Datang Dari Allah, Buktikan Kepada Allah

0
0

Oleh : Agus Nurcholis Saleh

Penulis adalah : Peneliti dan Pengabdi dari Universitas Mathla’ul Anwar Banten

 

Pertama kali dalam sejarah hidup, hamba menemukan pemimpin yang visioner di level desa. Bertahun-tahun bersinggungan, tapi belum menemukan leader yang se-ide dan se-pemahaman, kecuali yang tadi berjumpa tidak begitu lama. Ia tidak sedang berteori seperti di ruang-ruang kuliah dan pelatihan. Tapi dari semangat pembicaraannya, ia sedang berbahagia dengan telah, sedang, dan akan dilakukan di wilayah desanya.

Apakah penulis terlalu berlebihan? Bisa jadi, tergantung sudut pandang dan bagaimana pembaca berperasaan. Semua perbedaan dipersilahkan, tapi permusuhan tidak direkomendasikan. Bisa jadi saya yang kurang pergaulan, sehingga tidak bisa menemukan yang setara dan jauh lebih hebat darinya. Bisa jadi juga karena saya terlalu lama dipenjara oleh apparatus nihilism. Bertahun-tahun keliling pedesaan, they are business as usual.

Lokasi desanya berada jauh dari pusat kota. Tapi jarak tidak menjadi permasalahan. Ketika usaha dilebihkan, maka hasil akan menyesuaikan. Kalau wilayah desanya ditelantarkan, Ia merasa gagal dalam kepemimpinan.

Apalagi jika sumber daya manusia yang menjadi korban. Oleh karena itu, ia mendorong warganya untuk berpendidikan tinggi tanpa harus bingung tentang biaya. Semua solusi bisa dicari jika se-wilayah desa mau berbagi.

Dia hanya seorang tamatan STM yang aktivitasnya pergi ke lautan. Tapi ia tidak menyebutkan sebagai nelayan atau satu profesi yang berhubungan dengan lautan. Semangat sekali ia bercerita tentang apa yang sudah dilakukan dan apa yang dicita-citakannya. Ia belum memberi nama konsepnya. Tapi beberapa produk yang dihasilkan jajarannya sudah dirancang, dikemas, dan siap edar untuk menambah pemasukan.

Ia memperlihatkan kepada kami buku kecil sederhana bernama ‘tamasya’. Masyarakat harus diberi kesempatan untuk (belajar) saving sekaligus investing n caring. Tamasya adalah singkatan dari tabungan masyarakat. Ia begitu bangga dengan 60 juta yang berhasil terkumpul dari tamasya. Angka itu harus berputar alias produktif. Maka dicarilah warga desanya yang siap maju dengan bantuan permodalan.

Sekarang tidak ada alasan, kecuali karena factor kemalasan. Setelah pulang dari pelatihan organic, saatnya membuktikan. Kemudian ditanya kesiapan, ada tiga orang yang menyatakan. Kemudian diantar ke toko pertanian. Mereka dipersilahkan untuk mengambil bahan-bahan yang diperlukan. Ketiga orang itu mengumpulkan semua peralatan dan perlengkapan. Setelah dihitung, biayanya hanya lebih dari tiga juta dan kurang empat juta. Tidak masalah.

Menjadi aparat itu amanat. Oleh karena itu jangan lupa kepada pemberi amanat. Masyarakat adalah secara syari’at. Tapi secara hakikat adalah Allah SWT. Oleh karena itu, seluruh aparat desanya harus mengikuti pengajian. Kalau tidak, mundur saja dari jajaran aparat desa. Kalau ingin memiliki wibawa, itu harus dimulai dari berserah diri pada Yang Kuasa. Pengajian adalah salah satu perwujudannya.

Panen semangka adalah produk perdana. Tapi hasilnya lebih dari menggembirakan. Hamper empat ton dihasilkan. Dengan harga jual Rp 4.000 per kilogram, maka 16 juta sudah menambah pemasukan. Padahal, modal yang dikeluarkan tidak lebih dari 4 juta. Itupun terbagi kepada tiga orang yang bersedia. Dua untuk sayuran, dan satu untuk buah-buahan. Semangka itulah yang dipilih untuk diwujudkan.

