dua tokoh dunia itu mengandung makna yang sangat dalam, yakni bahwa menulis merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi sesama serta menjadi “legacy” (warisan) kebaikan dari penulisnya untuk orang banyak.

Maka tak heran banyak tokoh dunia dikenal karena tulisan-tulisannya yang mencerahkan dan menginspirasi banyak orang. Selain Al-Ghazali, ada nama-nama besar seperti Aristoteles, Plato, Socrates, Ibnu Sina, dan Al-Farabi. Mereka adalah pemikir brilian yang dikenal karena tulisan dan ilmunya.

Proklamator Kemerdekaan RI Bung Karno (Soekarno) dan Bung Hatta (Mohammad Hatta) juga memberikan “legacy” berupa karya tulis yang fenomenal dan inspiratif, khususnya bagi generasi muda untuk masa depan bangsa yang lebih baik.

Bung Karno menulis buku “Dibawah Bendera Revolusi” yang menginspirasi semangat para pejuang kemerdekaan, sementara Bung Hatta menulis buku “Mendayung Antara Dua Karang” yang kemudian menjadi pedoman bagi pelaksanaan politik luar negeri bebas-aktif sampai sekarang.

Berbicara tentang tulisan (“writing”) itu sendiri, karya dari orang yang berpendidikan itu dapat digolongkan pada dua kategori, yakni tulisan ilmiah dan ilmiah populer. Tulisan ilmiah banyak muncul di jurnal-jurnal ilmiah, sementara tulisan ilmiah populer disiarkan oleh media massa.

Dalam konteks Indonesia, persoalannya masih banyak mahasiswa bahkan dosen di berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta yang merasa kesulitan untuk membuat tulisan ilmiah, apalagi tulisan ilmiah populer untuk disiarkan di media massa.

Para pengajar di perguruan tinggi dituntut untuk berpikir keras dan benar-benar fokus agar bisa membuat karya tulis ilmiah yang menjadi salah satu persyaratan bagi pengurusan jabatan fungsional dosen.

Di sisi lain, dosen yang sudah meraih gelar doktor dan menjadi guru besar yang tulisannya banyak dimuat di jurnal ilmiah pun masih menghadapi kesulitan untuk mengubah tulisan ilmiahnya menjadi tulisan ilmiah populer untuk konsumsi publik.

Akibatnya, perguruan tinggi terkesan seperti “Menara Gading”. Karya besar mereka, termasuk tulisan-tulisannya di jurnal-jurnal internasional hanya bisa dibaca oleh kalangan civitas academica sendiri, sementara publik tidak mendapatkan manfaat dari karya tulis kalangan kampus itu.

Lain halnya kalau mereka juga bisa menulis di media massa, yakni dengan “mengubah” gaya karya tulis ilmiahnya menjadi karya tulis ilmiah populer, sehingga masyarakat umum pun bisa mengambil manfaat dari buah pemikiran kalangan berpendidikan tinggi itu.

Khusus di lingkungan mahasiswa, ketika dihadapkan pada situasi yang mengharuskan mereka untuk menulis laporan akhir, disinilah banyak muncul permasalahan, sehingga tidak sedikit di antara mereka yang kemudian bahkan seperti tidak memiliki motivasi untuk menyelesaikan laporan akhir karena tidak dimilikinya keterampilan menulis.

Bagaimana upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut? Langkah tepat yang dapat diambil adalah perlunya pelatihan-pelatihan penulisan di kampus-kampus agar mahasiswa termotivasi dan mengeluarkan ide-ide kreatifnya untuk bisa menghasilkan karya tulis yang memberi manfaat untuk orang banyak.

Dalam upaya meningkatkan budaya menulis secara cerdas dan kreatif, para mahasiswa khususnya harus bisa melatih diri untuk secara terus-menerus membuat tulisan. Sementara pada saat ini masih banyak mahasiswa yang menggunakan sebagian besar waktunya untuk hal-hal yang kurang bermakna.

Para mahasiswa tidak dibenarkan mengatakan “tidak bisa” terhadap banyaknya tugas dari dosen yang mengharuskan mereka fokus dalam penyelesaian tugas perkuliahan yang harus dituangkan dalam bentuk laporan atau tulisan.

