LEBAK SIAP GELAR ACARA SEBA BADUY

1
51

LEBAK – Pemerintah Kabupaten Lebak, melalui Dinas Pariswisata, terus melakukan persiapan menjelang pelaksanaan tradisi Seba Baduy yang tahun ini akan diadakan pada  tanggal  28 – 30 April.  Kegiatan akan dipusatkan di Pendopo Kabupaten dan alun-alun Rangkasbitung.  Rencananya kegiatan akan dipimpin langsung oleh Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya  dan dihadiri oleh seluruh jajaran pejabat Pemkab Lebak.

Seba Baduy merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Baduy.  Perayaan adat Seba, menurut warga Baduy, merupakan peninggalan leluhur tetua (Kokolot) yang harus dilaksanakan sekali dalam setiap tahun. Acara itu digelar setelah musim panen ladang huma, bahkan tradisi sudah berlangsung ratusan tahun sejak zaman Kesultanan Banten di Kabupaten Serang.  Tradisi Seba Baduy merupakan  wujud ungkapan syukur kepada Bapak Bapak Gede (Bupati atau kepala pemerintahan daerah).

Pada tradisi ini masyarakat Baduy, baik baduy luar yang dipimpin oleh Jaro maupun baduy dalam yang dipimpin oleh Puun, bersama-sama berbondong-bondong menuju ibu kota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung.  Mereka kemudian menyerahkan hasil tani atau hasil bumi kepada pemerintah setempat yang biasa kita sebut dengan upeti pada jaman kerajaan.  Hal  itu semua merupakan wujud rasa syukur masyarakat baduy luar dan baduy dalam karena mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah.  Hasil bumi secara simbolik akan diterima oleh Bupati Lebak secara langsung di pendopo Kabupaten Lebak.

“Lojor henteu beunang dipotong, pendek henteu beunang disambung”. Panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambun.  Inilah filosofi orang Baduy yang menggambarkan keikhlasan orang Baduy dalam menjalani kehidupan mereka sekaligus harmonisasi kehidupan mereka dengan alam sekitarnya.   Filosofi tersebut  hingga kini tetap aktual bagi komunitas Baduy dipedalaman Lebak.  Bagi warga Baduy, tradisi leluhur merupakan sesuatu yang sacral dan pantang untuk diabaikan.  Mereka rela berjalan kaki  lebih dari 50 km menuju pemimpin mereka menembus jalan setapak perbukitan Gunung Kendeng.  Karenanya, kedatangan mereka pantas untuk memperoleh penghormatan.

Sebuah epilog ditulis Dispar Lebak untuk menggambarkan tradisi ini,

Tetesan embun yg masih tersisa di era modernisme yang berputar secara masif dalam pusaran yang entah sebesar apa. Karena langkah-langkah  kecil si cikal bahkan tidak beralaskan selembar kain pun..

Di tengah panasnya pantulan matahari dijejak telapak yang berpadu hitamnya jalan beraspal. Tekad sudah bulat, tak ada aral berarti. Sejauh apapun langkah kaki bukan soal. Piturut sepuh yang lebih utama.

“Pondok teu meunang disambung, panjang teu meunang dipotong” bukan hanya sebuah ungkapan yang indah diperdendangkan, tapi ungkapan itu sudah menyatu dalam urat nadi kami. Terikat dalam tarumpah dan koja kami..

Pitutur sepuh sudah disebut, kawalu sudah ditetapkan.

Kami berangkat..

Bukti pengabdian kami..

Bukti kepatuhan sebagai abdi..

Bukti babakti kami ka nagara..

Seba Baduy..

(Sumber : Dispar Lebak, foto : visitbanten)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here