“Endung Dingaranan Tapi Kedek Ngalakonan”

Oleh : Ocit Abdurrosyid Siddiq

 

 

Minggu ini, umat Islam Indonesia sedang euphoria; merayakan peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Perayaan dengan beragam cara itu, tidak terlepas dari tradisi, budaya, dan kebiasaan yang tumbuh di sekitarnya. Ada bacaan shalawat, marhaba, panjang mulud, festival, juga beragam macam perlombaan; lomba adzan, lomba seni qosidah, bahkan lomba karaoke. Karaoke lagu religi.

Mesjid dan musholla dihias. Pasang umbul-umbul, bendera, juga spanduk bermerk produk tertentu dari pihak sponsor. Bahkan ada yang membuat panggung di halaman mesjid, ditengah lapangan dan alun-alun, juga dijalan raya. Untuk merayakan maulid yang diisi dengan ceramah agama. Sound system dan organ tunggal pun disediakan oleh panitia.

Di beberapa tempat, bahkan dirayakan secara lebih semarak dan unik. Ada festival dengan melibatkan arak-arakan yang diiringi dengan alat musik; drumb band, gong, gamelan, bedug, rebana, seruling, dan peralatan musik lainnya. Ada yang bawa makanan dan minuman serta aksesoris lainnya. Dibentuk menyerupai gunung. Makanya disebut gunungan. Setelah diarak, lalu makanan dan minuman itu dibagikan. Bahkan diperebutkan.

Bila di Yogyakarta ada perayaan Sekaten yang dikaitkan dengan maulidan, maka di Banten, tepatnya di Ciomas, ada ritual pencucian benda-benda pusaka, khususnya golok. Golok menjadi ciri khas Ciomas, dan Banten pada umumnya. Ritual itu hanya dilakukan pada saat bulan rabiul awal, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hanya di bulan ini. Bulan mulud. Tidak di bulan yang lain.

Seluruh kemeriahan ini merupakan cara umat Islam Indonesia dalam rangka memuliakan Nabi Muhammad SAW. Cara yang tidak kita temukan di belahan dunia Islam lainnya. Cara orang Islam Indonesia. Cara orang Islam di Nusantara. Cara Islam Nusantara.

Tapi, ketika disematkan stigma itu, sebagian besar umat tidak terima. Karena, “Islam hanya satu. Islam yang rahmatan lil alamin. Tanpa embel-embel lain. Tak ada Islam Arab, Islam Eropa, Islam Amerika, Islam Nusantara. Tak ada Islam Nusantara. Yang ada hanya satu Islam. Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Orang yang kita peringati kelahirannya hari ini!”.

Inilah yang saya maksud sebagai dilema, bahkan mungkin inkonsisten. Dalam bahasa agama, inkonsisten itu bisa diartikan tidak istiqomah, tidak ajeg pendirian. Bertentangan antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Saya tak sebut munafik lho. Saya tidak bisa dan tidak biasa segampang itu menyematkan cap pada orang.

Definisi, arti, dan makna sudah kita dapatkan dari referensi lain. Saya tidak perlu lagi mengupas perkara Islam Nusantara dari sisi etimologi dan istilah. Saya lebih tertarik untuk memotret perilaku kita yang sejatinya itu merupakan perwujudan nyata dari yang selama ini (sebagian) kita tolak.

Karena faktanya, pengejawantahan dari kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk perayaan hari kelahirannya, dengan beragam cara khas Indonesia, Indonesia banget, Nusantara banget, itu sejatinya menunjukkan kekhasan dan keunikan bagi Islam yang ada di Indonesia.

Islam Nusantara; ditolak ditatar konsepsi, semangat diranah implementasi. Anda masih mengerenyitkan dahi? Dalam bahasa yang lebih sederhana itu, “Ari dingaranan kitu, endung! Pelebah ngalakonan, ja pang kedekna!”. Tah kitu!

Saya lihat anda sekarang sedang mengangguk dan tersenyum. Keom, doangna kaharti.

 

Endung : tidak mau
Dingaranan : dinamakan
Kedek : rajin, semangat, gigih
Ngalakonan : menjalani, melakukan
Pelebah : ketika, giliran
Ja : ketika
Pang : paling
Keom : senyum dikulum
Kaharti : Dimengerti.

 

Penulis adalah : Kader Mathla’ul Anwar, Alumni Perguruan Mathlaul Anwar Binuangeun.

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *