Dengan Budaya Membangun Jiwa Desa

0
1


Oleh : Supadilah

Penulis adalah : Guru di SMA Terpadu Al-Qudwah

Zaman semakin modern. Orang yang tetap bertahan dengan adat dan budaya leluhur biasanya identik dengan kuno, ketinggalan zaman, dan terbelakang. Namun, anggapan ini terbantahkan oleh Ruhandi, kepala desa Warungbanten.

Letak desanya terpelosok. Perjalanan sekitar 5-7 jam dari pusat kota Rangkasbitung, ibukota kabupaten Lebak, Banten. Sekitar 10 jam dari Jakarta. Namun, meskipun pelosok, desa ini meraih berbagai penghargaan tingkat nasional.

Teranyar, prestasinya adalah mendapat Apresiasi Prestasi Ikon Pancasila Tahun 2020 dari BPIP bidang sosial entrepreneur. Ruhandi diganjar penghargaan ini lantaran konsistensinya memajukan adat di desanya.

Sederet penghargaan diraihnya yaitu desa dengan Prakarsa dan Inovasi Terbaik tahun 2018 dari Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), juara pertama perpustakaan terbaik tingkat Provinsi Banten tahun 2017, penghargaan Bupati Lebak atas dedikasinya sebagai pegiat Kampung Literasi di Kecamatan Cibeber pada 2017, dan penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Daerah Banten atas jasa serta dedikasinya dalam membangun masyarakat literasi di Provinsi Banten pada 2017.

Ruhandi telah berhasil menyingkirkan anggapan bahwa tetap memegang budaya hanya akan membuat terbelakang. Anggapan itu keliru. Justru dengan budaya itu masyarakat memiliki indentitas yang kuat. Kehidupan masyarakat pun semakin maju.

Salah satu gebrakan Ruhandi adalah mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TMB) Kuli Maca di desa Warungbanten. Sekilas TBM ini mirip dengan TBM lainnya. Apa yang membedakan TBM ini dengan TBM lainnya?

TBM Kuli Maca Desa yang didirikan pada tanggal 3 Juli 2016 ini bertempat di Rumah Adat Kaolotan Cibadak. Pendiriannya diprakarsai oleh Pemerintahan Daerah Kasepuhan, Tokoh Agama, pengusaha dan para intelektual muda di desa tersebut. TBM ini berdiri karena kontribusi warga. Buku-bukunya pun hasil dari donasi. TBM Kuli Maca juga berupa pojok baca di tempat-tempat umum seperti pos ronda, tempat ngumpul emak-emal, dan lainnya.

Di TBM Kuli Maca tidak hanya menyajikan buku saja tetapi ada pertunjukan kesenian pula. Pojok baca kuli kaca yang digemari anak-anak, remaja, dan orangtua. Akhirnya, TBM (dan membaca) sudah menjadi kebutuhan masyarakat.

Budaya menjadi identitas sebuah masyarakat. Nilai-nilai luhur budaya telah menjadikan bangsa ini kuat. Dewasa ini nilai budaya semakin terancam. Tergerus dengan arus globalisasi yang semakin deras.

Masyarakat sendirilah yang bertanggungjawab atas pelestarian budaya itu. Budaya akan tetap lestari pada masyarakat yang peduli dengan budayanya sendiri. Sebaliknya, budaya akan hilang dengan sendirinya jika masyarakat tidak lagi peduli. Generasi muda menjadi bagian dari yang memajukan budaya. Kehadiran teknologi memungkinkan budaya semakin berkembang lewat promosi budaya dengan film, media sosial, komunitas, atau internet.

Kemajuan budaya di akan membuat potensi desa semakin terangkat. Berbagai potensi tadi muncul dan berkembang seiring berkembangnya budaya. Dan jika budaya berkembang, maka pembangunan fisik di daerah tersebut dengan sendirinya akan maju. Dampaknya dapat menaikkan taraf hidup masyarat.

Hal ini harus dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi kaum muda dan tua. Dengan gotong royong pekerjaan pelestarian budaya ini akan menjadi semakin mudah.

Kebijakan pemerintah daerah menjadi sokongan penting bagi kemajuan budaya. Pemimpin yang peduli dengan budaya akan memberikan perhatian dengan porsi yang memadai dalam kebijakan-kebijakannya. Dukungan moril ini akan membuat semangat perangkat-perangkat di bawahnya. Apalagi jika disokong dengan anggaran yang cukup memadai. Dana milik desa bisa digunakan untuk program penguatan budaya. Pembangunan fisik memang penting namun pembangunan sumber daya manusia (SDM) lewat pembangunan budaya juga tidak kalah penting.

Budaya inilah yang nanti diwariskan kepada generasi selanjutnya. Jangan sampai semakin hari mereka tidak kenal lagi dengan budayanya. Tantangan besar bagi sebuah desa salah satunya pergerakan urbanisasi. Generasi mudanya semakin banyak meninggalkan desa mencoba peruntungan ke kota. Jika keadaan ini dibiarkan akan berpotensi desa kehilangan generasi mudanya. Ruhandi telah menjadi teladan bagi kita tentang cara menghidupkan desa dan membuat generasi muda bangga dengan desanya. Bung Hatta pernah berkata, ”Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta. Tapi, Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di desa.”

Komentar dibawah ini