Cegah Stunting Itu Penting

0
2

Oleh : Moch. Fadhli Farhan Nasir

Penulis adalah : Mahasiswa STIKes Salsabila Serang.

 

Pada era modern ini segala kegiatan selalu dikaitkan dengan kondisi fisik, misalnya tinggi badan dan berat badan. Di Indonesia sendiri mempunya ‘PR’ tentang kesehatan, khususnya perbaikan gizi. Buruknya gizi merupakan masalah yang menjadi perhatian di Indonesia, karena dapat menimbulkan masalah bahkan kehilangan generasi.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak dibawah usia 5 tahun (balita), akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek dari anak seusianya. Kemiskinan seringkali hadir bersamaan dengan terjadinya Stunting pada balita. Kemiskinan tidak hanya hadir dan berkontribusi secara individual pada satu keluarga tetapi kemiskinan secara makro pada suatu wilayah berhubungan erat dengan tingginya Stunting dalam satu kelompok masyarakat.

Apasih penyebab Stunting itu? Stunting terjadi karena kekurangan asupan gizi pada anak dalam 1000 hari pertama kehidupan, yang artinya sejak dari dalam kandungan, sampai berusia 2 tahun. Selain nutrisi yang buruk, Stunting biasanya disebabkan oleh kebersihan (sanitasi) lingkungan yang buruk, sehingga anak mudah terkena infeksi.

Penyebab umum terjadinya Stunting di Indonesia adalah dari pola makan masyarakat yang mayoritas lebih banyak mengkonsumsi karbohidrat dibandingkan protein. Hal ini berbanding terbalik dengan masyarakat Jepang yang mayoritas lebih banyak mengonsumsi protein dibanding karbohidrat. Oleh karenanya, Indonesia menduduki posisi ke-3 di Asia Tenggara dan ke-2 se-ASEAN sebagai negara yang memiliki masyarakat penderita Stunting terbanyak. Salah satu wilayah di Indonesia yang paling banyak mengidap penyakit Stunting adalah Provinsi Banten. Sekitar 8000 anak menderita Stunting, tersebar di sejumlah kecamatan dari beberapa kabupaten di Banten.

Di provinsi Banten penderita Stunting yang tergolong tinggi terdapat di Kabupaten Pandeglang yang mencapai angka 38,5%. Persentase ini melebihi standar WHO yang batas maksimalnya adalah 20% atau seperlima dari jumlah total anak balita pada suatu daerah. Pada acara HKN (Hari Kesehatan Nasional) yang diadakan di alun-alun Pandeglang (Jum`at, 06 Desember 2019), Bupati Kabupaten Pandeglang mengakui angka Stunting ini terbilang tinggi. Selain di daerah Pandeglang, penderita Stunting dan gizi buruk juga terjadi di kota serang.

Pada tahun 2019 kota serang tercatat sebanyak 86 balita menderita Stunting, sementara pada 2018 hanya 62 balita yang mengalami Stunting. Wali kota serang Syafrudin, mengatakan bahwa penderita Stunting pada balita paling banyak terdapat di kecamatan Kasemen Serang-Banten. Karena daerah tersebut terbilang sangat kumuh.

Pada tahun 2018 angka penderita Stunting mencapai 30,8% berdasarkan riset kesehatan dasar (riskesdas), hal ini membuat keadaan cukup resah bagi masyarakat Indonesia. Tetapi berbanding terbalik pada tahun sebelumnya, pada tahun 2019 ini Menteri Kesehatan menyampaikan angka Stunting turun menjadi 27,67%, yang artinya sekitar 3,13% penderita Stunting menurun. Kabar tersebut membuat masyarakat bahagia.

Lalu bagaimana ciri-ciri anak yang terkena Stunting? Selain gangguan pertumbuhan, anak yang mengalami Stunting akan mempengaruhi tingkat kecerdasan, gangguan berbicara, dan kesulitan belajar. Selain itu anak juga memiliki sistem imun yang rendah, sehingga lebih mudah sakit, dan mudah terkena penyakit yang menginfeksi. Anak yang mengalami Stunting akan lebih lama sembuh dari sakit.

Apa dampak Stunting pada dewasa nanti? Dampak Stunting yang biasa terjadi pada dewasa nanti adalah anak akan mudah terkena penyakit yang serius seperti diabetes, hipertensi, dan diabetes. Lalu bagaimana cara pencegahannya? Pencegahan pada Stunting dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya yaitu :
Memenuhi nutrisi dan gizi ibu selama hamil dan menyusui
Memberikan ASI eksklusif pada anak dan pola asuh yang baik
Membiasakan berperilaku hidup bersih dan sehat

Walaupun Stunting adalah kondisi pertumbuhan yang dapat diperbaiki, penanganan dini mungkin tetap penting dilakukan. Dengan gizi seimbang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi anak. Maka dari itu argar kita terhindar dari penyakit Stunting perlu menjaga kesehatan tubuh, tentunya dengan cara memenuhi asupan nutrisi dan gizi ibu selama hamil dan menyusui, memberikan ASI eksklusif pada anak dan pola asuh yang baik, serta membiasakan berperilaku hidup bersih dan sehat terutama pada lingkungan sendiri. Yuk mari bersama cegah Stunting!.

Komentar dibawah ini