Panic Buying Susu Beruang (Bukan Obat, Bukan Vaksin, Hanya Susu Steril Biasa)

0
272

 


Oleh : Dr. apt. Yusransyah, M.Sc.
Penulis : Akademisi dan Praktisi Kesehatan

Teringat akan petuah Ibnu Sina, Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan. Kiranya nasihat Bapak Kedokteran Modern itu sangat sesuai dengan fenomena yang terjadi di masa pandemi ini. Belakangan sebagian masyarakat mengalami panic buying, termasuk terhadap susu beruang (bear brand). Masyarakat berspekulasi bahwa susu ini dapat menjadi penangkal, bahkan obat bagi virus Corona (Covid-19).

Sebelumnya tidak sedikit dari kita yang berasumsi bahwa susu beruang bisa mengobati batuk, demam bahkan flu. Selain itu, ada juga anggapan kalau susu ini bisa membersihkan paru-paru. Tak ayal, muncullah segelintir pihak yang bereaksi untuk menimbun dan mencari keuntungan. Susu yang dulunya seharga delapan ribu rupiah (Rp.8.000;), kini bisa dijual dengan kisaran harga Rp.15.000;-Rp.20.000; per kaleng.

Jika kita membicarakan tentang susu, sebenarnya kandungannya kurang lebih adalah sama. Kandungan/komposisi ini bisa kita lihat dan baca dari label yang tertera pada kemasan susu tersebut. Inilah pentingnya kita sebagai konsumen membaca sebelum membeli suatu produk. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga selalu melakukan sosialisasi Cek KLIK (Cek Kemasan, Label, Izin Edar dan Kedaluarsa).

Yang perlu kita waspadai adalah iklan-iklan yang sifatnya overclaimed (mengklaim secara berlebihan atas suatu produk) dan akhirnya menggiring opini masyarakat, bahkan membuat asumsi sendiri serta banyak yang menjadi ikut-ikutan. Padahal rata-rata kandungan gizi dari susu steril maupun susu UHT (Ultra High Temperature) adalah kurang lebih sama, termasuk-pun khasiatnya sebagai tambahan asupan protein dan nutrisi dari luar tubuh.
Susu memang dapat membantu menjaga kondisi fisiologis tubuh dan meningkatkan imunitas tubuh. Hal ini karena susu mengandung komponen makronutrien seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, asam amino esensial, dan nilai biologis atau Net Protein Utilization sebesar 90%, yang nilainya lebih tinggi dibanding sumber protein lain. Nilai biologis menunjukkan prosentase protein yang benar-benar bisa diserap dan digunakan tubuh. Selain menjadi sumber nutrisi, susu juga memiliki sifat bio-fungsional atau bioaktif yang artinya komponen atau senyawa asal susu turut berkontribusi terhadap perbaikan fungsi fisiologis tubuh. Dengan bergitu, kandungan dalam susu dapat membantu meningkatkan status kesehatan tubuh, dan bersifat antikanker, antipatogen, antiinflamasi, dan memiliki aktivitas antioksidan.

Wilson V, dkk (2008), menerangkan bahwa panic buying dapat dipahami sebagai bentuk mekanisme bertahan hidup atau insting hidup yang membuat masyarakat takut mati, yang mana mereka melakukan hal tersebut sebagai usaha melindungi dan mempertahankan diri. Usaha pemenuhan kebutuhan fisiologis seringkali membuat orang berpikir dangkal yang menurut Jinqiu (2003) dapat menyebabkan kekurangan pasokan dan gangguan sosial. Penelitian Wilson tersebut memberikan penjelasan bahwa kecemasan yang tidak dapat dikendalikan akan melahirkan kepanikan. Kepanikan ini sendiri tidak akan terjadi, jika masyarakat mampu mengutamakan pikiran rasionalnya, sehingga perubahan perilaku dalam pembelian tidak akan terjadi.

Menurut Shadiqi, dkk (2020), ciri-ciri khas dari panic buying adalah perilaku yang tiba-tiba, tidak terkontrol, terjadi pada banyak orang, terlihat berlebihan, dan disebabkan oleh kekhawatiran. Beberapa faktor penyebab perilaku panic buying, yaitu faktor dari perilaku konsumen (munculnya persepsi kelangkaan barang), adanya ketakutan, kecemasan, perasaan tidak aman, konflik psikologis, stres, persepsi ketidakpastian, dan paparan media. Beberapa saran implikasi praktis menghadapi panic buying, yaitu (1) membatasi penjualan barang, misal setiap orang boleh membeli dengan jumlah tertentu setiap waktu tertentu (per minggu) dan penerapan besaran harga berkali-kali lipat jika konsumen membeli lebih dari jumlah yang ditentukan; (2) membuat aturan prioritas bagi orang lanjut usia dan anak-anak; (3) menguatkan peran otoritas dalam mengontrol harga, mengatur penyaluran barang, dan menindak oknum yang merugikan konsumen; (4) menyediakan pembelian barang secara daring dengan tetap menerapkan aturan jumlah barang dan prioritas pembeli; (5) menyebarkan informasi positif, jelas, terbuka, dan proporsional mengenai ketersediaan barang; (6) menekan penyebaran informasi yang menyesatkan dan palsu (hoaks) (Shadiqi, dkk, 2020).

Masyarakat juga diharapkan tidak perlu panic buying pada merk susu tertentu, karena kandungan manfaat tiap jenis susu hampir serupa. Sama-sama sebagai sumber pangan yang bermanfaat menjaga proses metabolisme, meningkatkan imunitas, dan mencegah inflamasi. Masyarakat juga dihimbau agar terus mengkonsumsi protein, baik protein hewani (misal ikan, telur, daging merah, daging unggas, dan produk olahan susu seperti keju, krim, mentega, susu formula dan lain-lain) maupun protein nabati (misal biji-bijian, kacang-kacangan, alpukat, sayuran dan lain-lain), sebagai sumber serat dalam rangka melakukan pola makan sehat, beragam dan seimbang, guna meningkatkan imunitas tubuh untuk mencegah infeksi Covid-19. Masyarakat juga harus selalu berfikir rasional dan tetap tenang dalam menyikapi berita-berita yang sifatnya masih diragukan. Hal ini sesuai dengan nasihat dari Ibnu Sina di awal tulisan ini, Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan. Semoga kita semua bisa melalui pandemi ini dan Allah Subhanahu Wa Ta`ala senantiasa melindungi kita semua, Aamiin yaa Robbal`aalamiin.

 

Kontak Penulis :

Email: yusranfarmasis@gmail.com

Hp. 0818-0275-9919

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here