Jalan Dakwahku Berlumpur

0
28

Oleh : Moh Ramsudin Fajri

Penulis adalah : Guru MI AL-HUDA
Kp Rancecet Desa Rancapinang Cimanggu Pandeglang – Banten

 

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(Qs. Ali ‘Imran :104)

Perjalanan dakwah itu tidak ada yang mudah, semuanya itu perlu perjuangan bahkan pengorbanan harta, jiwa dan raga, kesemuanya itu  harus dikerahkan semaksimal mungkin agar ada manusia itu betul-betul mengenal dirinya dan terlebih mengenal RobbNya. Kesemuanya itu menjadi kewajiban bagi kita semua untuk mengajak ummat manusia kejalan yang benar.

Liku-liku kehidupan memang perlu dihadapi dengan matang dan kesabaran yang sangat luar biasa, jika kita menyerah dengan kedaan atau kondisi yang dihadapi berarti girohnya hampir mati, maka giroh itu harus dibangkitkan sebagaimana layaknya HP yang ngedrop perlu dicas.

Perjalanan saya hari ini bukan lagi ngecas seperti HP yang ngedrop, tapi betul betul harus menambah daya batrai agar tidak ngedrop. bagaimana tidak, setelah sampai ditempat tujuan saya menemukan hal sangat luar biasa yang menurut saya perlu diperbaiki. jalan yang berlumpur masih bisa kita lalui, tidak bisa dengan roda empat pake motor, tidak bisa pake motor ya kita jalan kaki.

Ikhwan saya sampai ngomong, tadz bagaimana kita nanti mempertanggung jawabkan yang hari ini kita temukan dilapang kepada Muzakki. mendengar pertanyaan dari ikhwan saya tadi, saya terdiam seribu bahasa bahkan duaribu bahasa, karena sebelumnya hal seperti ini tidak pernah saya duga.

Singkat cerita ba’da jum’at saya dan para ikhwan relawan duduk berdiskusi dengan kesimpulan, bahwa ini bukan urusan kita, kita datang kesini hanya menyampaikan kebaikan kepada mereka dengan cara membantu mereka membangunkan jembatan gantung, karena ini adalah tujuan kita udah titik.

Tapi persoalan ini semakin menggelitik pikiran saya, maka saya harus mencari cara yang baik agar diterima oleh mereka, kalau urusan duniawi pasti mereka terima bahkan terima kasihnya juga berkali kali, tapi kalau sudah persoalan akidah jelas saya harus putar otak semaksimal mungkin.

Maka dengan demikian saya menela’ah Firman Allah Ta’ala, ” ajaklah manusia itu kejalan TuhaNya dengan cara hikmah,Mauidzoh dan Mujadalah dengan baik”.

Apa sih Hikmah itu ?
Hikmah itu bijaksana atau nasihat baik yang diambil dari sebuah peristiwa, kejadian dan kisah-kisah yang dapat merubah pola fikir dan prilaku seseorang menjadi baik. berarti secara fitrah manusia itu bisa menerima kebenaran jika disentuh sisi nuraninya, karena nurani tidak bisa berbohong.

Lalu apa mauidzoh itu ?
Mauidzoh disini saya artikan sebagai bimbingan pendidikan, nasehat atau peringatan kepada seseorang atau kelompok tertentu dengan cara yang baik dan dapat diterima dengan baik pula.

Bagaimana dengan mujadalah ?
mujadalah itu saya artikan dengan bahasa yang sederhana sajah yaitu argumentasi atau diskusi dengan yang lainnya untuk mengemukakan bukti secara otentik baik dalil kauliyah maupun dalil kauniyyah.
hal ini menjadi reperensi bagi saya dan kita semua dalam menyampaikan kebaikan-kebaikan kepada sesama ummat, tentunya dengan cara berpijak kepada Ayat-ayat Allah azza wajalla.

Akhirnya saya berkesimpulan bahwa mereka harus saya ajak Bermujadalah, karena dengan mujadalah yang baik satu sama lainnya bisa saling menerima, semoga demikian. maka di akhir tulisan ini saya sampaikan juga ayat Al-Qura’an sebagai barometer untuk menyampaikan kebaikan kepada siapapun.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri. (QS.Fussilat : 33 )

semoga tulisan ini bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya yang membaca tulisan ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here