Makna Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

0
0

Oleh : Ocit Abdurrosyid Siddiq

Penulis adalah : Komisioner Bawaslu Banten, Pemerhati Media.

Negara kita menerapkan model trias politika, yaitu pengelompokan kekuasaan negara atas kekuasaan legislatif, kewenangan membuat undang-undang, kekuasaan eksekutif, kewenangan melaksanakan undang-undang, dan kekuasaan yudikatif, kewenangan mengadili.

Ketiga fungsi itu dijalankan oleh lembaga yang berbeda. Pemisahan ini dimaksudkan agar otoritas tidak berada dalam satu tangan. Kekuasaan sepenuhnya dalam satu tangan, cenderung otoriter. Model begini biasanya melahirkan pemimpin yang lalim.

Ketiga lembaga diatas biasanya kita temukan pada negara yang menerapkan demokrasi sebagai model pemerintahannya. Indonesia termasuk didalamnya. Tiga pilar lembaga ini menjadi ciri utama demokrasi.

Pada negara dengan model demokrasi, juga sangat terbuka pada keterlibatan publik dalam setiap kebijakan pemerintahan. Praktek itu misalnya diperankan oleh civil society, seperti lembaga swadaya masyarakat dan pers.

Pers bahkan kerap disebut sebagai pilar keempat demokrasi, melengkapi eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pers selain sebagai penyampai informasi, juga dapat berperan sebagai alat kontrol sosial.

Karena peran pers bukan hanya sebagai penyampai informasi, maka ia memiliki tanggung jawab moral untuk turut mewujudkan harapan masyarakat; selamat, sehat, aman, dan sejahtera.

Karena dalam hajat hidup masyarakat juga ada peran negara, maka pers juga punya tanggung jawab untuk mengontrol jalannya pemerintahan. Dengan cara menyampaikan aspirasi masyarakat, memberikan masukan, bahkan melakukan kritik.

Selain peran yang telah disebutkan diatas, pers juga berkewajiban turut menciptakan rasa aman pada masyarakat. Informasi yang disampaikan kepada publik, tidak membuat masyarakat menjadi waswas, khawatir, dan diliputi rasa takut.

Dulu, pada zaman Orde Baru, ada sebuah kementerian, Departemen Penerangan, yang intens bekerjasama dengan pers. Kolaborasi itu menghasilkan insan pers yang handal. Kompeten menulis berita, informasinya bernas, dengan pilihan diksi yang tepat, serta kalimat yang runtut.

Diluar itu, insan pers juga dibekali dengan kemampuan menerapkan norma, nilai, dan attitude. Mereka bisa menakar, memilih, dan memilah, mana informasi yang bisa memberikan rasa aman dan sarat kemanfaatan, dan mana yang sekiranya membawa perpecahan dan menebar ketakutan.

Dulu, bukan tidak ada konflik antar etnis, antar warga, antar kampung, dan antar organisasi kemasyarakatan. Tapi karena insan pers menyadari bahwa mereka punya tanggung jawab moral dalam mewujudkan rasa aman, maka informasi tersebut mereka kemas dengan bahasa yang cerdas dan elegan.

Dengan cara seperti itu, substansi informasi tersampaikan kepada publik, tanpa membuat para pembaca menjadi takut. Penyampaian berita dengan konten yang bisa membangkitkan amarah dengan judul yang vulgar, senantiasa dihindari.

Kini, sarana informasi berikut medianya sudah tidak terbendung. Media cetak, elektronik, apalagi portal media online amat marak. Jumlahnya tidak terkira. Ditangan jurnalis yang cerdas, kompeten, dan senantiasa menerapkan etika jurnalistik, pers akan dapat memainkan perannya sebagai pilar keempat demokrasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here