Isi Khutbah Jum’at : Mati Ketawa Ala Orang Bertaqwa

0
2

Oleh : KH. Abrurrahman Rasna

Penulis adalah : Pengurus Besar Mathla’ul Anwar

 

Jiwa manusia beriman itu diseru Allah tiga kali. Pertama menjelang kematiannya, kedua ketika hari kebangkitan. Dan ketiga di hari kiamat. Seperti difirmankan Allah:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan dirridhai. Masuklah ke dalam jasad hambaku, masuklah ke surga Ku.

Jiwa yang mutmainnah itu kata Imam At Thabari

هو المؤمن اطمأنت نفسه إلى ما وعد الله

Dialah seorang mukmin yang jiwanya tenang terhadap apa yang dijanjikan Allah.

Sedangkan imam Mujahid mengatakan, yaitu jiwa yang meyakini bahwa Allah itu Tuhannya lalu ia menjalankan ketaatan kepada Nya.

Kepada mereka itu diseru saat menjelang kematiannya dengan penuh kasih sayang Allah, karena sang khaliq meridhai atas perjuangan dalam hidupnya. Kepada mereka itulah diberikan ucapan salam saat maut menjemput. Sebagaimana firman Allah:

• الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32]

Orang-orang yang dimatikan malaikat dalam keadaan baik. Malaikat menyambutnya, “ selamat kepada kamu semua, masuklah ke surga berkat perbulatan yang kamu kerjakan”.

Pernahkah anda mengikuti pertandingan sepak bola, dan saat itu tim anda meraih kemenangan ?

Saat itu perasaan membuncah dalam setiap jiwa pemainnya. Senang, gembira, puas, bangga dan seabrek perasaan yang sulit diceritakan. Itulah rasa orang yang berhasil meraih kemenangan.

Manusia beriman menjelang kematiannya juga merasakan hal yang sama, bahkan kegembiraan itu tiada tara yang sulit diutarakan. Saking dahsyatnya kemenangan dalam pertarungan di kala hidup. Bertarung dengan syetan yang selalu berusaha menggelincirkan dari jalan yang benar. Maka puncak kegembiraan hidup justru terjadi saat menjelang kematian seseorang.

Imam Al Alusi dalam tafsirnya menggambarkan dalam sebuah sya’ir kematian orang-orang yang dapat meraih kemenangan hidup itu demikian.

ولدتك أمك يا ابن آدم باكيا … والناس حولك يضحكون سروراً
فاجهد لنفسك أن تكون إذا بكوا … في يوم موتك ضاحكاً مسرورا

Wahai manusia engkau dilahirkan ibumu dalam tangis
Sementara manusia disekilingmu tertawa gembira
Maka berjuanglah hingga orang-orang menangis
Di hari kematianmu di mana saat itu kamu terwawa gembira

Jiwa orang beriman tertawa gembira saat mati, karena ia berhasil dalam meraih kemenangan. Hidupnya penuh makna, pengabdiannya kepada Allah total sehingga ia Allah rela dengan keberadaanya. Demikian juga masyarakat senang dengan kehadirannya.

Karena itu di saat orang istimewa itu mati manusia menangisi sang tokoh, karena merasa kehilangan orang yang baik. Saat hidup kehadirannya membawa kebaikan. Dirasakan benar oleh mereka yang menyaksikan. Sehingga dikala tiada mereka menjadi kehilangan.

Seruan sayang kedua kepada jiwa yang muthmainnah terjadi ketika hari kebangkitan. Saat itu jiwa-jiwa itu diseru Allah agar kembali masuk ke jasad hamba-hamba yang istimewa. Yang mendapat kasih sayang Allah luar biasa di kala hidup maupun di saat berada di dalam barzakh.

Begitulah tafsir Ibnu Abas mengatakan.

عن ابن عباس، قوله:( يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ) قال: تردّ الأرواح المطمئنة يوم القيامة في الأجساد

Dari Ibnu Abas, firman Allah, “Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan puas dan diridha” Maksudnya, ruh yang tenang dikembalikan ke jasad di hari kiamat.

Pemahaman sejalan dengan Ibnu Abas juga dimiliki oleh Imam Ad Dhahak berikut.

الضحاك يقول في قوله:( فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي ) يأمر الله الأرواح يوم القيامة أن ترجع إلى الأجساد، فيأتون الله كما خلقهم أول مرّة

Ad Dhahak berkata terkait dengan firman Allah, “Masukllah ke dalam hambaku dan masuklah ke surgaku”. Maksudnya adalah, Allah memerintah kepada ruh di hari kiamat agar mereka kembali ke jasad-jasad sebagaimana Allah memasukkan para ruh itu di awal penciptaannya.

Bila merujuk kepada tafsir Ibnu Abas dan Imam Ad Dhahak di atas maka perjalanan manusia itu seperti ini.

Pertama, Allah menciptkan jasad manusia. Ketika umur empat bulan di dalam rahim ibunya lalu ruh dimasukkan.
Kedua, ketika manusia mati, ruh itu kembali kepada Allah. Dipisahkan dari jasadnya. Maka ucapan istirja’ Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun ( sesungguhnya kita milik Allah dan kembali kepada Allah). Yang kembali kepada Allah itu adalah ruh, adapun jasad tetap tinggal di kuburan. Habis di makan cacing dan jasad renik lainnya.

Ketiga, di hari kebangkitan. Jasad manusia kembali dibentuk seperti semula dan ruh dikembalikan kepada jasad-jasad tersebut. Pada saat itulah ada yang diseru ke surga ada yang digiring ke neraka.

Proses perjalanan setiap manusia sama, yang membedakan adalah ekpresinya. Yang bertaqwa akan mati penuh dengan kepuasan dan tertawa gembira sedangkan para pendurhaka meraung-raung disiksa.

Kemudian pada akhirnya, orang bertaqwa diseru dengan kasih sayang masuk surga berombongan. Sedangkan para durjana akan dihardik ke neraka, juga berombongan bersama kroninya.

Semoga kita dapat meraih kepuasan dalam kematian, memperoleh ridha dari Tuhan dan diseru dengan kasih sayang masuk surga Darus Salam.

Komentar dibawah ini