Betapa ia bangga sekali dengan pengalaman berorganik dengan aparat/jajarannya dan masyarakat yang mau diajak maju bersamanya. Tanah adalah pemberian Allah. Lahan sawah adalah ragam dari karunia Allah. Jika tidak diolah dengan benar, maka berdosalah manusia. Jika dosa itu harus dicari muaranya, maka kepala desa akan mendapatkan bagian terbesar dari penelantaran amanah Allah. Itulah yang terngiang-ngiang untuk menghijaukan alam.

Secara sayuran, kacang panjang bisa dipanen selama 28 kali petikan. Alhamdulillah, belipat ganda dari yang diperlakukan biasa. Ada juga terung ungu, cabe rawit yang subur, lalapan, dan lain-lain. Padahal tidak menggunakan pestisida atau obat-obat kimia lainnya. Kepala desa itu mengharamkan penyubur tanaman atau perlakuan lainnya selain menggunakan organisme alamiah yang biasa ada di sawah atau di tanah-tanah sekitar wilayah desanya.

Tanah yang keras adalah akibat dari keserakahan dan ketidaksabaran manusia. Padahal kejadian ini ada di sawah. Untuk bisa menjejakkan kaki sampai betis pun hamper agak mustahil. Pembajak sawah akan kesulitan untuk mengolah tanah di awal penanaman. Itu akibat residu dari pupuk kimiawi yang sudah biasa sekali digunakan oleh banyak petani. Entah berapa kali dalam setahun, tanah-tanah subur itu menjadi uzur.

Zaman orang tua dahulu, tanah sawah itu bisa selutut. Bukti bahwa banyak organisme yang hidup, dan rantai makanan masih terjaga lengkap, sehingga padi tidak akan kekurangan bahan makanan dan tidak akan diganggu oleh hewan-hewan yang terganggu. Saat kecil, hamba masih ingat, bersama-sama menanam padi, maka petani menanam ikan sambil menunggu panen. Saat waktunya tiba, tidak hanya padi yang dipanen, tapi juga ikan.

Sekarang, mari kita menikmati akibat-akibat dari kapitalisme yang jarang mempedulikan lingkungan. Polusi terjadi dimana-mana: air, tanah, dan udara. Bagi mereka, meskipun merusak lingkungan, yang penting pemasukan mengalami peningkatan, setidaknya tetap konstan. Manusia sering lupa bahwa pemberian Allah itu harus dirawat dan dijaga. Janganlah sekadar formalitas kemudian mengorbankan yang lebih substantive.

Awal perubahannya terjadi ketika padi dipaksa untuk segera bisa dipanen, maka dipangkaslah waktu 4 bulan menjadi tiga bulan. Dicarilah perangsang supaya padi cepat-cepat menghasilkan. Mungkin cita-citanya demi swasembada pangan, tapi percepatan yang dipaksakan akan menghasilkan akibat-akibat yang tidak masuk perhitungan. Atau kalau di pohon lain, pernah terdengar istilah hibrida. Itulah ‘drama’ menentang alam semesta.

Hamba is very exciting, tidak menduga dan tidak mengira. Inilah bibit-bibit kemajuan Indonesia. Di tengah isu keterpurukan, diantara kehebohan virus corona, dan di dalam politisasi kekuasaan, ternyata masih ada harapan. Tentu, tidak bisa sendirian memajukan Indonesia, tapi harus dilakukan secara sistematis, terencana, serta mengikis segala pesimis dan individualistis yang sering dipegang teguh oleh para pejabat Indonesia.

Allah adalah dzat yang selalu ada, meskipun tidak Nampak dalam pandangan mata atau terasa oleh indera. Keberadaan Allah adalah untuk kemaslahatan manusia, baik secara indera maupun secara jiwa. Oleh karena itu bacalah di setiap kesempatan yang ada. Bila perlu, buatlah patokan-patokan di mana saja Alquran harus dibaca, supaya badan, pikiran, dan jiwa tetap terjaga. Kalau tidak, sia-sialah hidup manusia.

Alquran adalah panduan hidup manusia. Allah telah menyediakan berbagai jawaban jika diprotes makhluk dunia. Tapi nanti Allah akan berbalik menitipkan pertanyaan. Pertanyaan itu tidak akan berkesudahan. Ayo latih dari sekarang, “Kapankah kita mau membuktikan kesempurnaan kita kepada Allah? Wallahu a’lam.

Komentar dibawah ini