Mendamba Khilafah, Menjadi Imigran

0
5

Oleh : Ocit Abdurrosyid Siddiq
Penulis adalah : Santri Kampung

 

Banyak warga negara-negara Arab kini menjadi imigran. Bukan imigran legal. Tapi imigran gelap. Mereka mencari suaka politik. Mencari negara lain yang bisa dan mau menerimanya. Mereka meninggalkan negaranya karena tak henti dari konflik. Bukan hanya konflik lisan. Tapi konflik yang mengancam nyawa dan keselamatan. Mereka ingin hidup damai, hidup tenang.

Konflik di negaranya bukan karena faktor ketimpangan sosial. Bukan karena perkara kesejahteraan. Bukan juga karena sulit mencari pekerjaan. Negara mereka sejatinya kaya dan makmur. Mereka kabur dari negaranya karena menjadi korban peperangan. Perang antara pemerintahnya dengan kelompok-kelompok sempalan di negaranya sendiri.

Kelompok itu memerangi pemerintahnya sendiri karena ingin mengganti model dan sistem pemerintahan. Sistem pemerintahan sekarang, oleh mereka dianggap sebagai produk luar, produk barat, produk kafir. Mereka ingin mengembalikan lagi model pemerintahan pada sistem dahulu yang pernah diterapkan. Model khilafah, yang dianggap pernah menjadi imperium dunia.

Mereka ingin membangkitkan romantika akan kedigjayaan model khilafah, sekaligus ingin membalas atas runtuhnya model itu, yang klimaksnya adalah berakhirnya kekuasaan Ottoman di Turki, pada tahun 1924. Dengan bekal romantika sejarah, serta tafsir tekstual atas ajaran agama, segala cara dilakukan, termasuk dengan cara kekerasan, dalam bentuk perang.

Sudah lebih dari belasan tahun, negara-negara itu tak lekang dirundung konflik dan peperangan. Ketika negara lain sudah mencapai luar angkasa, ketika warga negara lain sudah bisa santai bersama keluarga setiap akhir pekan, ketika warga negara lain sudah hidup damai dalam keragaman yang disertai kecerdasaan bertoleransi atas perbedaan, sementara mereka masih sibuk.

Sibuk menyelamatkan diri. Sibuk menutup telinga dari suara desingan peluru dan suara ledakan bom. Sibuk untuk berpindah lokasi. Sibuk untuk mencari suaka; mencari negara sahabat seiman yang dianggap aman, bahkan terpaksa mencari negara “kafir” untuk meminta perlindungan diri. Tak jarang mereka tertahan di perbatasan. Ditahan dan dihalau bak binatang.

Tragedi yang sekaligus ironi ini mestinya bisa menjadi pembelajaran bagi kita. Kita hidup di Nusantara, dengan beraneka suku bangsa, dan memiliki harta kekayaan yang melimpah sebagai sumber daya. Ini merupakan modal kita, untuk meraih mimpi; menggapai ruang angkasa, bercengkerama sarat ceria setiap akhir pekan bersama keluarga.
Tuhan telah menganugerahkan tanah Nusantara yang kaya pada kita, dengan keragaman warga bangsanya.

Keragaman adalah skenarioNya. Walau beragam, kita tetap rumasa. Rumasa bahwa kita sama dihadapanNya. Karena beragam, maka beragam pula cara dan jalan untuk menujuNya. Hindu, Budha, Islam, Katholik, Protestan, Konghucu, Aliran Kepercayaan, Kaharingan, Wiwitan, adalah jalannya.

Hidup dalam damai diatas keragaman, merupakan puncak bukti bahwa manusia mampu memanusiakan dirinya, baik atas sesamanya, lebih-lebih dihadapan Tuhan. Damai dalam keragaman yang tumbuh di Nusantara ini, tiada lain karena berkah Pancasila yang menjadi dasar negara, sebagai hasil ijma para pendiri bangsa.

Pancasila merupakan poros yang menyatukan keragaman warga bangsa. Karena ia hasil konsensus dan warisan para pendiri bangsa, karena ia menjadi alat pemersatu kita, kita berkewajiban merawat dan menjaganya. Dengan cara untuk tidak menggantinya dengan model lain yang malah akan menuai dan memantik perpecahan bangsa.
Saya tidak ingin menjadi imigran! Anda?

Komentar dibawah ini