Kisah Pengayuh Becak Mencari Nafkah, Belasan Tahun Merantau di Labuan

0
1

Pandeglang, Badakpos.com – Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, banyak cara yang dilakukan manusia. Hal ini juga yang dilakukan salah satu warga dari kabupaten serang Banten bernama Kawi, rela jauh dari keluarga untuk mencari nafkah di Labuan sebagai tukang (pengayuh) becak , dikatakannya pada senin (27/7/2020).

Dilanjutkan Kawi, ia merantau ke labuan sejak 1996 sebagai tukang becak, tetapi setahun kemudian merautau kembali ke kota Palembang sumatra untuk bekerja di salah satu pabrik minuman segar.

Dan pada 2007 pulang kampung, lalu merantau lagi ke Labuan melanjutkan pekerjaan sebagai tukang becak, waktu itu masih bawa atau sewa becak punya orang lain, tetapi akhirnya pada tahun yang sama ia bisa membeli becak bekas dengan harga sekitar Rp 250 ribu, sampai sekarang becak itu masih layak digunakan karena perawatan yang telaten.

Hasil upah dari para penumpang ia kirim ke istrinya di serang rutin tiap bulan, dan dikala liburan sekolah istri serta anaknya pada liburan ke labuan, ia juga sengaja cari kontrakan rumah yang tidak jauh dari jalan raya, ini untuk memudahkan pekerjaan.

Dulu sejak menikah ia tinggal bersama mertua, tetapi sejak 2016 ia bisa membangun rumah di tanah sendiri, juga dari ke empat anaknya, yang dua orang sudah berumah tangga, yang dua orang lagi masih duduk di bangku sekolah.

Untuk saat ini penghasilan sebagai tukang becak agak berkurang, pasalnya sekarang banyak ojeg sebagai saingan, beruntung ia punya langganan para pedagang pakaian (kaki lima) di pasar.

Terpisah, salah seorang warga sekitar yang enggan disebut namanya mengatakan, bahwa mang Kawi rutin tiap minggu minta tolong untuk transfer uang ke istrinya sekitar Rp 750 ribu hingga satu juta rupiah.

Dan yang perlu ditiru dari mang Kawi, walaupun ia sebagai seorang tukang becak, tetapi rutin menjalankan salat berjamaah di masjid tiap waktu, dari salat dzuhur hingga subuh. (BP11).

Komentar dibawah ini