Mathla’ul Anwar dan Etos Pengabdian

0
9

Oleh : Ahmad Syafaat

Penulis adalah : Ketua Dewan Pengurus Wilayah Himpunan Mahasiswa Mathla’ul Anwar (HIMMA) Provinsi Banten

 

Tersenyum. Mengikuti jejak para pendahulu memang membutuhkan konsistensi perjuangan, rasionalitas optimisme, memupuk rasa berkemajuan
dalam bingkai pengabdian. Ketulusan, keikhlasan dan pengorbanan adalah kunci untuk bertahan. Sungguh sangat mulia cita-cita para founding fathers dalam meneruskan estafet kepemimpinan.

Kesempurnaan merawat, membina, mengembangkan, serta memberdayakan adalah bagian sentral dalam membangun peradaban.

Mathla’ul Anwar dalam aktivitasnya memiliki 9 (Sembilan) prinsip yaitu:
Berpegang teguh kepada Alquran dan Assunah, bersatu dalam aqidah, berjamaah dalam ibadah, toleran dalam khilafiyah, bersikap tegas terhadap bid’ah, berorientasi kepada mashlahatil ummah, piawai dalam siyasah, bersama membangun masyarakat dengan pemerintah, dan berjuang di jalan Allah SWT.

Secara esensial, kehadiran 9 prinsip Mathla’ul Anwar harus tercermin dalam diri seorang kader (personality) atau warga Mathla’ul Anwar (Kelompok) sebagai penyejuk yang mencerahkan ditengah masyarakat.

Berpegang teguh kepada Al qur’an dan As-sunnah sebagai wujud kemurnian akidah atas landasan tauhid dan ilmu pengetahuan. Jika meminjam istilah Cak Nur dalam mewujudkan masyarakat madani.

Pada dasarnya ideologi Mathla’ul Anwar memperkokoh spirit al-Ma’iyah (kebersamaan), menolak al-Tafaruq (pertentangan, konflik, antagonisme), memperkokoh al-Musawat (kesamaan, kesederajatan, equity atau egaliter), al-Tawazun (keseimbangan), al-Adalah (keadilan), al-Wasth (moderat) dan penghormatan terhadap perbedaan.

Esensi purifikasi yang digagas para pendiri Mathla’ul Anwar juga tidak sekedar memberantas takhayul, bidah, dan khurafat, tapi membebaskan mereka yang terpinggirkan secara sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Semua itu dijawab oleh sikap idelisme dan militansi para warga Mathla’ul Anwar yang terus berkhidmat memajukan umat melalui pendidikan hingga sampai sekarang.

Eksistensi Mathla’ul Anwar tetap terjaga dan gaungnya menggelegar selain sebagai organisasi kemasyarakatan. kini, sudah bertransformasi menjadi sebuah gerakan civil society muslim modern yang sangat besar dan berpengaruh dalam setiap bidang.Tidak hanya menyoroti pendidikan, isu lingkungan juga menjadi kajian strategis Mathla’ul Anwar dalam memberikan impact yang berkelanjutan.

*Amal Usaha dan Etos Pengabdian*

Tradisi beramal usaha yang ditanamkan sejak awal para pendiri Mathla’ul Anwar adalah start penting Mathla’ul Anwar untuk menunjukkan karakteristik dasarnya. Kekuatan gerakan kolektif Mathla’ul Anwar ini disamping terletak pada ideologinya juga pada orientasi praktis atau amaliyahnya. Arti penting Mathla’ul Anwar bukan terletak kepada presensi organisasinya, akan tetapi pada sejauh mana Mathla’ul Anwar berperan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Terbukti, gerakan amaliyah Mathla’ul Anwar cukup sukses dijalankan dan disemai oleh para pendahulu. Hal itu diafirmasi dengan banyaknya di kampung-kampung, majlis, madrasah, masjid dibangun hasil swadaya masyarakat. Lembaga pendidikan didirikan di atas tanah wakaf yang semula bangunan kecil secara bertahap menjadi besar. Mereka mendermakan hartanya kepada para kiai sebagai bentuk kepercayaan dan penghormatan.

Begitulah kearifan masyarakat yang ingin selalu terlibat dalam kegiatan amal (filantropi), karena yakin inilah amal jariyah yang tak akan terputus, dan tetap dinikmati pahalanya di akhirat kelak.

Dalam Islam, seluruh aspek kehidupan diatur didalamnya termasuk bentuk kepedulian kepada sesama, maka islam lebih menekankan ibadah muta’adiyah (ibadah sosial) dibanding
ibadah shirah (ibadah individual).

Tepatnya, dalam pandangan Mathla’ul Anwar amal usaha sebetulnya ialah suatu usaha dan media syiar dakwah Mathla’ul Anwar kepada masyarakat.

