Khutbah Jumat : Aktifitas Di Masa Sulit (Era New Normal)


Oleh : KH. Abdurahman Rasna

Penulis adalah : Kiyai, Penceramah Agama, Anggota Majlis Fatwa Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA).

Penulis adalah : Kiyai, Penceramah Agama, Anggota Majlis Fatwa Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA)

KHUTBAH I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Ma’asyirol muslimin rohimakumullooh.

Alhamdulillah hari ini kita masih bisa menyelenggarakan Sholat Jumat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Maka sepatutnya kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memanjangkan umur kita dan menganugerahkan demikian banyak nikmat kepada kita. Semoga Allah menjaga kita semua dan segera mengangkat virus corona dari dunia.

Kita berada di masa yang diistilahkan new normal. Adaptasi kenormalan baru. Meskipun aktifitas mulai berjalan, masih banyak kendala dan keterbatasan. Sebagian masih bekerja dari rumah (WFH, work from home), pendidikan juga diselenggarakan dengan cara belajar dari rumah (LFH, learn from home). Pandemi memang merupakan masa sulit.

Lalu apa yang perlu menjadi agenda khusus kita di masa sulit? Beruntunglah kita sebagai umat Islam. Bertabur demikian banyak contoh dan keteladanan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Termasuk bagaimana beliau menghadapi masa sulit. Setidaknya, ada tiga amal yang kita dapatkan dari agungnya keteladanan beliau.

PERTAMA,
Memantapkan Iman dan Kesabaran.
Ma’asyirol muslimin rohimakumullooh.

Agenda utama kita di masa sulit, termasuk masa new normal ini, adalah meningkatkan iman dan kesabaran. Wabah atau pandemi, yang dalam bahasa hadits disebut tha’un, merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya ia (thaun) adalah adzab yang dikirim Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Lalu Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (HR. Bukhari)

Ia menjadi ujian, yang harus disikapi dengan meningkatkan iman dan kesabaran. Dimulai dari keyakinan bahwa kita dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Demikian pula segala yang kita miliki, semuanya adalah pemberian Allah. Dialah pemilik sejati yang sewaktu-waktu bisa mengambilnya kembali.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al Baqarah: 155-156)

Termasuk di antara tanda kesabaran di masa pandemi, meyakini bahwa tidak ada yang bisa menimpa kita kecuali apa yang ditetapkan Allah. Keyakinan ini menjadi salah satu syarat mendapat pahala mati syahid di masa pandemi. Sebagaimana lanjutan hadits di atas:

فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِى بَلَدِهِ صَابِرًا ، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ

“Tidak seorang pun hamba yang ditimpa thaun lalu tetap tinggal di negerinya dalam keadaan sabar dan mengetahui tidak ada yang menimpa dirinya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka baginya seperti pahala mati syahid.” (HR. Bukhari)

KEDUA,
Menumbuhkan optimisme.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Amal kedua yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di masa-masa sulit adalah menjaga optimisme. Beliau mengajarkan sikap optimis kepada para sahabat.

Misalnya saat terjadi perang Ahzab. Saat itu, 10.000 pasukan koalisi (ahzab) gabungan dari kafir Quraisy, Ghatafan dan kabilah-kabilah lain hendak menyerbu Madinah. Padahal di Madinah, jumlah seluruh laki-laki hanya ada 3.000 orang.

Maka untuk menahan laju serangan pasukan ahzab, dibuatlah parit besar (khandaq) atas usulan Salman Al Farisi. Perang itu kemudian juga dikenal dengan nama perang khandaq.

Masa-masa membuat khandaq adalah masa-masa sulit. Waktunya sangat terbatas karena pasukan ahzab sudah bergerak dan mengepung Madinah. Demikian sulitnya waktu itu, sampai-sampai tidak ada waktu sholat. Hingga pernah sholat Zhuhur, Ashar, Maghrib dan isya’ dijamak dalam satu waktu.

Semua sahabat turut bekerja keras membangun parit pertahanan. Menggali dan menghancurkan bebatuan. Saat menghadapi batu besar yang mereka tidak mampu memecahkannya, para sahabat meminta bantuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah memang andalan dalam segala hal, termasuk kekuatan.

Maka Rasulullah memukul batu itu dengan kapak. Ketika berhasil memecahkan sepertiganya, memancar kilatan api dan beliau mengucapkan, “Allaahu akbar! Aku telah diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah, sekarang saya melihat istana yang merah.”

Beliau melanjutkan dengan pukulan kedua. Keluar kilatan api saat beliau berhasil menghancurkan sepertiga berikutnya. “Allaahu akbar! Aku telah diberi kunci-kunci Persia. Demi Allah, saya melihat istananya yang putih.”