Maka, dalam kaitan itu pula kurikulum di perguruan tinggi harus memungkinkan mahasiswa untuk terampil menulis. Selain itu, kepustakaannya harus ditambah, buku-bukunya terus diupdate, dan akses digital untuk para mahasiswa diperluas agar tulisan mereka juga bisa dimuat secara online.

Terkait keterampilan menulis di lingkungan kampus, sejatinya tidak akan ada persoalan besar bagi perguruan tinggi manapun jika para mahasiswanya dibiasakan menulis sejak awal masa perkuliahan. Kita ambil contoh, mahasiswa harus terbiasa atau diwajibkan membuat paper dua kali dalam seminggu.

Karena sudah terbiasa menulis, seandainya seorang lulusan harus membuat ringkasan 10 halaman dari skripsinya yang kira-kira berjumlah 100 halaman untuk dimuat di jurnal ilmiah, maka kewajiban itu bagi yang bersangkutan bukan merupakan hal yang sulit.

Selanjutnya, mahasiswa dimaksud perlu diminta mengubah tulisan ilmiahnya menjadi tulisan ilmiah populer untuk disiarkan di media massa, terutama di media online daerah maupun nasional. Melalui media online, tulisan siapapun bisa dibaca oleh publik di ujung dunia manapun.

Pada tahap selanjutnya, jika tulisan-tulisan mereka sudah banyak disiarkan media massa, bisa saja karya olah pikirnya itu kemudian dihimpun menjadi sebuah buku, sehingga makin banyak publik yang akan menikmati karya tulisnya itu.

Terkait kebahasaan, sepanjang yang bisa diamati, tulisan yang layak siar di media massa umumnya tidak berpanjang-panjang dan tidak “berbunga-bunga”, tetapi ringkas dan padat serta langsung ke pokok persoalan.

Selain itu penulisnya harus cermat dengan membuang kalimat-kalimat yang tidak perlu, mengusahakan lebih banyak kalimat aktif, dan menggunakan bahasa yang sederhana serta mudah dipahami publik.

Tulisan di media massa itu sendiri sejatinya akan makin mendorong kesadaran publik tentang arti pentingnya pendidikan dan keterdidikan untuk kemajuan anak-anak bangsa. Pendidikan dan keterdidikan harus seimbang agar seorang individu dapat menjadikan dirinya berkualiats di mata masyarakat.

Keterdidikan itu sendiri terkait dengan aspek moral, kepribadian, wawasan yang luas, dan sikap yang konsisten untuk mengembangkan diri dalam memaknai perjalanan hidup bagi kepentingan masyarakat luas.

Banyak contoh, seseorang yang tinggi pendidikan akademiknya, tetapi belum tentu tinggi pula keterdidikan yang tertanam dalam dirinya, sehingga yang bersangkutan hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Namun tidak sedikit pula orang yang berpendidikan biasa-biasa saja, tapi sukses secara pribadi dan banyak memberi manfaat terhadap masyarakat. Kenapa? Tidak lain karena yang bersangkutan memiliki keterdidikan yang baik.

Kembali ke persoalan tulis-menulis, berdasarkan paparan di atas, secara singkat dapat disimpulkan bahwa budaya menulis perlu dikembangkan, bukan hanya sejak seseorang masuk ke perguruan tinggi, melainkan bahkan sedini mungkin, yakni sejak seorang anak mengerti tentang baca-tulis.

Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya menulis dan membaca akan sangat membantu proses belajar dan mengajar. Kita belajar untuk menjadi pandai tidak lepas dari kegiatan membaca dan menulis, meskipun banyak metode lain yang juga bisa digunakan agar seseorang menjadi pandai dan cerdas.

Melalui tulisanlah kita bisa memberikan sumbangan kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demi peningkatan kesejahteran hidup masyarakat. Pada era teknologi informasi yang maju pesat dewasa ini pun tulisan tetap merupakan media komunikasi yang diandalkan.

Tidak mudah memang. Tapi sejatinya semua orang terpelajar pasti bisa menulis asalkan mereka mempunyai idealisme, banyak membaca, fokus, bersungguh-sungguh, mau bekerja keras, dan “last but not least” memiliki kesabaran.

Maka, kiranya tepat kata-kata bijak dari Umar bin Khatab, salah satu sahabat utama Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan: “Dan untuk meraih ilmu, belajarlah untuk tenang dan sabar”.

Komentar dibawah ini