Ivermectin Dihentikan Di India, Diburu Di Indonesia

0
397

 


Oleh : Dr. apt. Yusransyah, M.Sc

Penulis : Wakil Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Provinsi Banten, Dosen Stikes Salsabila Serang, Bidang Farmasi Kadin Pandeglang

Pekan ini masyarakat kembali dibuat heboh dengan berita Ivermectin sebagai obat untuk covid-19. Sebelumnya hal yang serupa terjadi pula untuk obat Hidroklorokuin, yang merupakan obat anti malaria, juga diklaim dapat menyembuhkan pasien covid-19, sebelum pada akhirnya dihentikan penggunaannya karena tidak terbukti secara signifikan mengurangi jumlah kematian pasien covid-19 di rumah sakit.

Harapan Bisa Memberikan Manfaat, Namun Ternyata Bisa Merugikan Bagi Kesehatan
Sangat miris, ketika melihat pejabat di pemerintahan memberikan contoh saat mengonsumsi obat ini, bahkan ada suatu kelompok yang membagi-bagikan Ivermectin kepada masyarakat luas. Padahal suatu obat, sejatinya adalah seperti pisau bermata dua, jika tidak digunakan sesuai aturan, maka obat tadi bisa menjadi toksik/racun bagi masyarakat. Dan yang perlu diketahui, hingga saat ini belum ada obat yang 100% efektif untuk penyembuhan maupun pencegahan covid-19.

Dalam beberapa publikasi global, Ivermectin memang telah digunakan untuk penanganan covid-19, namun data tersebut baru sebatas data epidemiologi, belum ada data uji klinis yang bisa digunakan untuk mengevaluasi dan menilai serta memberikan izin obat ini untuk terapi covid-19. WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) pun dalam pedoman pengobatan covid-19 (per 31 maret 2021), menyatakan bahwa Ivermectin hanya diberikan izin untuk dilakukan uji klinis (belum izin edar). Uji klinis ini diperlukan untuk memperoleh data yang valid bahwa obat ini memang signifikan dalam mengobati covid-19. Sehingga bisa dikatakan bahwa belum ada data yang konklusif yang menyatakan bahwa obat ini bisa dan efektif untuk terapi covid-19.

Ivermectin kaplet 12 mg yang ada di Indonesia, hanya terdaftar untuk indikasi infeksi kecacingan/parasit (Strongyloidiasis dan Onchocerciasis). Obat ini diberikan dalam dosis tunggal 150-200 mcg/kg berat badan dengan pemakaian 1 (satu) tahun sekali. Obat ini juga merupakan golongan obat keras, dan penggunaannya (untuk infeksi cacing/parasit) harus dengan resep dokter dan di bawah pengawasan dokter. Bila digunakan sembarangan efeknya bisa fatal dan dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan efek samping, antara lain nyeri otot/sendi, ruam kulit, demam, pusing, sembelit, diare, mengantuk, dan Sindrom Stevens-Johnson.
Sebenarnya obat ini cara kerjanya lokal (dalam rongga usus), dan bukan sistemik dalam darah seperti halnya obat virus lainnya, dan dosis yang digunakan juga kecil sehingga jika digunakan untuk membunuh atau menghentikan perkembangan virus corona dengan jalur sistemik pada peredaran darah hingga penetrasi ke paru-paru, maka jumlah kadar obat harus lebih tinggi dan ini berdampak pada kemungkinan risiko efek samping yang jauh lebih besar.

Hal serupa ditemukan pada data farmacovigilance (data evaluasi laporan penggunaan obat) yang dirilis WHO, bahwa efek samping yang telah dijelaskan di atas adalah efek samping dari Ivermectin dosis kecil (untuk infeksi kecacingan/parasit), sehingga bisa dibayangkan kemungkinan efek samping yang terjadi jika dosisnya ditingkatkan.

Peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan
Badan POM bertugas melindungi masyarakat, dan menjamin kualitas, efektivitas dan serta keamanan suatu obat, baik dari dari proses awal (pre market) hingga obat tersebut telah digunakan (post market). BPOM telah memberikan ijin untuk uji klinis Ivermectin, dimana saat ini ijin yang beredar adalah sebagai obat cacing (infeksi kecacingan) yang penggunaaannya sekali setahun (dosis tunggal) dan termasuk obat keras, yang memerlukan resep dokter, dengan sediaan 12 mg/kaplet.
BPOM dan Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa penggunaan Ivermectin untuk indikasi covid-19 hanya digunakan dalam kerangka uji klinis. Hal ini sejalan dengan telah diterbitkannya Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) terhadap Ivermectin yang telah dikeluarkan oleh BPOM pada tanggal 28 Juni 2021 di 10 rumah sakit yang ditunjuk.

BPOM dan Kementerian Kesehatan juga telah menyampaikan bahwa obat ini tidak bisa diperjualbelikan lewat jalur online dan tanpa resep dokter. Apabila masyarakat membutuhkan obat ini tanpa uji klinis, dokter dapat memberikan obat dengan memperhatikan penggunaannya sesuai dengan protokol uji klinis yang tidak disetujui.

Sudah Ditarik di India
Otoritas Kesehatan India, DGHS, menghapus Ivermectin bersamaan dengan Doxycycline dari daftar obat covid-19. Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India mengeluarkan penggunaan Ivermectin dalam daftar obat covid-19 yang digunakan di sana. Mereka menilai penghapusan ini lantaran belum ada studi lebih jauh mengenai khasiat dan manfaat dari obat-obatan ini.

Selain India, Otoritas Pangan dan Obat-obatan Amerika Serikat (FDA) juga menghimbau agar publik menghindari penggunaannya dengan alasan yang sama. Di AS, obat ini digunakan untuk membasmi parasit pada hewan.

Masyarakat Diminta Bersabar
Masyarakat diharapkan kerja samanya untuk memantau dan menunggu hasil dari uji klinis yang akan dilakukan. Masyarakat juga harus lebih waspada dan mengetahui bahwa obat ini belum bisa digunakan kecuali yang terdaftar pada uji klinis dan obat ini belum terbukti efektivitasnya untuk terapi apalagi pencegahan covid-19.

BPOM senantiasa memberikan edukasi yang sesuai kepada masyarakat mengenai penggunaan Ivermectin, karena terdapat iklan yang tidak sesuai ketentuan, yaitu tidak objektif, lengkap, dan menyesatkan. Sebagai contoh adalah iklan obat Ivermectin yang mencantumkan indikasi untuk pengobatan covid-19, dapat menyesatkan masyarakat karena belum ada uji klinis dan persetujuan dari BPOM untuk indikasi tersebut.

Para tenaga kesehatan dimohon bisa melakukan edukasi kepada masyarakat, bahwa obat ini tidak bisa digunakan untuk pencegahan covid-19. Promosi obat keras hanya diperbolehkan melalui media Kesehatan. Masyarakat juga harus memahami bahwa obat keras harus diperoleh dengan resep dokter, yang didapatkan melalui konsultasi kepada dokter baik secara langsung maupun melalui telemedicine. Pembelian obat keras harus dilakukan di sarana pelayanan kefarmasian yang memenuhi kaidah CDOB (cara Distribusi Obat yang Baik) dan diserahkan oleh Apoteker sesuai dengan ketentuan.

Email Penulis : yusranfarmasis@gmail.com
Contact Person : 0818 0275 9919

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here