Lebaran Tanpa Mudik

0
4

Oleh : Supadilah

Penulis adalah : Guru di SMAT Al-Qudwah Lebak, Banten

 

Seharusnya lebaran ini jadwalnya keluarga kami mudik. Tahun lalu kami tidak mudik. Berselang-seling kami jadwalkan untuk mudik. Namun, kemungkinan mudik lebaran ini batal mudik. Penyebabnya tahu sama tahulah. Wabah Corona yang menjadi penyebabnya. Kasus Corona di Indonesia masih banyak. Grafiknya naik.

Mudik dan lebaran ibarat dua hal yang sulit dipisahkan. Sebagai sebuah tradisi, ibarat melengkapi rangkaian puasa dan lebaran. Semarak atau tidaknya lebaran, mudik menjadi pemanisnya. Bagi perantau –termasuk saya- mudik merupakan ritual sakral. Mudik merupakan kegiatan penyambung silaturahmi dengan keluarga dan saudara. Meskipun saat ini teknologi komunikasi semakin canggih sehingga membuat jarak seolah tidak berarti, bagi banyak orang -juga saya-, kehadiran fisik tidak tergantikan dengan alat komunikasi itu.

Mudik menjadi pelepas rindu setelah sekian lama terpisah. Bertahun-tahun. Saya sudah dua tahun tak bertemu keluarga. Dan jika tahun ini tidak mudik, berarti akan tiga tahun baru bertemu keluarga,jika tahun depan mudik.

Semua mafhum jika tahun ini tidak mudik. Sebabnya virus Covid-19 hingga saat ini belum mereda. Berbagai simulasi dan riset mengabarkan virus yang hingga kini belum ditemukan vaksinnya itu akan mereda di bulan Juni. Namun, data berbagai rumah sakit menunjukkan data pasien positif Corona masih stabil. Grafik kasus Covid-19 di Indonesia pun masih mengalami grafik naik.

Untuk mengurangi penyebaran pandemi Covid-19, pemerintah mengeluarkan kebijakan atau lebih tepatnya imbauan terkait lebaran, bahwa boleh pulang kampung tapi sebaiknya tidak mudik. Meskipun imbauan ini kesannya tidak tegas. Sebab, intinya adalah pergerakan manusia dari yang tidak dihindari. Dengan pembatasan pergerakan manusia, diharapkan penyebaran Covid-19 juga berkurang.

Ternyata, jauh hari sudah terlihat banyaknya yang melanggar imbauan ini. Banyak pemudik yang berusaha mencari kesempatan untuk lolos.Untuk menghindari razia larangan mudik dengan memasukkan mobilnya ke truk. Atau, pemudik yang menumpang truk barang.

Pemudik juga menjadi tak terhindarkan saat banyak maskapai kembali beroperasi. Satu dua teman saya yang juga tidak bisa menahan diri dari mudik, akhirnya memanfaatkan celah ini untuk mudik. Banyak jalan menuju Roma. Apalagi, buat orang Indonesia yang memang sangat ‘kreatif’.

Sementar, saya dan banyak orang yang tak mudik, merasa perlu melakukan ini agar ikut membantu pemerintah agar Covid-19 ini tidak semakin meluas. Minimal menyelamatkan keluarga sendiri. Misalnya agar tidak terpapar Corona saat di perjalanan mudik.

Kita harus waspada. Sebab, penyebaran virus ini sulit terdeteksi. Orang yang kelihatannya sehat baik-baik saja bahkan bisa saja terpapar virus ini. Jadi, orang yang secara fisiknya sehat-sehat saja bisa jadi telah tertular bahkan akan menularkan pula.

Banyak kasus penularan virus Corona hingga ke daerah-daerah pelosok dilatari bepergian atau kunjungan dari daerah terpapar. Kengeyelan mudik bisa saja membawa bencana. Bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga pada keluarga hingga orang-orang di kampung halaman.

Karena itu, ada baiknya menahan diri untuk tidak mudik. Sebab, kondisi di jalan tidak bisa diprediksi. Berbagai ancaman tertularnya virus bisa saja terjadi di jalan. Meskipun sudah melakukan proteksi berupa protokol pencegahan. Mungkin saja pemudik moda transportasi pribadi bisa meminimalisir. Namun, pemudik moda angkutan umum, berpotensi besar tidak bisa menghindari.

Namun, gelombang mudik (atau pulang kampung) saat ini cukup ramai. Di televisi ataupun media sosial menggambarkan kondisi lalu lintas yang cukup ramai. Ngeri melihatnya. Seakan imbauan tidak mudik tidak banyak berpengaruh.

