Catatan Hati Seorang Pendamping Sosial : KPMku Guruku 

0
1

Oleh : Agustin Hariyani

Penulis adalah : SDM PKH Kebupaten Madiun, Jawa Timur

Foto Buku Monitoring yang terinspirasi dari bu Entin. Buku ini telah mengalami modifikasi saat terjadi Pandemi Covid-19 dan penyaluran bantuan PKH menjadi tiap bulan.

Seorang Guru, adalah sosok yang mungkin saja kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Secara disadari atau tanpa disadari ia adalah seseorang yang memberikan tauladan atau contoh yang membuat kita menyadari akan sesuatu hal sehingga kita mau berubah meniru / mencontoh untuk melakukan sesuatu dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Berkisah diawal tahun 2010 tentang seorang perempuan bernama Entin, seorang single parent dengan 3 anak yang menjadi tanggung jawabnya, status sang suami pergi tak diketahui rimbanya dan menelantarkan anak dan istri. Keluarga ini tinggal bersama dengan orang tua Ibu Entin.

Ibu Entin sekarang berusia 40 tahun, adalah salah satu peserta dampingan sejak tahun 2007. Ditinggalkan suaminya sejak anak pertama masih kelas 5 SD. Seorang perempuan yang berparas tua dibandingkan dengan usia yang sebenarnya. Menurut anggapan warga di sekitar rumahnya, Maaf….. mereka menyebut Ibu Entin agak tidak waras. Suka tidak nyambung kalo diajak berbicara dan suka marah-marah bila ada sesuatu yang tidak berkenan dihatinya. Mungkin saja karena tekanan hidup dan kemiskinan yang menghimpitnya membuatnya menjadi seperti itu.

Pekerjaan utama Ibu Entin adalah menggembala kambing. Ia punya beberapa ekor kambing yang tiap hari digembalakan di lapangan desa. Sedangkan pekerjaan tambahannya adalah mencari rosok / barang bekas untuk kemudian dijual. Barang bekas yang ia kumpulkan biasanya bekas botol minuman, kertas dan kardus. Ia biasa mencari disisa keramaian, hajatan atau di tempat sampah para tetangga.

Sampai pada suatu pagi, Ibu Entin datang kerumah dengan tergopoh dan menangis tersedu. “Ibu Agustin, saya mau dibunuh Emak dan Pak-e, saya bosan dipukuli tiap hari bu” begitu katanya terbata-bata. Saya kaget dan tidak menyangka kalau Ibu Entin akan datang ke rumah dengan keadaan seperti itu. Saya memintanya duduk, mengambilkan segelas air putih agar Ibu Entin tenang bercerita.

Intinya adalah komunikasi yang tidak baik sehingga menyebabkan kesalah pahaman. Ibu Entin merasa sebagai anak tidak dihargai oleh Emak dan Bapaknya. Pada intinya Ia merasa tidak dicintai oleh keluarga dan sangat emosional ketika marah. Saat marah itulah ia tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak mengucapkan kata-kata yang tidak perlu sampai berteriak. Akhirnya Emak dan bapaknya memukulnya dengan maksud untuk membuatnya diam. Alih-alih diam, malah semakin ributlah teriakan Bu Entin tiap kali hal itu terjadi. Begitulah versi yang saya dengar dari tetangga.

“ Setiap Orang tua itu mencintai anak-anaknya, tapi mungkin saja mereka sedang marah dan kesal sehingga keluar kata-kata ingin membunuh, Tapi percayalah itu hanya dibibir saja bu. Apa yang bisa saya bantu dan kenapa Ibu pagi-pagi datang kesini ?” Tanya saya ketika Ibu Entin sudah tenang. “ Begini bu, setiap selesai pembayaran Ibu saja yang bawa uangnya, biar kalo butuh uang saya minta kesini ” kata bu Entin. Saya tambah bingung, ditanya tentang masalah keluarga kok larinya ke uang bantuan, Hmmm……. benar dugaan para tetangga kalo diajak ngomong suka tidak nyambung, begitu kata saya dalam hati. “Kenapa harus saya bawa?” Tanya saya. “ Karena kalo saya yang bawa pasti diminta semuanya sama Emak Bu, padahal uang untuk Emak sudah saya kasih sedikit, yang lain kan untuk bayar sekolah anak-anak dan menabung untuk kebutuhan anak-anak”. Anak Bu Entin yang pertama bernama Putra sudah lulus STM. Anak kedua bernama Putri baru saja lulus Program SMA Gratis, dan anak Ketiga bernama Adi lulus SD.

Singkat cerita, sejak kejadian itu akhirnya Bu Entin punya tabungan di Kantor Pos tapi buku tabungannya saya yang membawa. Hal itu untuk menghindari Orang tua Bu Entin meminta seluruh uang bantuan. Sejak hari itu, saya merasa perlu melakukan tambahan pengawasan terhadap uang bantuan, caranya dengan meminta setiap peserta dampingan membuat cacatan penggunaan uang bantuan setiap kali bantuan diberikan. Buku itu secara rutin saya periksa dan saya dorong mereka memiliki tabungan. Dan semua itu berkat kasus yang dialami Ibu Entin.

Saat kelulusan bulan Juni 2015 lalu, Ibu Entin datang kerumah bersama Adi. Maksud kedatangannya ingin meminta saran Adi harus sekolah di SMPN 2 atau di MTSN. Setelah menimbang beberapa alasan saya menyarankan di sekolahkan ke MTSN saja, Ibu Entin dan Adi sepakat. “Putra dan Putri lulus SLTA bu Agustin, Adi juga harus seperti kakak-kakaknya, itu impian saya bu” kata bu Entin.

Sepulang mereka saya berpikir, Ibu Entin yang konon katanya tidak waras bisa merencanakan tabungan dengan baik, meminta pendapat memilih sekolah bagi anaknnya dan menginspirasi saya untuk melakukan pengawasan bantuan dengan lebih cermat. Sungguh saya tersadar, seorang Janda beranak tiga, ditinggalkan suami sejak lama, mampu menyekolahkan anak sesuai impiannya adalah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang katanya tidak waras.

Ibu Entin mengajarkan kepada kita tentang tidak menyerah oleh kesulitan, tentang pentingnya punya tabungan bagi pendidikan anak, tentang tidak takut bermimpi dan tentang menjadi Ibu yang luar biasa. Sungguh saya malu pada diri sendiri, bila saya tidak mau belajar darinya dan mensyukuri kehidupan saya. Dia pantas disebut Guru. Guru sejatinya bukanlah seorang yang mengajarkan ilmu di sekolah saja, tapi sejatinya ia adalah seseorang yang mengajarkan tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan.

“Janganlah terlalu memikirkan apa yang orang lain bicarakan tentang diri kita. Karena kadang banyak orang bicara tanpa berpikir terlebih dahulu tentang siapa sebenarnya diri kita. Dan biasanya kita juga bisa keliru dalam menilai sesuatu yang hanya dari kasat mata”.
Terimakasih Ibu Entin, kami harus banyak belajar darimu.

Miskin bukan karena seseorang tidak memiliki harta atau uang, tapi miskin dan sesungguhnya saat seseorang tidak memiliki mimpi dan harapan.

Salam Pendampingan Sosial 😊😊😊.

Komentar dibawah ini