Labisma STIA Banten & Kesadaran Menciptakan Entrepreneur di Tengah Pandemi

0
1

Oleh: Adi Fikri Humaidi

Penulis adalah : Pengurus Komunitas TDA Pandeglang Raya

Gembira sekali saya mendapatkan undangan untuk menjadi bagian dari terbentuknya Laboratorium Bisnis Mahasiswa (LABISMA) Sekolah Tinggi Administrasi Banten. Sebuah ide dan gagasan yang perlu mendapat dukungan dari semua pihak terutama pihak terkait di wilayah kampus STIA Banten. Sebuah terobosan agar mahasiswa dan para lulusannya nanti tidak hanya terpaku bagaimana mendapatkan pekerjaan yang layak di tengah kompetisi pencarian kerja.

Menyaksikan bagaimana LABISMA tersebut terbentuk saya pribadi meyakini bahwa para pemilik kebijakan di STIA Banten sudah sangat menyadari akan pentingnya mahasiswa STIA Banten serta lulusannya nanti mengisi pos-pos entrepreneur meski itu hanya skala usaha mikro atau usaha rumahan. Jadi, hal tersebut menandakan bahwa STIA Banten tidak hanya konsen mencetak mahasiswanya agar mampu terserap lapangan kerja, tapi mampu menjadi lulusan yang kreatif dan penuh inovasi untuk menciptakan lapangan kerja itu sendiri.

Berbicara era saat ini, menjadi entrepreneur bukan lagi sesuatu yang tabu atau tidak layak dibicarakan bagi sarjana. Entrepreneur sudah menjadi trend yang layak di perhitungkan. Pada zaman saya sekolah dulu, menjadi entrepreuneur tidak pernah ada dalam list atau daftar cita-cita masa depan. Kalau anak sekolah dulu zaman saya saat ditanya cita-citanya ingin jadi apa, hampir bisa dipastikan bahwa menjadi entrepreneur itu tidak ada dalam jawaban. Bahkan orangtua kebanyakan menginginkan anaknya agar menjadi pekerja yang memiliki gaji tinggi atau PNS, karena di anggap hal tersebut adalah zona nyaman dan zona aman bagi masa depan anak-anaknya.

Terbentuknya LABISMA menjadi jawaban, bahwa tidak ada pekerjaan atau karir dalam dunia kerja yang aman dari ancaman. Pekerja bisa di PHK kapan saja. Apalagi pada situasi Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Semua sektor pekerjaan mengalami goncangan. Banyak perusahaan yang dengan terpaksa harus memberhentikan karyawannya, bahkan tidak sedikit yang tutup dan gulung tikar. Hampir di katakan mustahil ada perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan besar-besaran pada situasi Pandemi seperti sekarang ini. Sementara setiap tahun setiap perguruan tinggi mewisuda mahasiswanya. Kemana mereka akan berlabuh setelah lulus dari perguruan tinggi? Mencari kerja? Kira-kira berapa persen dari lulusannya yang berhasil mendapatkan pekerjaan? Sisanya? Itu adalah PR bangsa ini yang di amanatkan kepada perguruan tinggi.

Peluang Besar Menjadi Entrepreneur
Kalau mencari kerja atau menjadi pegawai peluangnya sangat kecil, apalagi di tengah kondisi Pandemi seperti saat ini, lalu bagaimana peluang menjadi entrepreneur?
Menurut sosiolog Dr David McClelland dari Harvard dalam bukunya “The Achieving Society (Van Nostrand, 1961), mengatakan; ‘suatu negara dapat mencapai kemakmuran jika 2% dari jumlah penduduknya menjadi pengusaha’.

Bahkan dalam sebuah berita yang rilis di media Kompas.com pada 5 April 2018, Presiden Joko Widodo pernah mengatakan “Hampir di setiap Negara maju, standarnya itu memiliki (penduduk) entrepreneur di atas 14 persen. Sementara di kita (Indonesia) angkanya masih 3,1 persen. Itu artinya perlu percepatan”.

Lalu bagaimana di tahun 2020? Saya rasa kalaupun terjadi peningkatan, angkanya masih belum mengalami kenaikan yang signifikan. Artinya masih sama, bahwa Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia yang mengisi pos-pos entrepreneur.

Adanya lembaga seperti LABISMA yang di bentuk oleh STIA Banten saya berharap menjadi salahsatu jawaban dari pernyataan Presiden yang menginginkan Indonesia mencetak entrepreneur-entrepeneur baru.
Peran Perguruan Tinggi
Berdirinya kampus-kampus yang konsen dalam bidang bisnis dan perniagaan tentunya menjadi harapan bahwa hal tersebut akan menambah jumlah para pengusaha semakin banyak. Tentunya harapan tersebut akan semakin besar jika kampus atau perguruan tinggi pada umumnya bisa menyisipkan atau mengadakan pembelajaran terkait ilmu entrepreneurship kepada mahasiswanya. Mungkin bisa melalui mata kuliah khusus atau membentuk lembaga yang bisa mewadahi mahasiswa yang ingin belajar ilmu entrepreneurship, seperti yang kampus STIA Banten lakukan dengan membentuk Laboratorium Bisnis Mahasiswa.

Selama ini saya pribadi menilai, penyebab banyaknya sarjana yang menganggur salahsatunya adalah mindset yang masih menganggap bahwa setelah lulus kuliah fokusnya hanya mencari kerja, dengan harapan bisa bekerja di tempat yang bagus dan mendapatkan gaji yang besar. Tapi, realitas yang dihadapi tidak demikian, lapangan kerja sulit di cari, jenis pekerjaan yang dicari pun pilih-pilih. Pada akhirnya ekspektasi berbenturan dengan realita yang ada. Bahkan tidak mau menerima pekerjaan dengan gaji kecil dikarenakan merasa gengsi dengan titel sarjana yang dimiliki.

Karena itu mindset setiap mahasiswa, orang tua, dan masyarakat perlu di ubah. Bahwa lulusan perguruan tinggi ke depan yang berhasil adalah mereka yang bukan hanya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, tapi mampu juga menciptakan lapangan kerja baru dengan menjadi entrepreneur, atau minimalnya tidak menambah jumlah pengangguran baru.

Semakin banyak orang yang menginginkan menjadi entrepreneur maka peluang semakin besarnya lapangan kerja yang tercipta akan semakin besar, atau setidaknya peluang menambah jumlah pengangguran baru akan semakin kecil. Kita membayangkan bagaimana setiap lulusan perguruan tinggi mampu berlomba-lomba menciptakan inovasi-inovasi baru dalam membentuk dan membangun bisnis, sehingga dengan sendirinya kemandirian ekonomi bangsa ini perlahan tapi pasti akan bangkit.

Pada akhirnya, kita berharap perguruan tinggi mampu menciptakan terobosan-terobosan baru untuk membentuk mindset mahasiswanya, sehingga poin Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat akan mampu terealisasi dengan baik. Lulusan perguruan tinggi akan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat dan lingkungan dengan cara meciptakan lapangan kerja baru, menumbuhkan serta memajukan kesejahteraan masyarakat, minimal di tempat dia tinggal.

Komentar dibawah ini