Khutbah Jum’at : Doa yang Tidak Terijabah

0
108

Oleh : KH. Abdurahman Rasna

Penulis : Kiyai, Penceramah Agama, Anggota Majlis Fatwa Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA), Anggota Komisi Da’wah MUI Pusat.

Berdo’a merupakan salah satu amaliyah yang setiap hari dilakukan, minimal selepas melaksanakan shalat fardhu. Do’a menjadi salah satu cara pendekatan diri makhluk kepada Allah swt.
Do’a menjadikan hati orang yang berdo’a lebih tenang.
Realitasnya, mengapa banyak orang yang berdo’a memohon kepada Allah SWT tetapi tak kunjung diijabah, sehingga tidak sedikit di antara kita yang bertanya-tanya, apakah Allah tidak memenuhi janji-Nya? Sebab salah dalam berdo’a, atau ada sesuatu yang menghalangi do’a-do’a kita?

Oleh sebab itu, materi khutbah jum’at kali ini membahas tentang “Mengapa DO’A TIDAK TERIJABAH?
Materi khutbah singkat ini diketengahkan untuk menjadi bahan muhasabah kita.
Semoga bermanfaat..

Khutbah pertama

الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ   أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Alhamdulillah pada kesempatan Jumat yang mulia ini, kita masih senantiasa diberikan rahmat hidayah serta inayah oleh Allah SWT sehingga kita diberikan kemudahan untuk mengungkapkan rasa syukur dengan melaksanakan rangkaian ibadah shalat Jumat di masjid ini dalam keadaan sehat walafiat.

Sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar keimanan dan sebaik-baik ketakwaan, minimal dengan jalan imtitsalu awamirillah wajtinabu nawahihi yaitu menjalankan apa pun yang diperintahkan oleh Allah SWT dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menjauhi apa pun yang dilarang-Nya, sebab dengan jalan takwa inilah Allah menjanjikan kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya sebagaimana terfirman dalam Al-Qur’an.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu” (QS Al-Hujurat: 13).

Jama’ah Jumat rahimakumullah,
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 186:

أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Artinya, “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku.”

Namun realitasnya, mengapa banyak orang yang berdo’a memohon kepada Allah SWT tetapi tak kunjung dikabulkan, sehingga tidak sedikit di antara kita yang bertanya-tanya, apakah Allah tidak memenuhi janji-Nya? Sebab salah dalam berdo’a, atau ada sesuatu yang menghalangi do’a-do’a kita?

Jama’ah Jumat rahimakumullah,

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kiranya kita bisa bermuhasabah melalui kisah yang disampaikan langsung oleh Rasulullah saw:

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ

Artinya,“Kemudian beliau (Rasulullah) menyebutkan ada seseorang yang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berseru ‘Ya Rabbi ya Rabbi (Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’), padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana do’anya akan diijabah” (HR Muslim).

Jika kita mau merenungkan kisah di atas betapa lelaki yang diceritakan Rasulullah sebenarnya sudah sangat memenuhi empat kriteria dikabulkannya do’a, yaitu orang yang dalam perjalanan jauh, baju yang kusut dan kondisi yang lelah, menengadahkan kedua tangan ke langit, dan kesungguhan berharap kepada Allah dengan mengucapkan Ya Rabb berulang kali.

Namun ternyata hal itu belum cukup untuk menjadikan do’anya diijabah.    Maka, hadits ini memberikan isyarat yang sangat jelas bahwa ada hal-hal yang bisa menghalangi terijabahnya do’a yaitu mengonsumsi sesuatu yang haram berupa makanan, minumam, atau bahkan pakaianpakaian serta gaya.

Hal ini senada dengan yang diperintahkan Allah kepada orang-orang yang beriman agar mengonsumsi yang halal.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya” (QS. Al-Baqarah: 172).

Berkaitan dengan hal tersebut, ada juga salah satu riwayat bahwa Sa’ad bin Abi Waqash pernah meminta kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mohonkan kepada Allah agar do’aku musatajab (dikabulkan).” Rasulullah berkata:

يَا سَعد، أَطِبْ مَطعَمَكَ، تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّ عوَة

Artinya,“Wahai Sa’ad, perbaiki makananmu (pilihlah yang halal), niscaya doamu mustajab (dikabulkan).”

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Demikianlah indahnya syariat Islam. Ia mendorong penganutnya untuk senantiasa mengonsumsi yang baik dan meninggalkan yang haram. Hal itu sekaligus menjadi syarat penting terkrijabahnya a do’a Dengan kata lain, barang siapa yang menghendaki doanya dikabulkan maka harus memperhatikan sisi kehalalan, baik makanan maupun pakaiannya.

Semoga Allah SWT emberikan kemudahan kepada kita agar mendapatkan rezeki yang halal dan juga baik, sehingga amalan kita diterima oleh-Nya. Sebab Allah adalah Dzat Yang Mahabaik dan tidak menerima apa pun kecuali hanya yang baik.

بارك الله لي ولكم في القراءن الكريم ونفعني واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلا وته انه هو السميع العليم
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khuutbah kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here