Inilah Rangkaian Solusi, Tangani Pendarahan Pasca Melahirkan

0
4

 

Oleh : Rina Octavia, S.ST., M.kes
Penulis adalah : Dosen STIKes Salsabila Serang

 

Perdarahan post partum/hemorrhage post partum (HPP) pada saat ini masih cukup tinggi menjadi penyebab kematian ibu untuk di Negara Maju dan Berkembang. Kelahiran bayi merupakan suatu proses kelahiran normal, namun terkadang juga dapat di temui kejadian morbiditas dan mortalitas maternal pada persalinan kala III. Penyebab utama HPP adalah atonia uteri, kelainan implantasi plasenta, dan laserasi jalan lahir. HPP dapat terjadi secara langsung disebut HPP Primer, dan terjadi setelah > 24 jam disebut HPP sekunder. HPP diartikan perdarahan > 500 cc pada persalinan normal dan > 1000 cc pada section sesarea.

Tugas seorang bidan atau tenaga kesehatan lainnya yang melakukan pertolongan persalinan hendaklah mengetahui estimasi jumlah perdarahan yang keluar pervaginam, seyogyanya kita hendaklah meluangkan waktu senggang untuk melakukan pengukuran estimasi jumlah perdarahan dengan menggunakan pembalut wanita biasa atau maternity ataupun underpad persalinan dengan cairan lain.(dapat juga dengan menggunakan bengkok pada berbagai ukuran).

Tujuan utama penanganan HPP adalah mengembalikan volume darah dan oksigenisasi, menghentikan perdarahan dengan menangani penyebab HPP. Ideal nya adalah dengan cara mengstabilisasi dahulu, namun terkadang hal ini juga harus dikerjakan bersamaan dengan penanganan perdarahannya.

Jika seorang bidan berada di desa yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan yang lengkap, maka seyogya nya bidan harus memiliki kompetensi dalam tahap mahir dan proficient. Bidan harus memiliki keterampilan melakukan penanganan HPP dengan cara Kompresi Bimanual Internal (KBI), Kompresi Bimanul Ekstenal (KBE), dan Kompresi Aorta Abdominal (KAA). Jika seorang bidan tidak berhasil menangani HPP setelah di lakukan KBI, KBE, maka sebaiknya dilakukan rujukan dengan pemasangan Kondon Kateter sampai tempat rujukan.

Ada temuan baru sejak tahun 2003, Sayeba Akhter dkk mengajukan alternatif baru dengan pemasangan kondom yang diikatkan pada kateter. Dari penelitiannya disebutkan angka keberhasilannya 100% (23 berhasil dari 23 HPP), kondom dilepas 24 – 48 jam kemudian dan tidak didapatkan komplikasi yang berat. Indikasi pemasangan kondom sebagai tampon tersebut adalah untuk HPP dengan penyebab Atonia Uteri. Cara ini kemudian disebut dengan Metode Sayeba. Metode ini digunakan sebagai alternatif penanganan HPP terutama sambil menunggu perbaikan keadaan umum, atau rujukan.

Cara pemasangan tampon kondom menurut Metode Sayeba adalah secara aseptik kondom yang telah diikatkan pada kateter dimasukkan ke dalam cavum uteri. Kondom diisi dengan cairan garam fisiologis sebanyak 250-500 cc sesuai kebutuhan. Dilakukan observasi perdarahan dan pengisian kondom dihentikan ketika perdarahan sudah berkurang. Untuk menjaga kondom agar tetap di cavum uteri, dipasang tampon kasa gulung di vagina. Bila perdarahan berlanjut tampon kassa akan basah dan darah keluar dari introitus vagina. Kontraktilitas uterus dijaga dengan pemberian drip oksitosin paling tidak sampai dengan 6 jam kemudian. Diberikan antibiotika tripel, Amoksisilin, Metronidazol dan Gentamisin. Kondom kateter dilepas 24 – 48 jam kemudian, pada kasus dengan perdarahan berat kondom dapat dipertahankan lebih lama.

Semoga kita semua sebagai tenaga kesehatan khususnya Bidan dapat terhindar dari komplikasi ibu bersalin dengan komplikasi HPP, dan dapat menurunkan Angka Kematian Ibu di Indonesia, khususnya Provinsi Banten.

Komentar dibawah ini