Berislam Itu Pilihan

Oleh : Ocit Abdurrosyid Siddiq

 

 

Suatu pagi, di akhir pekan. Hari yang mestinya saya gunakan untuk relaks; rehat raga, rehat pikir. Sembari menyeruput kopi suguhan istri, saya coba buka gadget. Mencari informasi hiburan dan liburan.

Keduanya penting sebagai penyeimbang atas aktifitas lima hari sebelumnya. Hari kerja dipakai untuk bekerja. Kadang libur pun dipakai untuk bekerja. Makanya, ketika ada waktu senggang dari pekerjaan, saya lebih memilih untuk bersama keluarga.

Tiba-tiba, “ping”! Notifikasi inbox berbunyi. Terbaca, si pengirim adalah junior saya; mahasiswa perguruan tinggi agama Islam negeri, tempat dulu saya kuliah. Tumben nih. Biasanya, komunikasi kami selama ini cukup di kolom komentar dinding Facebook saya. Ya, dia termasuk teman di Facebook yang rajin menimpali setiap kali saya memposting sebuah status. Bila kali ini berkirim kabar pakai pesan langsung, sepertinya ada yang penting.

“Kang, saya perhatikan, setiap ada sebuah peristiwa atau kejadian, respon Akang selalu berbeda dengan kebanyakan pendapat orang. Apakah itu sejatinya demikian? Ataukah hanya sekedar sensasi agar yang penting beda sehingga mendapat dan menarik perhatian orang?” Tertulis disana, pesan pertama bernada tanya dalam kalimat yang lumayan panjang.

Saya sejenak tertegun. Ternyata ada orang lain, bahkan junior saya, yang memiliki penilaian demikian. Belum sempat saya berpikir panjang tentang pertanyaan itu, pesan kedua datang lagi.

“Kadang saya heran dengan pemikiran keberagamaan Akang. Berlatar keluarga santri, orang tua guru ngaji, belajar di madrasah, kuliah di perguruan tinggi Islam, kini mengajar di pesantren, namun pemikiran keagamaan Akang terkesan liberal!”. Waduh, ini anak bukan hanya serampangan nyerocos, bahkan sudah berani menyematkan stigma. Stigma yang sensitif.

Antara sungkan, jengah, dan gamang, saya lebih memilih untuk tidak membalasnya. Memilih begitu, karena ini hari libur. Hari untuk berpikir yang ringan dan sederhana. Waktu untuk keluarga. Keluarga yang jarang bercengkerama.

“Mengapa bisa begitu Kang?”, pesan ketiga pada inbox ini membuat saya tertantang untuk memberikan penjelasan. Setelah saya menyeruput kopi dan memberikan kode ke istri, seolah mau serius dan tidak ingin disela, saya mulai memainkan jari jempol untuk menjawabnya.

Begini :

Dik, inilah beda kita. Yang membedakan saya dengan mereka, juga dengan kamu, adalah karena saya tidak latah. Latah dalam merespon setiap perkara. Perilaku latah ini akibat kamu dan mereka tidak mau mengkaji. Saat menerima sebuah berita atau peristiwa, cukup dengan pendapat dan kata orang.

Selain itu juga karena kamu dan mereka kerap melakukan pembelaan atas dasar dan dimotivasi oleh semangat yang emosional. Menggunakan perasaan dan hati yang sejatinya mesti direspon dengan rasio.

Hal paling jarang yang dilakukan oleh orang-orang ketika merespon sebuah persoalan adalah kesediaan berempati dan memahami konteks yang melatari sebuah peristiwa itu.

Bagaimana caranya untuk menumbuhkan sikap seperti itu, Kang?

Nah, ini bisa dimulai jauh ke belakang. Saya berislam itu atas hasil kajian dan pilihan. Beda dengan kamu, yang saya yakin, kamu berislam itu karena faktor warisan dan turunan. Sama halnya dengan kebanyakan orang.

Maksud Akang bagaimana?

Iya, sekarang kamu muslim kan? Kenapa kamu menganut Islam? Saya yakin itu karena orang-tuamu Islam. Andai orang-tuamu Katholik, saya yakin kamu menganut Katholik juga kan? Itu yang saya maksud berislamu itu produk warisan dan keturunan. Saya tak demikian!

Saya berislam itu karena pilihan hasil kajian. Dulu, semua agama saya pelajari. Saat saya mempelajari semua agama, saya berikrar akan menganut agama yang saya yakini benar. Benar menurut logika. Bukan benar menurut iman. Karena bila benar menurut iman semata itu subjektif.

Katholik saya pelajari. Begitu pula Protestan, Budha, Hindu, Konghucu, bahkan Yahudi. Tentu saja Islam juga. Andai waktu itu saya menemukan bahwa secara logika Katholik adalah agama yang paling benar, bisa jadi saya menjadi penganutnya.

Tapi setelah saya pelajari semuanya dengan cara membandingkan ajaran agama-agama tersebut, saya mendapatkan kesimpulan bahwa secara logika agama yang paling benar adalah agama Islam. Karena itulah saya memilihnya.

Perbandingan ajaran apa yang pada akhirnya membuat Akang menentukan bahwa Islam adalah agama yang benar?

Sederhana. Untuk mencari ajaran agama apa yang benar, cukup dengan mempelajari konsep ketuhanan dalam tiap agama. Karena itu inti dari ajaran tiap-tiap agama.

Saya pelajari konsepsi ketuhanan Katholik dan Protestan. Dalam agama ini, konsep ketuhanannya dikenal dengan istilah Trinitas. Ada Tuhan Bapak, Tuhan Ibu, dan Tuhan Anak. Mereka menganggap Isa atau Yesus sebagai Tuhan.

Mereka menganggapnya demikian hanya karena dia terlahir dari seorang ibu yang tidak punya suami. Padahal, di zaman now banyak anak terlahir dari seorang perempuan yang tidak bersuami, namun tidak lantas dianggap sebagai Tuhan, hehe..

Saya juga pelajari Budha. Saat saya mempelajarinya, juga disertai dengan niat dan komitmen, apabila agama ini benar menurut logika saya, akan saya jadikan way of life.

Saya pelajari konsep ketuhanannya. Dalam Budha, yang mereka anggap Tuhan adalah Sidharta Gautama, seorang anak raja salah satu kerajaan di India.

Tuhan itu kan harus Maha Kuasa. Bagi Tuhan, tidak boleh ada yang lebih berkuasa selain diriNya. Sementara Sidharta Gautama hanyalah seorang anak raja, putra mahkota. Masih lebih Maha Kuasa ayahnya yang notabene adalah raja. Karena masih ada yang lebih Maha Kuasa, maka Sidharta Gautama gagal memenuhi syarat sebagai Tuhan.

Lalu saya pelajari Hindu. Lagi-lagi saya berkomitmen, bila konsepsi Tuhannya benar menurut logika saya, maka saya akan menganutnya dengan taruhan berbeda aqidah dengan orang tua, kerabat, tetangga, dan masyarakat pada umumnya.

Tuhan dalam agama Hindu dikenal dengan istilah Trimurti. Tuhan terdiri dari tiga unsur. Ada Tuhan Pencipta, ada Tuhan Pemelihara, dan ada Tuhan Perusak. Tuhan dalam Hindu dikenal dengan nama Dewa.

Dewa Brahma diyakini sebagai Tuhan Pencipta. Dewa Wisnu dianggap sebagai Tuhan Pemelihara. Dan Dewa Siwa sebagai Tuhan Perusak.

Persoalannya, lagi-lagi Tuhan itu harus Maha Kuasa. Kuasanya harus tak terbatas. Bila Tuhan kewenangannya dibatasi hanya sebagai pencipta, atau hanya sebagai pemelihara, atau hanya sebagai perusak, maka pembatasan kewenangan ini kontradiktif dengan Kemahakuasaan.

Bayangkan, ketika Brahma mencipta alam, lalu dengan teliti dirawat oleh Wisnu, kemudian dirusak oleh Siwa, bukankah secara logika akan menimbulkan pertentangan antar ketiganya? Tak bisa saya bayangkan bila antara “tuhan” berselisih paham. Karena secara logika tak bisa saya terima, maka saya urung memeluk Hindu.

Konghucu dan Yahudi juga saya pelajari. Agar kamu tak terlalu berat menyimak penjelasan saya, keduanya belum akan saya jelaskan kali ini. Yang jelas intinya sama; bahwa konsepsi Tuhannya tidak logis.

Lalu saya pelajari Islam. Tentu saja disertai dengan komitmen, bahwa bila konsep ketuhanannya benar menurut logika saya, maka agama ini akan saya pilih. Tapi bila tidak, saya akan lebih memilih untuk menjadi seorang atheis.

Tuhan dalam Islam dikenal dengan nama Allah. Untuk menjadikan Allah layak dan memenuhi syarat sebagai Tuhan, saya cukup pelajari Surat Al-Ikhlas. Pada surat itu, kriteria Tuhan amat sederhana, namun sarat dengan kebenaran.

