Pandeglang, Bak Embun Di Rumput Kering.

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk protes dari Lembaga Kajian & Pengembangan Manusia (LAKPESDAM) PCNU Pandeglang, terhadap Eksekutif dan Legisltif Kabupaten Pandeglang.

 

 

Oleh : Zaenal Abidin

 

 

 

Delapan bulan yang lalu, hujan tidak lagi turun. Masyarakat Pandeglang Selatan kesulitan air untuk mengairi sawah dimusim tanam padi. Akibatnya, empat bulan kemudian disaat panen tiba, Ratusan hektar pesawahan gagal panen (Puso). Padi tumbuh kerdil dan tidak mengasilkan bulir padi. Petani merugi.

Empat bulan yang lalu, Sumur-Sumur milik warga mengering. sebagian Masyarakat sudah mulai merasakan dampak musim kemarau, sebagian warga mulai menggunakan air sungai untuk kegiatan mandi dan cuci.

Tiga bulan yang lalu, sungai mengering. warga mulai membeli air untuk kebutuhan sehari hari dalam bentuk dirigen ke sejumlah kecil warga yang memiliki sumber air.

Dua bulan yang lalu, ketersedian air kian langka. Sementara mata pencaharian terhenti seiring lahan sudah tidak mampu ditanami tanaman. Warga masyarakat menghadapi dua musim sekaligus, musim kemarau panjan g dan musim paceklik (Paila). Dua duanya merupakan teror yang mereka terima setiap hari.

Satu bulan yang lalu, relawan dan pemerintah terlihat membantu mendistribusikan air dititik titik warga yang kesulitan air. Dihadapkan pada suhu ekstrim yang melanda wilayah Indonesia, termasuk Pandeglang. Kebutuhan Konsumsi air semakin meningkat. Daerah terdampak mulai meluas. sebagian besar wilayah Pandeglang mulai mengeluh kesulitan air.

Satu minggu yang lalu, warga kecamatan Panimbang dan Sobang mengadakan tradisi sedekah Bumi. Sebuah Ritual menyambut dimulainya musim tanam padi tiba. Ritual yang terpaksa dilakukan setelah sekian bulan menunggu datangnya hujan, tapi tak kunjung tiba. ” Sedekah Bumi tanpa Air Hujan, sama saja sedekah Bumi yang mengundang Air Mata para Petani”.

Semoga esok atau lusa kering kerontang musim Kemarau segera berlalu, datanglah musim Hujan. Hujan turun tak henti. Banjir pun datang. Kita bergegas kembali. Bencana datang lagi

Kemarau dan Banjir seakan silih datang berganti. Menjadi teror yang harus diterima sebagai musibah, meskipun disana sini menelan kerugian baik materil maupun imateril. “ Ya sudah,Terima saja apa adanya”.

Fenomena bencana alam, seperti Kemarau dan Banjir berkali kali mendera disebagian daerah kita, dan kemarau kali ini merupakan yang terpanjang 15 tahun terakhir. Karena sering, seharusnya Program penanggulangan kebencanaan, sudah selayaknya dan patut tidak boleh berhenti pada program ” Sosial ” semata yang fokus pada penangan dampak yang sifatnya sementara.

Bantuan yang sifatnya mendesak memang penting dilakukan, akan tetapi tidak juga melupakan program keberlanjutan. Fokus sesegera mungkin di ubah haluan, dari pendekatan penanganan bencana berorientasi “Sosial” unsich, beralih orientasinya menjadi ” program pembangunan kebencanaan “, baik dalam program jangka pendek dan menengah (RPJM) maupun program pembangunan jangka panjang (RJP) pemerintah daerah.

Sehingga kedepan, strategi pemerintah mengenai bencana alam bukan menjadi program”santunan” pemerintah daerah, melainkan menjadi program unggulan kerja pemerintah dalam membangun daerah.

Dalam Menyikapi hal itu, kami atasnama LAKPESDAM PCNU Pandeglang, mendukung pemerintah daerah untuk melakukan langkah kongkrit sesegera mungkin.

Yang pertama, demi memenuhi rasa empati dan kepedulian kepada warga terdampak bencana kekeringan yang lebih dari 6 bulan kesulitan air. Kami mendorong pemerintah Daerah untuk mengeluarkan status ” tanggap Bencana kekeringan sekurang kurangnya selama 14 hari”.
Kedua, mendorong pemerintah Daerah untuk mencairkan Dana Tidak Terduga yang digunakan untuk penangan tanggap bencana Kekeringan.

Ketiga, mendorong Pemerintah Daerah untuk menyediakan tenda tenda darurat untuk keperluan, mandi, cuci dan minum di daerah yang paling parah kesulitan air. (BPBD dan Dinsos)

Keempat, Kepada Dinas Pertanian agar lebih aktif mensosialisasikan kondisi cuaca dan musim tanam kepada petani, sehingga petani lebih banyak alternatif untuk bercocok tanam selain padi, ditengah ketidakpastian musim penghujan.

Kelima, mendorong Pemerintah untuk mengeluarkan bantuan modal tanam padi bagi para petani. Mengingat lamanya musim Kemarau mengakibatkan petani kesulitan modal tanam ditambah biaya hidup selama 4 bulan menunggu hasil panen berikutnya.

Dan yang terakhir, Lakpesdam mendorong pemerintah daerah untuk memasukan penanganan bencana kemarau dan banjir sebagai program pembangunan jangka pendek dan menengah maupun jangka panjang. semisal membuat proyek strategis daerah membuat waduk atau embung skala besar untuk menampung air dikala musim penghujan dan digunakan pada saat musim kemarau, disertai optimalisasi fungsi irigasi, dan lain sebagainya.

Demikian yang LAKPESDAM  sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Penulis adalah : Ketua Lembaga Kajian & Pengembangan Manusia (LAKPESDAM) PCNU Pandeglang.

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *