Operasi Menjerat IRNA ?

0
0

Oleh : Zaenal Abidin

Penulis adalah : Ketua Lakpesdam NU Kabupaten Pandeglang

Raja Cao Cao menyerang negara Wu, negara kecil di Timur yang dikuasai Liu Bei. Tak Disangka kekuatan besar pasukan Cao Cao dibuat kocar kacir. Sebagian pasukan terluka dan mati mebusuk. Tak kehilangan akal, Raja Cao Cao mengirim mayat yang mebusuk lengkap dengan peralatan perang dengan rakit yang dilepas mengikuti aliran sungai. Pasukan Wu mengira Cao Cao menyerah. Ditariknya mayat mayat prajurit Cao Cao. Prajurit Wu berebut perhiasan dan peralatan perang. Cao Cao cerdik,mengirim mayat untuk menyebar penyakit menular. Kerajaan Wu diserang wabah mematikan.(sinopsis film red cliff)

***

Irna Narulita sebagai incumbent merasa diatas angin setelah diawal Partai keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional(PAN) terlebih dahulu memberikan dukungan, sekarang partai pemenangan Pemilu 2019 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memberikan dukungan untuk Irna maju kembali di pemilukada serentak tahun 2020. Media mengereknya menjadi berita utama, Irna-Tanto mendapat restu PDIP.

Bergabungnya PDIP Ke kubu petahana bukan tanpa isyarat politik. Petahana ingin mematahkan perang urat saraf dari kubu keluarga Jaya Baya yang digadang gadang menjadi penghalang kuat petahana kembali menduduki kursi Bupati. JB kental dengan dengan PDIP, jika ternyata Partai Banteng berada dikubu petahana, itu artinya jantung pertahanan politik JB mampu dijebol oleh kubu petahana. Petahana ingin menjungkalkan lawan berat dironde pertama dengan pukulan telak mendekati ulu hati. Pendukung bergemuruh bersorak, ” mungkin Diana maju dari jalur Independen” begitu teriak prajurit dimedia sosial.

Namun, selalu namanya politik tidak kehilangan seni untuk dinikmati. Strategi politik itu sesederhana permainan gunting-batu-kertas. Lawan main batu, kita main kertas, artinya lawan politik sedang menyerang habis habisan kita perkuat pertahanan dan barisan agar tidak terkoyak. Lawan main kertas, kita main gunting, artinya lawan melakukan konsolidasi kekuatan, kita gunting agar terpisah satu sama lain. Jika lawan main gunting, secepatnya kita timpah pake batu, sampai patah.

Dalam Kasus diraihnya PDIP oleh kubu petahana. Petahana main gunting, tapi kubu JB tidak menghajar dengan Batu. Justru PDIP dibiarkan dilepas tanpa perlawanan oleh Kubu JB bahkan merelakan begitu saja. apa mungkin kubu JB kalah dan berhenti bermain gunting-batu-kertas.?

apa mungkin ini sekenario menjerat Irna, karena pasca muncul pemberitaan dukungan PDIP, disusul masuknya Irna menjadi kader partai Banteng, justru menciptakan polemik. Baik yang semula mendukung seperti PKS langsung bereaksi, mengingat rivalitas dua partai ini begitu tajam di dua kali masa pemilu. Dua blok yang satu dinggap kiri habis, yang satu lagi disebut kanan habis, apabila mengharuskan dua kubu ini bersatu maksimalnya harus ada deal yang realistis. Diluar PKS, ada Nasdem yang merasa ditinggalkan tanpa pamrih, yang kemudian buru buru membangun koalisi dengan partai yang belum bergabung dengan petahana. Ada juga Demokrat yang masih mempertanyakan posisi irna sebagai kader demokrat. Muncul istilah “kutu loncat” ramai diperbincangan publik, padahal dalam kitab politik pindah partai sesuatu yang biasa.

Apa ini yang disebut politik “kuda troya” atau mungkin strategi politik Cao Cao yang mengirim mayat ke pasukan Wu mengingat perhelatan pilpres kemarin masih menyisakan opini – opini propaganda yang masih mengental diingatan, dimana jokowi kalah telak di Pandeglang dengan serangakaian serangan propaganda mengangkat isu PKI yang menjadikan antara abangan dengan kelompok santri hubungannya kian menganga.?

Sebenarnya, aksi saling “Jegal ” dukungan adalah sesuatu yang wajar dalam politik. Cara demikian dilakukan, semata untuk menjaga kans menang dalam pertarungan politik elektoral pilkada. Bagi incumbent, tentu dukungan parpol parpol sangat berarti, apalagi kubu lawan. Semua kandidat yang berupaya maju melalui jalur parpol, pasti membangun jejaring parpol. Disitulah barangkali seni dan dinamikanya akan terlihat, bagaimana tarik menarik dukungan terjadi dari mulai elit bawah sampai atas mendorong strategi pemenangan menjadi sesuatu yang penting. Bahkan fenomena aksi borong parpol terjadi di daerah daerah dan melawan kotak kosong.

Lantas bagaimana bangunan koalisi ditingkat daerah, apakah sama dengan koalisi pilpres kemarin?. Tentunya, konstalasi politik Nasional tidak bisa dicopy-paste ke dalam konstalasi politik lokal. Sangat dimungkinkan saat pilpres kemarin antar parpol bersebrangan, tapi di daerah membangun koalisi. Meskipun tidak dipungkiri, perhelatan pilpres kemarin masih menyisakan residu di akar rumput, dan bisa jadi kondisi tersebut akan ditambang menjadi bonus elektoral dalam pilkada serentak.

Naik turunnya iklim politik di Pandeglang baru baru ini, hanya dinamika politik yang baru saja dimulai. Kedepan akan banyak kejutan kejutan yang jauh diluar predikisi. Itulah politik, kata orang “satu detik bisa berubah”

Komentar dibawah ini