Blunder Relaksasi PSBB?

Untuk membatasi penyebaran Covid-19, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 (Permenhub 25/2020) Tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 H. Moda transportasi akan dibatasi. Namun kemudian, muncul wacana relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Wacana ini merujuk pada data sebaran Covid-19 yang stagnan pada dua pekan terakhir. Meskipun, wacana ini juga banyak yang menentang. Sebab, Covid-19 belum benar-benar tuntas. Lalu, apakah yang membuat kemunculan wacana ini? Besar kemungkinan adalah faktor ekonomi. Pemerintah berupaya agar sirkulasi ekonomi tetap berjalan untuk memastikan keberkahan pertumbuhan ekonomi. Bagaimana pun, pandemi Covid-19 membuat ekonomi melemah atau surut.

Apakah wacana ini bisa menjadi blunder? Bisa jadi. Tentu tidak mengharapkan apa saja kejadian buruk menimpa kita. Namun, harapan ini tentunya dibarengi dengan usaha yang tidak mengarah ke sana pula. Karena itu, sebelum virus ini benar-benar tuntas, sebaiknya tidak tergesa mengeluarkan kebijakan yang tidak selaras dengan usaha pencegahan.

Sebab, contohnya pada 17 Mei, terjadi pelonjakan jumlah positif Corona sejumlah 489 kasus. Pada 17 pula, di Indonesia terdapat 17. 514 positif Corona, 4129 sembuh, dan 1148 meninggal.

Minim Kesadaran

Di berbagai daerah, sangat minim sekali kesadaran massa untuk melakukan PSBB. Beberapa pusat perbelanjaan ramai. Penuh sesak, tanpa melakukan jaga jarak (social distancing). Mereka rapat saja jaraknya. Membludaknya massa di beberapa tempat pusat perbelanjaan semakin ramai saja mendekati lebaran.

Persiapan menyambut lebaran mengalahkan kewaspadaan terhadap penyebaran Covid-19. Mereka abai pada keselamatan sendiri dan keluarga. Padahal tidak kurang-kurang imbauan pemerintah juga pemerintah daerah agar warga menjalankan protokol pencegahan.

Abainya masyarakat dengan protokol pencegahan Covid-19 tentu saja membuat kecewa pihak yang sudah berupaya melakukan pencegahan. Terutama tenaga kesehatan (nakes) yang menjadi terdepan menghadapi pasien positif Corona.

Seakan usaha mereka sia-siakan, sudah berkorban untuk mengurangi muara Covid-19, sementara hulunya dibiarkan saja. Kecewa, atau bahkan geram dengan kurangnya kesadaran masyarakat.

Tidak kompak. Kalau begitu, bakal kurang efektif. Ada yang sudahlah mati-matian menjaga, eh ada lagi yang seenaknya melanggar. Indonesia Terserah mungkin menjadi ekspresi kedongkolan. Longgarnya PSBB dan dilanggarnya jaga jarak.

Mungkin banyak yang bosan beberapa lamanya di rumah. Memang semua tahu hal ini. Namun, tindakan-tindakan ceroboh itu bisa saja menyulut gelombang kedua pandemi Covid-19. Apa harus ada lagi korban berjatuhan agar kita bisa melek? Tolong jangan egois. Harus saling bantu melawan musuh tak kasat mata ini.

Selain itu, massifnya kerumunan massa dikarenakan menjelang lebaran. Masyarakat pun hendak berbelanja kebutuhan lebaran. Rupanya, kondisi pandemi tak bisa mengalihkan dan mengalahkan kebutuhan ini. Maka ramailah pusat perbelanjaan seperti mal, pasar, dan toko-toko.

Lantas, apakah kita semua menjadi apatis dan masa bodoh karena banyak mereka yang melanggar? Tentu tidak ya. Tetaplah menjadi orang yang ikut menjaga agar tidak semakin meluas corona itu. Kekeliruan, kesalahan, atau hal negatif tidak harus diikuti. Seperti banyaknya orang yang korupsi, kita tidak ikut-ikutan korupsi, bukan? Biarpun kita menjadi yang tetap berpikir jernih di tengah pandemi ini. Banyak kebaikan yang diabaikan, namun tidaklah membuat kita abai untuk selalu berbuat kebaikan. Maka, biarlah lebaran ini hanya bisa lewat alat komunikasi saja. Semoga tidak mengurangi kekhidmatan bersilaturahmi.

Komentar dibawah ini