Pada surat itu dikatakan bahwa Allah itu ahad, esa, tunggal, satu. Allah itu lam yalid wa lam yulad. Allah itu tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak beranak bukan bermakna bahwa Dia mandul. Tidak diperanakkan, bermakna bahwa keberadaan Dia bukan disebabkan oleh keberadaan yang lain.

Dengan kriteria sederhana ini saja maka Allah dalam ajaran Islam layak dan memenuhi syarat untuk dijadikan Tuhan. Nah, perbandingan sederhana ini saja sudah cukup buat saya untuk menjatuhkan pilihan kepada Islam sebagai agama yang saya anut.

Asyhadu alla ilaaha illallah, wa Asyhadu anna muhammadan rosulullah. Saya memilih Islam. Islam agama pilihan. Pilihan berdasar rasio. Bukan karena turunan. Bukan pula karena warisan. Saya tak jadi atheis.

Nah, dengan memelajari doktrin dan ajaran agama-agama, kita akan tahu dan paham akan agama lain. Karena tahu dan paham, maka tak tergopoh untuk menyalahkan, yang berujung pada saling menyalahkan. Konflik antar agama, biasanya terjadi karena adanya kesalahpahaman dalam merespon doktrin dan ajaran agama lain. Adalah tidak relevan Bila kita menakar kadar kebenaran agama lain dari perspektif agama yang kita anut.

Sehingga, “innaddina ‘indallahil islam” yang bermakna “sesungguhnya agama yang paling benar adalah Islam” bukan semata pengakuan subjektif umat Islam. Karena bila kita tanya pada tiap pemeluk suatu agama, tentu penganutnya akan mengklaim bahwa hanya agamanya lah yang paling benar. Akhirnya, masing-masing penganut agama saling klaim sebagai yang paling benar.

Lewat upaya pembandingan ajaran agama inilah, saya semakin yakin dan mantap bahwa Islam adalah agama yang benar. Benar bukan semata kata orangtua, kata guru, kata ustadz, atau kata kiyai. Bahkan benar ini bukan semata kata kitab suci. Kebenaran ini juga saya buktikan dan temukan sendiri.

Islam saja bagi saya adalah hasil pilihan, hasil seleksi, apalagi yang lain. Nah, dari situlah hingga kini bila saya menerima sebuah informasi, atau berita, atau peristiwa, saya terbiasa terlebih dahulu selalu melakukan kajian dengan cara tabayyun, empati, holistik, dan memahami konteksnya. Dengan cara begitu, insyaallah kita tidak akan latah yang kadang berujung dengan kekonyolan.

Jangan lupa, gunakan rasio sebagai alat untuk merespon, beradu argumen, dan melakukan pembelaan. Jangan emosional dan terbawa arus orang banyak dalam mempertahankan pendapat karena itu adalah wujud nyata latah.

Afala tatafakkarun, afala tadabbbarun, afala ta’qilun, merupakan kalimat yang kerap banyak kita temukan pada bagian akhir ayat dalam kitab suci. Itu merupakan tantangan Tuhan agar kita menggunakan otak, yang didalamnya ada akal, sebagai karuniaNya pada makhluk paling sempurna. Kita, manusia. Maka pakailah otak itu, jangan biarkan ia menganggur.

Orang pakai logika, kamu respon pakai rasa, itu baper namanya. Sebaliknya, orang pakai rasa, kamu respon pakai logika, itu lebay namanya. Itulah mengapa, saya lebih sering memakai logika dibanding rasa. Karena rasa itu urusan hati yang abstrak dan tak ada alat takarnya.

Kamu tahu kan, Dik. Saya ini alumni Aqidah Filsafat. Waktu “menembak” istri saya saja, bukan pakai rasa, tapi logika. Cinta yang logis. Asmara yang rasional. Cukup sekali saya tembak, istri langsung meleleh.

Bagaimana tidak meleleh. Saat meluluhkan hatinya, saya pakai puisi Hamlet :

Ragukan bahwa matahari itu akan terbit
Ragukan bahwa api itu panas
Ragukan bahwa kebenaran itu dusta
Tapi jangan ragukan cintaku!

Saradat gampleng…!

Tapi Dik, ada dua hal yang logika tidak mampu menyelesaikannya. Yaitu rindu dan cemburu. Untuk yang dua ini, saya membenarkan lirik Agnez Monica yang katanya, “Cinta itu kadang-kadang tak ada logika”. Cie cie..!

Dik, halo Dik!
Halah, sapaanku tak berbalas. Mungkin dia habis kuota.

Penulis adalah : Kader Mathla’ul Anwar, Alumni Perguruan Mathlaul Anwar Binuangeun.

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *