Jangan Mudah Memvonis

0
2

Oleh : Supadilah
Penulis adalah : Tenaga Pengajar di Yayasa Al-Qudwah

 

Pandemi telah berlangsung setengah tahun. Berbagai pelajaran banyak didapat darinya. Setiap orang bisa mengambil pelajaran yang berbeda sesuai profesi, lingkungan, dan paradigmanya.

Dalam sebuah diskusi, seorang guru menyampaikan unek-uneknya. Kesal karena sekolah belum diizinkan buka untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Padahal di tempatnya, sekolah berada di zona hijau. Bukan zona kuning apalagi zona merah. Anehnya, pemerintah daerah setempat tidak memberikan lampu hijau bagi sekolah untuk buka. Beliau si guru menuduh pemerintah hendak mematikan sekolah-sekolah swasta yang ‘kehidupannya’ bergantung pada dana orangtua. Guru tadi merupakan guru di sekolah swasta.

Namun, tidak hanya guru itu saja yang mengeluhkan atau memaksa agar sekolah kembali buka. Para orangtua di berbagai daerah juga sudah mendesak agar sekolah kembali dibuka. Mereka sudah tak sabaran. Ngotot. Entah karena sudah tidak sabar mendampingi anaknya belajar di rumah atau karena memang anaknya tidak ingin anaknya lama-lama di rumah tidak mendapatkan pendidikan yang seharusnya.

Padahal, mereka dulu begitu getol memaksa pemerintah agar lockdown guna mencegah penyebaran Covid-19 lebih luas. Setali tiga uang dengan warga yang menyerukan lockdown. Betapa keras mereka mengkritik pemerintah yang katanya lemah, tidak tegas, dan lebih mementingkan urusan ekonomi sehingga tak kunjung menetapkan lockdown.

Maka bisa dimaklumi banyak orang atau publik figur di beberapa daerah yang menyerukan tentang Covid-19 yang merupakan sebuah konspirasi yang dilakukan oknum tertentu. Bahwa Covid-19 tidak ada, dan sejenisnya. Tidak mengesampingkan
karena faktor ekonomi. Terutama di daerah yang menggantungkan dari sektor pariwisata. Pandemi mengakibatkan pariwisata lumpuh. Tak boleh ada pengunjung. Akhirnya, masyarakat dapat pemasukan dari mana lagi?

Memenuhi keinginan banyak orang itu sulit. Bahkan hampir mustahil. Tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada banyak variabel yang dipertimbangkan.

Manusia memang banyak kehendak. Maunya ini itu. Saat ini pengen begini, bisa jadi berubah keinginannya di lain waktu.

Bahkan, Tuhan pun seakan mau diaturnya. Minta cuaca panas. Sudah dikasih panas, minta hujan. Sudah dikasih hujan, minta panas lagi. Pusing.

Kehidupan seperti hikayat ayah, anak, dan seekor keledai ini. Ayah dan anak ini sedang dalam perjalanan. Mereka menuntun keledai kecil. Di jalan mereka berpapasan dengan penduduk dari desa. Penduduk berkomentar, “Sayang sekali, sudah memiliki hewan tunggangan namun tidak digunakan.”

Mendengar komentar itu, kemudian si ayah menyuruh anaknya untuk menaiki keledai kecil tersebut dan melanjutkan perjalanan. Hingga beberapa saat berpapasanlah mereka dengan orang lain di jalan desa. Usai saling bersapa, berkatalah orang itu yang melihat seorang anak menunggangi keledai sedang ayahnya berjalan kaki. “Dasar anak tak berbakti, ayahnya berjalan kaki sedangkan ia duduk di atas keledai” ujarnya.

Mendengar komentar itu, si ayah menggantikan anaknya menaiki keledai kecil tersebut dan melanjutkan perjalanan. Hingga beberapa saat di perjalanan, mereka kembali disapa oleh orang yang berpapasan di tengah jalan.

“Hai bapak, engkau egois sekali. Anaknya dibiarkan berjalan kaki sedangkan kamu enak-enakan menaiki tunggangan” ujar orang itu. Kali ini, sang ayah menaikkan anak bersamanya di atas keledai. Akhirnya mereka berdua menaiki keledainya.

Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan meski agak lamban kecepatannya. Saat berpapasan dengan orang, mereka dikomentari, “Kasihan keledai itu. Mereka menyiksanya.”

Hikmah dari hikayat itu adalah akan banyak komentar orang atas yang dilakukan. Satu hal yang kita lakukan bisa dianggap keliru oleh orang. Sebab mereka tidak tahu apa alasan kita melakukannya. Perbuatan baik yang dilakukan belum tentu mendapatkan respon yang baik pula.

Akan mustahil bisa memuaskan semua orang. Pasti selalu ada kekurangannya. Abaikan komentar jika tidak berguna untuk kita. Boleh saja mempertimbangkan komentar orang lain untuk mengambil kebaikannya supaya lebih baik lagi.

Dari sepenggal cerita di atas, menghikmahi kita pada sebuah pemahaman dimana selama dinilai oleh manusia tidak akan pernah baik dan selalu salah. Meskipun kalimat dari beragam banyak komentar yang terdengar oleh kita tidak memiliki arti maupun maksud tertentu, kita seolah menafsirkannya menjadi suatu hal yang penting dan layak untuk dibenahi dalam diri kita. Akan tetapi, sebagaimana apapun kita membenah dan memperbaiki bahkan menuruti apa kehendak orang lain tidak akan cukup memuaskan keseluruhan orang di sekitar kita.

Adalah wajar jika ada yang pro dan kontra, setuju dan tidak setuju dengan kita. Tapi, siapa yang paling bertanggung jawab dengan hidup kita? Tentu kita sendiri.

Komentar dibawah ini