Mengubah Perilaku Melalui Informasi Pencegahan Covid-19

0
2175

 

Oleh : Marroli J. Indarto
Penulis adalah : Pranata Humas Madya
Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO)

Kekebalan alami tubuh merupakan upaya terakhir dalam menghadapi Covid-19. Namun informasi presisi mengenai pecegahan penyebaran virus menjadi garda terdepan dalam menghadapi pandemi.

Pandemi Covid-19 di Indonesia kini telah memasuki fase dimana krisis dapat berakhir apabila terjadi perubahan pola perilaku masyarakat dalam menyikapi virus mematikan tersebut. Kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan penyebaran Covid-19 menjadi kunci mengakhiri krisis.

Tingkat kematian akibat Covid-19 sebesar 2,7% persen dari jumlah kasus terkonfirmasi. Persentase kematian yang tergolong rendah, serta jumlah kasus sembuh yang tinggi menunjukkan adanya gejala herd immunity atau terbangunnya sistem kekebalan tubuh masyarakat Indonesia. Kekebalan alami tubuh merupakan upaya terakhir dalam mengakhiri infeksi Covid-19. Namun informasi presisi mengenai pecegahan penyebaran virus merupakan garda terdepan dalam mengahadapi pandemi.

Pemerintah telah menerapkan manajemen krisis demi menanggulangi, mengendalikan penyebaran infeksi Covid-19. Satgas Penanganan Covid-19 dibentuk untuk memimpin berbagai upaya preventif dan antisipatif. Pemerintah juga memberikan program bantuan langsung serta insentif finansial terhadap warga negara yang terdampak sebagai ikhtiar untuk penanggulangan dampak pandemi.

Sosialisasi serta akses informasi disiapkan agar masyarakat dapat mengakses informasi yang benar mengenai perkembangan penanganan Covid-19. Mulai dari informasi mengenai penaganan secara medis hingga informasi penyaluran bantuan sosial, disajikan secara cepat dan akurat untuk menghindari misinformasi serta disinformasi di tengah masyarakat.

Tantangannya saat ini adalah pemerintah harus mengefektifkan manajemen krisis dan mengoptimalkan saluran informasi publik. Untuk itu, monitoring menjadi salah satu perbaikan pola komunikasi yang dibangun selama masa pandemi.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) melakukan survei komunikasi publik selama September-Oktober 2020 terhadap 453 responden di lima kota terbesar terdampak Covid-19 yaitu Surabaya, Tegal, Jogjakarta, Jakarta dan Bandung. Salah satu tujuan survei yang dilakukan secara daring menggunakan Google form tersebut untuk mengetahui efektifitas penyampaian informasi penanganan Covid-19 oleh pemerintah.

Respon Publik Terhadap Sumber Resmi Informasi Covid-19

Dua faktor penting yang hendak ditelisik melalui survei tersebut yaitu sumber dan pesan komunikasi publik oleh pemerintah dalam penanganan Covid-19. Sumber informasi menjadi penting untuk diketahui lantaran selama ini masyarakat kerap mengakses informasi mengenai Covid-19 selain informasi resmi dari pemerintah. Pesan komunikasi juga penting untuk dilihat dari sisi substansi penyampaikan pesan penanganan Covid-19.

Survei menunjukkan tingkat intensitas pencarian berita tentang Covid-19 yang cukup rendah yaitu sebanyak satu kali dalam sehari atau sebesar 32 persen. Responden yang menyatakan mencari berita Covid-19 dalam intensitas yang cukup tinggi yaitu lebih dari lima kali dalam sehari yakni 18,3 persen. Sekilas terlihat respon positif publik berupa keingintahuan tentang upaya pencegahan Covid-19 yang dilakukan pemerintah.

Media favorit publik yang digunakan untuk mengakses informasi mengenai Covid-19 antara lain televisi, Instagram. dan portal berita online. Televisi menduduki peringkat pertama, yaitu sebesar 55,6 persen lantaran memiliki kelebihan dalam penyajian informasi audio dan visual. Selain itu masyarakat yang memiliki tradisi menonton lebih tinggi ketimbang budaya membaca, membuat televisi hingga saat ini masih digemari sebagai sumber informasi.

Sebanyak 30,2 persen responden mengetahui informasi Covid-19 dengan mengakses situs resmi pemerintah seperti Kemenkes, Kominfo, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan terdapat peluang bagi pemerintah untuk terus memperbaiki dari sisi sumber dan pesan komunikasi publik tentang pencegahan Covid-19. Sebenarnya masyarakat juga menggemari sumber informasi dari media sosial, namun kelemahannya terbatas pada kuota internet atau paket data yang dimiliki.

Pemerintah dalam upaya mengomunikasikan pencegahan Covid-19 kepada masyarakat bertumpu pada kemampuan komunikasi sebagai sumber informasi. Survei menunjukkan sebanyak 52,7 persen responden setuju terhadap kemampuan atau keahlian komunikasi pemerintah dalam menginformasikan pencegahan Covid-19. Hal ini sesuai ekspektasi karena sumber resmi informasi penanganan Covid-19 sudah seharusnya memiliki kapasitas pengetahuan dan pengalaman di mata masyarakat.

Salah satu keberhasilan komunikasi yang dibangun pemerintah terkait penanganan Covid-19 adalah membangun kepercayaan publik atas upaya pemerintah dalam mencegah penyebaran virus mematikan. Survei memperlihatkan tingkat kepercayaan publik terhadap sumber informasi resmi pemerintah sebagai kategori dapat dipercaya sebesar 34,2 persen. Persentase tersebut jauh lebih tinggi ketimbang kategori sangat tidak setuju sebesar 8,4 persen.

Ketertarikan publik terhadap sumber resmi informasi penanganan Covid-19 berpengaruh terhadap efektifitas komunikasi. Publik di dalam survei memperlihatkan penilaian kurang setuju sebesar 38,6 persen bahwa sumber resmi pemerintah mengenai penanganan Covid-19. Hal ini dapat menjadi evaluasi terutama dalam agenda setting dan penyusunan konten agar lebih menarik dan bermanfaat bagi publik.

Namun demikian tanggapan responden terhadap faktor sumber berkategori tinggi yaitu 60 persen, menunjukkan kualitas sumber informasi masih dinilai baik. Pemerintah sebagai sumber informasi penanganan, pencegahan dan pengendalian Covid-19 dituntut lebih meningkatkan kapasitas penyampaian informasi dari sisi keahlian, meningkatkan tingkat kepercayaan publik dan mengembangkan komunikasi yang memiliki daya tarik. Sumber informasi mempengaruhi perubahan perilaku masyarakat di masa pandemi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here