Beliau melanjutkan dengan pukulan kedua. Kembali keluar kilatan api saat beliau berhasil menghancurkan batu itu. “Allaahu akbar! Aku telah diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah, kulihat pintu-pintu Shan’a dari tempatku ini.”

Lihatlah bagaimana Rasulullah di masa sulit yang untuk buang air kecil saja tidak sempat, beliau mengabarkan kemenangan demi kemenangan Islam. Lihatlah bagaimana Rasulullah di masa sulit yang untuk sholat saja harus dijamak, beliau mengabarkan penaklukan demi penaklukan.

Optimisme para sahabat juga bangkit. Jangka pendek, Allah memenangkan mereka di perang Ahzab itu. Jangka panjang, Syam, Persia dan Yaman semuanya futuh. Yaman menjadi negeri muslim dengan dai utamanya Mu’adz bin Jabal. Syam yang semula dikuasai Romawi kemudian menjadi negeri Islam khulafaur rasyidin. Bahkan Persia taklut dalam perang qadisiyah di masa Umar bin Khattab.

Optimisme ini harus selalu hadir. Harapan itu masih ada. Dan dua ayat dalam surat Al Insyirah menjadi inspirasi kita.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al Insyirah: 5-6)

Optimis ini harus hadir dalam jiwa kita. Bahwa pandemi akan berlalu. Kemudahan akan datang. Pertolongan Allah akan tiba.

KETIGA,
Meningkatkan kapasitas

Jamaah Jumat rohimakumullooh.

Amal ketiga yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di masa-masa sulit adalah meningkatkan kapasitas. Kita bisa melihat saat beliau menghadapi masa sulit di Makkah. Saat terjadinya pemboikotan.

Waktu itu, Bani Hasyim yang melindungi Rasulullah diboikot oleh kafir Quraisy. Diliputi amarah permusuhan kepada Rasulullah dan kegeraman atas perlindungan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, orang-orang musyrikin Makkah berkumpul di kediaman Bani Kinanah pada Muharram tahun ketujuh kenabian. Mereka membuat kesepakatan bersama. Sebuah pakta perjanjian yang penuh kezaliman. Memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.

Fakta perjanjian itu ditulis oleh Baghid bin Amir bin Hisyam pada sebuah shahifah. Isinya adalah poin-poin sebagai berikut:

  • Tidak boleh melakukan jual beli dengan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib
  • Tidak boleh menikah dengan mereka
  • Tidak boleh mengunjungi, bertamu, berbicara dan berinteraksi dengan mereka
  • Tidak boleh menerima perjanjian damai dengan mereka
  • Tidak boleh berbelas kasihan kepada mereka.

Pemboikotan membuat Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib mengalami penderitaan yang mengenaskan. Mereka terpaksa memakan apa saja demi bertahan hidup. Termasuk dedaunan dan kulit binatang. Pernah mereka menemukan kulit unta. Lalu dibersihkan dan dibakar, setelah itu dilunakkan agar bisa disimpan dan dijadikan makanan untuk tiga hari.

Dalam kondisi seperti itu, Rasulullah terus mentarbiyah para sahabat. Jadilah kapasitas para sahabat nabi meningkat pesat. Rasulullah juga tetap melanjutkan dakwahnya, memanfaatkan setiap waktu untuk mengajak manusia hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semestinya, masa-masa sulit saat pandemi juga kita isi dengan meningkatkan kapasitas. Ketika kita banyak di rumah dan banyak waktu luang, pelajari hal-hal baru. Banyak tilawah, banyak tadabbur, banyak membaca, bahkan kalau perlu ikuti pelatihan-pelatihan online. Kelak ketika masa kembali normal dan muncul banyak peluang, kita sudah siap menyambutnya dengan kapasitas kita.

أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْاللَّهَ الْعَظِيْمِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم

KHUTBAH KE II

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Ma’asyirol muslimin rohimakumullooh.

Semoga kita semua dimudahkan Allah dan senantiasa dijaga-Nya. Menjadi hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa serta meningkatkan kesabaran.

Di masa pandemi ini, kita tetap optimis dan menjaga optimisme. Serta Allah mudahkan kita untuk meningkatkan kapasitas sehingga kelak kita keluar dari masa sulit menjadi pribadi-pribadi yang siap berkontribusi lebih untuk umat dan peradaban.

Dan semoga dengan tiga amalan tadi, Allah merahmati kita dan kelak memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Marilah kita berdoa dengan khusyu’ memohon pertolongan Allah Subahanahu wa Ta’ala.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ . رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ . رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
@rras, Kobong Santri BBR,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *