Merasa Menjadi Pahlawan

0
4

Oleh : Ocit Abdurrosyid Siddiq

 

 

Dalam keadaan sakit, Cut Nyak Dhien melakukan perang gerilya, keluar-masuk hutan memimpin rakyat melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Encok dan rabun yang dideritanya tidak menyurutkan semangatnya untuk berjuang. Dia ditangkap Belanda di Meulaboh dan kemudian diasingkan ke Sumedang Jawa Barat hingga wafatnya pada tahun 1908.

Belanda sampai harus mengadakan sayembara untuk menangkap Pangeran Diponegoro dengan hadiah sebesar 50.000 Gulden bagi orang yang berhasil menangkapnya. Cara itu dilakukan karena Belanda kesulitan untuk melumpuhkan perlawanan Pangeran Diponegoro. Pada peperangan Diponegoro yang berlangsung sejak tahun 1825 hingga 1830 itu, Belanda mengalami kerugian berupa materi tidak kurang dari 20 juta Gulden dan 15.000 orang tentara Belanda tewas.

Sementara I Gusti Ngurah Rai lebih memilih untuk melakukan puputan daripada harus menyerah terhadap Belanda. Puputan Margarana, merupakan kisah heroik I Gusti Ngurah Rai dan rakyat Tabanan yang melawan Belanda dengan cara habis-habisan demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Bahkan rakyat Bandung lebih memilih untuk membakar kotanya sebelum mereka mengungsi ke Bandung Selatan, sebagai bentuk ketidak-relaan mereka atas kotanya yang direbut dan dikuasai oleh tentara sekutu dan NICA Belanda. Dibawah pimpinan Mohammad Toha, rakyat Bandung melakukan perlawanan dengan meninggalkan kota yang sebelumnya telah dibakar oleh mereka sendiri.

Empat peristiwa bersejarah diatas, merupakan contoh bentuk perjuangan yang dilakukan dengan heroik dan tanpa mengharapkan imbalan. Perjuangan mereka dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan sungguh luar biasa. Berkorban tenaga, harta, keluarga, bahkan nyawa. Atas jasa dan perjuangan mereka, pemerintah kemudian memberikan gelar pahlawan kepada mereka.

Pahlawan, merupakan seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.

Maka seringkali kita mendengar petuah dari para orangtua, bahwa selain Nabi, yang bisa dijadikan teladan bagi kita adalah para pahlawan. Karena mereka merupakan sosok yang berjuang dengan tulus ikhlas tanpa pamrih dan tanpa bermaksud menangguk keuntungan, baik pujian maupun keuntungan materi.

Hari ini, setelah lebih dari tujuh puluh tahun Indonesia merdeka, makna pahlawan semakin tergerus. Tergerus oleh waktu. Tergerus oleh keadaan. Walaupun masih ada, tapi semakin jarang kita jumpai tindakan-tindakan dan sikap yang menunjukkan semangat dan nilai-nilai kepahlawanan. Semakin jarang kita menemukan perilaku yang bersih dari pamrih. Segala sesuatu dilakukan selalu dengan memperhitungkan manfaat yang didapat.

Tengoklah di jalan raya. Kita kerap melihat ada seseorang yang seolah menunjukkan itikad baiknya dengan bersedia mengatur arus lalu-lintas. Tindakan mereka cukup membantu bagi kelancaran laju kendaraan. Namun jangan dikira itu dilakukan dengan tulus. Karena setelah dia merasa telah membantu, kemudian menengadahkan tangan bermaksud meminta imbalan.

Bahkan perilaku lebih konyol pun mereka lakukan. Dalam kondisi lancar dan sepi, dengan sigap mengatur arus kendaraan. Padahal tanpa tindakannya pun laju kendaraan tetap lancar. Alih-alih membantu, malah menyebabkan laju kendaraan menjadi tersendat.

Mari kita beralih ke parlemen. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat merupakan wakil rakyat yang berperan untuk menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Menduduki kursi terhormat, mendapatkan fasilitas yang jauh diatas layak. Mereka lah tumpuan harapan rakyat banyak. Dengan penghasilan yang besar, maka tak perlu lagi untuk mengeruk pundi-pundi harta dengan cara-cara yang bertentangan dengan peraturan.

Namun kita seringkali dihadapkan pada kasus-kasus korupsi yang terjadi pada mereka. Modusnya seolah menjadi pahlawan. Berkunjung ke daerah pemilihan, berjanji kepada konstituen untuk memperjuangkan pembangunan infra struktur. Mengkondisikan calon perusahaan pemenang tender proyek. Dan mendapatkan imbalan.

Lingkungan birokrat pun cukup kental dengan praktek-praktek yang seolah-olah menunjukkan sikap-sikap kepahlawanan. Oknum pejabat yang melakukan rekrutmen calon aparatur sipil negara, menjanjikan dapat mengupayakan seseorang mewujudkan mimpinya menjadi pegawai negeri sipil. Merasa berjasa atas bantuannya, menjadi alasan baginya untuk menerima imbalan.

Dunia swasta pun tak luput dari perilaku yang seolah sarat dengan semangat kepahlawanan. Untuk menjadi seorang pekerja atau buruh pada suatu perusahaan, kadang muncul yayasan atau aparat kantor kelurahan yang bersedia mengupayakan agar seseorang bisa diterima bekerja di perusahaan. Tentu saja kerelaan membantu itu tidak gratis. Maka tak heran bila seseorang gagal melamar pekerjaan, bukan karena tidak kompeten, namun karena ketiadaan uang untuk sogokan.

Lingkungan pendidikan yang notabene tempat tumbuhnya moral pun tidak lepas dari perilaku yang menunjukkan seolah-olah sarat dengan nilai-nilai kepahlawanan. Janji untuk bisa diterima menjadi siswa di sekolah favorit, padahal ada transaksi disana. Pemilihan rektor yang disinyalir disertai setoran. Sidang skripsi mahasiswa akhir yang dipermudah bila ada rupiah. Semua menunjukkan bahwa seolah ada jasa disana, padahal akhirnya impas terbayar.

Praktek percaloan yang terjadi di berbagai instansi pemerintah; kantor kelurahan, kantor dinas dalam bidang perizinan, kantor pajak, kantor penegak hukum, dan tempat publik lainnya, menunjukkan bahwa tindakan yang seolah sarat jasa padahal ada pamrih itu, telah merasuk ke berbagai aspek kehidupan kita.

Yang terbaru, Pemilu 2019 dengan tim sukses dan tim relawannya. Rela itu melakukan sesuatu dengan tidak mengharapkan imbalan. Dalam konteks Pilkada, mana ada yang mau bersusah-payah membela dan memberikan dukungan kepada pasangan calon tertentu tanpa ada imbalan dibelakangnya.

Merasa menjadi orang atau kelompok pertama yang membagikan tautan atau link di media sosial yang berisi informasi padahal bisa jadi informasi itu belum valid- juga seolah telah menjadi pahlawan. Gejala ini bisa kita temukan di berbagai media sosial, mulai dari Twitter, Facebook, BBM, WhatsApp, dan yang lainnya.

Seolah menjadi bagian dari assabiqunal awwalun ketika merasa sebagai orang pertama yang mengetahui informasi dan bergegas untuk membagikannya ke seluruh nomor kontak dan grup yang diikutinya. Seolah berjasa dan tunai sudah tanggung-jawab moralnya.

Padahal, kita kemudian kerap menerima informasi susulan yang meralatnya, yang membuktikan bahwa informasi yang dibagikan secara tergopoh itu tidak valid, bahkan salah.

Hari ini, kita memeringati Hari Pahlawan. Mari kita belajar pada mereka. Meneladani upaya, ikhtiar, dan perjuangan mereka, yang dilakukan secara tulus dan ikhlas tanpa menyertainya dengan harapan mendapatkan imbalan. Pahlawan yang kita sanjung, pahlawan yang kita kenang. Wallahualam.

 

Penulis adalah : Kader Mathla’ul Anwar

Komentar dibawah ini