*Mathla’ul Anwar dan Pembangunan Sosial*

Tak diragukan lagi partisipasi umat Islam dalam membangun bangsa dalam berbagai bidang. Mereka mandiri dalam beramal dan tak begitu mengandalkan bantuan dari pemerintah. Bukankah Mathla’ul Anwar yang memiliki amal usaha sebagai wujud bakti untuk negri mulai dari sekolah, pesantren, perguruan tinggi, majlis taklim, masjid, dan lainnya semua itu di atas aset-aset wakaf. Kegigihan para pelopor Mathla’ul Anwar menjadi suri tauladan bagi kita semua tapi senyatanya sekarang agak mulai redup dan kurang tergaungkan dalam pembangunan sosial di kalangan kader Mathla’ul Anwar.

Penulis pernah menyusun karya tulis ilmiah (skripsi) yang berjudul tentang analisis pengelolaan tanah wakaf bagi pembangunan sosial (Studi di Perguruan Mathla’ul Anwar Cikaliung Pandeglang), dari situlah saya perpandangan kondisi kekinian Mathla’ul Anwar dalam hal pembangunan sosial masih lesu dan mesti harus terus ditumbuhkan.

Dalam momentum Muktamar XX dan Milad 105 Tahun agar tetap konsisten menata umat, merekat bangsa.

Penulis memberikan point penting sebagai wujud kepedulian dan inkubator kebaikan untuk saling mengingatkan dan menguatkan, diantaranya : pertama, secara substantif agenda Muktamar XX dan Milad 105 Mathla’ul Anwar sebagai lokomotif menggalang kekuatan besar dengan term spirit al-Ma’iyah (kebersamaan) untuk terus berinovatif dan liberatif dalam menciptakan formulasi pemikiran dalam pembangunan sosial, apalagi situasi nasional ini berbarengan dengan agenda pemerintah dalam menangani covid 19 dalam mewujudkan pemulihan ekonomi nasional dan kesejahteraan umat.

Karena itu, umat Islam sejatinya tak perlu diajari lagi untuk melakukan ibadah sosial, seperti zakat, infak, dan wakaf. Meski demikian, kita harus akui potensi yang besar ini masih belum tergali secara maksimal. Terutama, dalam pengelolaan dan pengembangannya. Misalnya, wakaf belum menjadi aset produktif yang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pendidikan, sosial, keagamaan bahkan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Maka tidaklah salah Mathla’ul Anwar di agenda muktamar menggaungkan pemulihan ekonomi nasional melalui pendekatan sosial sebagai Ladang Amal Akbar misalkan melakukan “Gerakan Mathla’ul Anwar Berwakaf” (GerMABerwakaf) sebagai ruang para pengurus, kader, simpatisan serta pihak lainnya untuk kemajuan organisasi.

Kondisi ini sebenarnya disadari dan disambut oleh Kementerian Agama yang memiliki Direktorat Zakat dan Wakaf. Maka, lahirlah UU No 41 Tahun 2004 tentang Perwakafan, lalu berdirilah Badan Wakaf Indonesia. Menurut Pasal 16 ayat (3) dalam Undang-undang tersebut, wakaf tidak hanya dalam bentuk tanah, tapi bisa berupa uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak kekayaan intelektual dan hak sewa. Karena itulah pemerintah mulai aktif memperhatikan pengelolaan wakaf agar lebih produktif hingga berdampak pada kesejahteraan umat.

Inisiasi gerakan wakaf tunai sebenarnya sudah dilakukan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan, pada Januari tahun 2010. SBY mewakafkan uang tunai sebesar Rp 100 juta. Lalu kenapa tiba-tiba wakaf uang menjadi isu panas penuh kontroversi?ketika Presiden Jokowi bersama Wapres KH Ma’ruf Amin mendeklarasikan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU), maka dalam hal ini Mathla’ul Anwar sebagai pelita umat, penyejuk bangsa dapat memberikan dukungan pemerintah sebagai wujud meneguhkan komitmen kebangsaannya membangun masyarakat bersama pemerintah.

Bayangkan, secara sederhana,contohnya satu kader MA saja berwakaf uang sebesar 500 ribu. Maka kalau 500 X 200 duaratus orang hasilnya sudah seratus juta uang. Itulah indahnya kebersamaan dalam menopang peradaban untuk kemaslahatan umat.

Kedua, momen Muktamar juga sebagai bentuk evaluasi pengurus dan kader dalam menjalankan roda organisasi kedepannya. Segala pembahasan pergodogan pemikiran pun terjadi dalam melahiran konsensus kemajuan dan kebaruan.

Ketiga, penulis juga bagian dari kader Mathla’ul Anwar baik secara struktural dan kultural maka dalam agenda muktamar XX dan milad ke 105 Tahun ,selain lahirnya pemimpin yang berkualitas yang dirindukan umat dan disinilah lahir bentuk pedoman khusus
formulasi perkaderan dalam menetukan arah juang dan tumbuh subur kader-kader Mathla’ul Anwar. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here