Belajar Adaptasi Jiwa Kerelawanan dari Mas Atta

0
2


Oleh : Tati Rahmawati
Penulis adalah : Relawan Apoteker Tanggap Bencana Provinsi Banten

 

Takbir menggema masih di hari tasyrik idul qurban minggu 2 agustus 2020, bersamaan dengan prosesi penyembelihan hewan kurban di tanah huntara (hunian sementara). Tak berapa lama teman-teman di tenda utama mulai menerima kiriman daging yang sudah dibersihkan. Kesibukan mulai terlihat. Kak Martha dan Kak Maria melengkapi seluruh personel yang akan bertugas dengan apron, tutup kepala, sarung tangan dan masker.

“ Saya mau jadi tim cacah,” seorang kawan baru dengan kaus bertuliskan IOF (Indonesia Off road Federation) menjawab permintaan saya yang membutuhkan bantuan melalui pengeras suara. “Tapi, saya tidak bawa pisau”, sambungnya. Teman lain dengan sigap menyerahkan golok panjang serta pisau kepadanya.

Saya memanggilnya Mas Atta, nama yang dia sebutkan saat memperkenalkan diri. Kak Maria dengan sigap melengkapinya dengan apron dan lain-lain sebelum duduk di arena tempur. Parang panjang di tangan kirinya mulai beraksi mencacah tulang sapi yang mulai menumpuk. Keramahannya terlihat menyapa ibu-ibu warga huntara yang menjadi Tim Timbang dan sudah siap duduk rapi dengan pelindung diri yang lengkap pula.

Perjalanan pencacahan daging baru berjalan 60% dari total 26 kambing, 2 ekor sapi dan 1 ekor kerbau. Senyum matahari kian melebar, teriknya mulai terasa. Beberapa teman mulai berganti shift, istirahat sekadar minum kopi dan cemilan ringan. Tim pengemasan sudah mulai bergerak, ada 600 besek berisi daging yang menjadi target kemas.

Mas Ata yang bernama lengkap Miftahul Ilmi, tangan kidalnya masih terus bergerak. Tanpa ampun semua bersih di lapak cacah, Rasa lelah sepertinya tak mendekat, dihalau semangat selesaikan tugas. Pencacah handal sepertinya Mas Ata ini.

Adaptasi terhadap suatu kondisi serta bagaimana Mas Ata membantu suatu tim terlihat jelas. Rupanya Mas Ata yang tinggal di Cipondoh, Tangerang ini mempunyai basic MAPALA. Aksi “Giving Living” untuk Huntara Cigobang, Lebak menarik perhatiannya, karena tidak hanya satu kegiatan namun dalam dua hari diisi aneka kegiatan untuk warga huntara. Sebuah aksi yang spektakuler waktu saya bertanya kesannya terhadap kegiatan yang melibatkan banyak lembaga.

Jiwa relawannya langsung bereaksi, membaca situasi dengan cepat serta memutuskan apa yang harus dilakukannya untuk membantu menyelesaikannya secara spontan. Itu yang dia lakukan selama dua hari kemarin. Berkeliling mencari titik yang harus dia bantu.

Harapan Mas Ata terhadap kegiatan yang digelar BSMI, ATB, IOF, Kandang Uwing, PPNI, IDI wilayah Lebak serta lembaga lainnya tentu dapat berlanjut ke tempat lain. Dan untuk lebih merasakan atmosfer mereka yang ada di sana, ada baiknya tingggal dan membaur bersama warga. Berbincang dengan penduduk lokal seringkali mendatangkan banyak inspirasi. Saling memberi untuk menghidupkan.

Komentar dibawah ini