Khutbah Pendek Idul Fitri 1441 H Untuk Sholat Ied Di Rumah : “Taqwa ; Kesadaran Kehadiran Tuhan” 

Oleh: Destika Cahyana

 

Khutbah I
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum Wr. Wb

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أما بعد،

فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ،
قَالَ تَعَالَى: إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ، اُدْخُلُوْهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ (الحجر: ٤٥-٤٦)

Keluargaku yang berbahagia,

Walaupun saat ini kita dalam masa pandemi, tetapi alhamdulillah, pagi ini kita masih diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan di hari kemenangan yang penuh kebahagiaan.

Semoga kita semua dianugerahi umur yang panjang sehingga dapat kembali menikmati ibadah pada Ramadhan akan datang.

Keluargaku yang berbahagia.

Salah satu tujuan berpuasa adalah seperti tertulis dalam Al Baqarah 183:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

Lalu apa arti taqwa? Definisi yang paling umum yang sering kita dengar tentang taqwa adalah: “melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.”

Sebelum kita membahas definisi taqwa sebetulnya ada 3 tingkatan taqwa yaitu taqwa orang awam, taqwa orang khusus, dan taqwa orang khusus yang lebih khusus.

Pertama, taqwa orang awam: yaitu kondisi seseorang yang terselamatkan saja dari kekafiran sehingga berada dalam zona keimanan.

Kedua, taqwa orang khusus: yaitu taqwa orang yang diberi kemampuan menjalankan perintah Allah. Perintah itu ada 2 yaitu perintah untuk mengerjakan dan perintah untuk meninggalkan.

Perintah untuk mengerjakan dengan dalil yang tegas disebut wajib. Perintah untuk mengerjakan dengan dalil yang tidak tegas disebut sunah.

Sebaliknya perintah untuk meninggalkan dengan dalil tegas disebut haram. Perintah untuk meninggalkan dengan dalil tidak tegas disebut makruh.

Bila tak ada perintah dan tak ada larangan namanya mubah. Bidang-bidang mu’amalah sebagian besar berada dalam wilayah mubah. Sehingga jangan menyulitkan mencari-cari dalil misalnya bolehkah saya minum air dari kulkas.

Pada dasarnya dalam urusan mu’amalah semua boleh sepanjang tidak ada dalil yang melarang. Berbeda dengan urusan ibadah vertikal harus ada dalil yang memerintahkan.

Itu yang disebut taqwa orang khusus yang diberi kemampuan menjalankan perintah yang diwajibkan dan meninggalkan yang diharamkan.

Ketiga, taqwa khusus yang lebih khusus. Yaitu taqwa orang-orang yang diberi kemampuan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak penting, tidak berguna, atau tidak manfaat. Taqwa ini biasanya milik para rasul, nabi, wali, dan ulama.

Manusia kebanyakan seperti kita dapat mencapai taqwa tingkat kedua, yaitu taqwa khusus sudah sangat bagus.

Terakhir, untuk memudahkan dan menyimpulkan uraian di atas. Ada baiknya kita melihat definisi taqwa seperti yang diungkap Nurcholis Madjid.

Menurutnya, taqwa adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan sebagaimana dihasilkan oleh ihsan dalam beribadah.

Taqwa itu bagi kita sangat penting karena menjadi penentu kemuliaan manusia di sisi Allah sesuai dengan hadist Rasulullah:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
أَيُّ النَّاسِ أَكْرَمُ؟

قَالَ: “أَكْرَمُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاهُمْ”

Artinya:
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah manusia yang paling mulia?”

Beliau menjawab: “yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertakwa.”” (HR. Bukhori).

Keluargaku yang berbahagia,

Demikian khutbah pertama yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah II
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ،

اَللَّهُمَّ إِنّا نعُوْذُ بِكَ مِن فيروس كورونا، وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ. بسم الله، نعوذ بعزة الله وقدرته من شر ما نجد ونحاذر.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *