Partai Gelora Jadi Puncak Kekebalan PKS

0
2

 

Oleh : Nuradi Sulaiman Harun

Penulis adalah : Pemerhati Partai

 

“Ini merupakan sebuah konspirasi besar yang bertujuan menghancurkan partai ini” Meminjam Istilah AM ketika pertama kali beliau diangkat menjadi presiden PKS menggantikan Ustadz LHI kala itu.

Mencermati lahirnya sebuah gerakan baru yang di dalamnya ada beberapa orang yang pernah memimpin PKS, bukan serta merta ada begitu saja, melainkan sebuah “gerakan bawah tanah” yang tersusun dan sistematis, namun dirancang sedemikian rupa sehingga kesannya seperti dizhalimi dan oleh beberapa orang di jajaran pimpinan PKS.

Kalau kita merujuk kepada Sirah Nabawiyah, hal demikian adalah sunatullah dimana Rasulullah SAW juga merasakan, intimidasi, sabotase, pembunuhan sampai penghianat beberapa Yahudi di Madinah dan penyusupan orang-orang munafik dalam setiap perperangan guna melemahkan semangat kaum muslimin untuk tidak ikut berperang, atau mundur ke belakang untuk tidak patuh pada Rasulullah SAW atau siapapun pimpinan yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW dalam perperangan di saat beliau tidak bisa mengikuti suatu peperangan.

Memang semenjak gerakan dakwah ini ada, sudah banyak upaya yang dilakukan oleh orang yang tidak senang dengan dakwah ini, mulai dari memasukan para pendirinya ke dalam penjara, dan disusupi oleh intel.

Terlebih lagi ketika gerakan dakwah menjadi sebuah partai politik mulanya PK dan akhirnya PKS, berbagai macam dinamika pun dirancang, merekayasa kasus video porno, dokumen fiktif, sampai isu korupsi impor daging sapi yang menyeret Presiden PKS dan hingga kini masih penuh misteri.

Dan selalu saja PKS keluar menjadi pemenang setelah kejadian itu karena mereka lebih tau bagaimana cara mengelola prahara menjadi anugrah.

Jika selama ini upaya dilakukan merusak dari luar, ini upaya perusakan PKS dari luar dianggap gagal, sehingga lahirlah upaya “pembusukan” dari dalam, bahkan dilakukan oleh beberapa orang yg sudah keluar dan akan keluar dari PKS.

Partai Gelora, ya itulah gerakan arah baru yang lahir secara tanpa disadari sebagai upaya sistematis untuk melemahkan PKS terlebih menjelang pilkada 2020 dan Pemilu 2024 kelak dengan target utama PKS kalah di setiap pilkada dan tidak lolos treshold di Pemilu 2024 kelak.

Sudah bisa ditebak arahnya walaupun hari ini baru berbentuk gerakan saja, hingga pada akhirnya berdirilah sebuah partai politik.

Hanya saja skenarionya dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terlalu kentara betul terbaca bahwa ini sebuah partai “tandingan”, design-nya sederhana, seakan-akan mereka terzhalimi dalam keputusan pemecatan, atau tidak di ikutkan dalam kebijakan PKS.

Konflik pun digiring kepada personal, seolah-olah keputusan syuro yang lahir adalah keputusan personal beberapa pimpinan PKS saja.

Padahal dari dahulu kita dididik, bahwa jangankan untuk sebuah keputusan sekelas DPP, level paling rendah pun, DPC atau bahkan DPRa semua berdasarkan syuro yang sesuai Al-Qur’an dan Sunnah seraya berharap Ridha Allah SWT, agar tidak bercampur dengan syahwat duniawi.

Lucu memang ketika yang menjadi tokoh utama partai gelora menyebarkan bahwa lahirnya partai gelora karena qiyadah PKS saat ini telah gagal dalam memimpin partai sehingga PKS telah mengalami kemunduran.

Mereka menyamakan kondisi Indonesia saat ini dengan situasi politik di Turki yg bagi saya tidaklah ideal.
Ketika berbeda pandangan dengan Erbakan kemudian Erdogan yang saat ini berhasil memimpin Turki, kala itu partainya Erbakan pernah menang dan memimpin Turki hingga akhirnya mundur karena Kudeta.

Atau mereka beranggapan memiliki ide yang lebih bagus untuk mengelola negara. Saya ingin katakan jika memang ide tersebut bagus, kenapa tidak diusulkan saja dalam penyusunan gagasan PKS, toh mereka juga masuk dalam jajaran petinggi PKS yang didengar katanya.?

Lain halnya ketika yang bersangkutan tersebut terpilih menjadi Presiden PKS, besar keyakinan saya bahwa tidak akan lahir gerakan ini.!

Lantas kenapa ketika ide tidak diterima, apakah kemudian kita mendirikan gerakan baru.?

Nah jika setiap ide yang tidak terakomodir harus membuat setiap gerakan baru, harus terpecah berapa lagi dakwah ini.?

Bukankah kita diajarkan, kumpulan orang yang kecewa itu, akan melahirkan kekecewaan.?

Dan yg lebih menyedihkan adalah ketika menanamkan kebencian kepada para qiyadah, mereka yang dahulu pernah mentarbiyah, mengajarkan agar kita patuh pada Allah, Rasul dan pemimpin, bagaimana mungkin kini malah sebaliknya.?

Itu sudah cukup menjadi subhat pemikiran yang ditanamkan kepada orang yang bergabung kepada partai Gelora.

Saudaraku, tidak tersisa lagikah ukhuwah di hati kita.?

Apakah sudah tercerabut rasa itu, sehingga seolah tanpa beban kita kecam, menuduh yang jauh dari nilai kebenaran yang diajarkan, sampai tumbuhnya bibit kebencian.

Seakan kita bahagia memperlihatkan seluruh isi dapur kita pada orang di luar sana.?

Kalau kata orang Minang, ” berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, yg maknanya (Apapun yang kita lakukan, maka kita sendiri yang rugi), jauh banget artinya.

Saudaraku tidak bernaungkah lagi prasangka baik, hingga sebegitu mudahnya kita menerima berita yang menjelekkan orang yang selama ini menjadi pimpinan PKS.

Saya teringat kisah di saat Ibunda Aisyah RA yang fitnah telah melakukan zina dengan sahabat yang bernama Shafwan, orang munafik pun turut menyebarkan fitnah tersebut hingga turunlah firman Allah SWT dalam surat An-Nur.

Yang menarik adalah percakapan sepasang suami istri yang kala itu istri bertanya pada suaminya.
Wahai suamiku, apakah engkau percaya bahwa Ibunda Aisyah RA dan Shafwan melakukannya.?

Suaminya balik bertanya “Apakah engkau percaya jika ada yang memberitakan bahwa aku melakukan zina dengan seseorang?” Istrinya menjawab “tidak”
Kemudian suaminya menambahkan, begitupun saya juga tidak percaya jika ada yang mengatakan bahwa engkau berzina wahai istriku.
Lantas apa hubungannya dengan pertanyaan saya tadi? Tanya sang istri kembali.

Kemudian suaminya menjawab dengan jawaban yang luar biasa.
“Saya tidak sebaik Shafwan, sedangkan Ibunda Aisyah RA tidak semulia engkau wahai istriku, jika kita berdua saja tidak mungkin melakukan demikian, apalagi mereka yang jauh lebih baik dari kita” Setelah itu barulah turun QS surat An-Nur yang menjelaskan hukuman terhadap orang yang telah menyebarkan berita bohong tersebut.

Saudaraku, kalau pribadi ini saja tidak mungkin melakukan tindakan seperti yang dituduhkan kepada qiyadah PKS selama ini, bagaimana mungkin saya percaya dengan tuduhan yang menyudutkan para qiyadah PKS apalagi seorang ketua Majelis Syuro Habib Salim yang darah Rasulullah mengalir di jiwanya.

Benarlah kata orang bijak “Zaman Berubah Kekaguman Beralih” jika dahulu saya begitu kagum pada sosok yang begitu vokal, pintar berorasi, kini hal itu teralihkan kepada sesiapa saja mereka yang bertahan dalam kendaraan dakwah ini, apakah Allah SWT putuskan menang, atau syahid di jalan-Nya.

Percayalah, bahwa jika ada yang mengatakan bahwa lahirnya partai Gelora merupakan akhir PKS, saya katakan bahwa itu keliru.
Karena PKS bukanlah punya pribadi atau personal.

Ketertarikan orang pada PKS bukan karena ada sosok yang berpengaruh di partai ini, melainkan karena PKS menjalankan manjah tertinggi yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

Itulah kenapa GNPF Ulama secara terang-terangan memberikan dukungan pada partai ini.

Ketahuilah bahwa PKS tidak akan berakhir dengan adanya partai Gelora, karena pemilik sah dakwah ini adalah Allah SWT.

Mereka disana (PKS) hanyalah orang yang diamanahkan untuk menahkodai dakwah ini.

Saudaraku, janganlah terburu-buru mencapai sebuah tujuan, bersabarlah karena kemenangan sejati itu ada karena Allah SWT telah Ridha dengan kita.

Itulah sebabnya yang pertama kali diminta oleh pasukan Thalut ketika menghadapi Jalut bukanlah kekuatan, tetapi kesabaran agar langkah ini terus kokoh hingga akhirnya Allah SWT Ridha dengan kemenangan.

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

-Surat Al-Baqarah, Ayat 250

Saudaraku, ketahuilah sejak zaman Rasulullah SAW hingga ummat ini musnah nantinya bahwa kemenangan kaum muslimin bukan karena banyaknya kita atau bahkan hebatnya strategi kita, akan tetapi karena taatnya kita, sedangkan musuh-musuh kita tengah sibuk dengan maksiatnya.

Percayalah
Sehebat apapun partai Gelora nantinya, itu semuanya didirikan di atas pondasi yang rapuh.

Kenapa rapuh, karena yang pertama telah menanamkan kebencian kepada qiyadah yang sah.

Bukankah dakwah ini adalah cinta, demi cinta kita siap mengorbankan apapun yang kita miliki.

Masih terngiang ditelinga ini nasehat sosok yang mengajarkan cinta pada dakwah ini hingga tak berseri jumlahnya, bahkan ada juga buku yang berjudul “serial cinta”.

Bagaimana mungkin hari ini beliau mengajarkan kebencian dan melemahkan sosok-sosok yang diamanahkan mengemudi kendaraan ini.?

Bukankah itu rapuh.?
Bukankah beliau juga bisa menjadi sasaran kebencian nantinya ketika ada yang tidak disukai oleh pengikutnya?

Yang kedua, memanfaatkan kekaguman figuritas yang tidak akan pernah sempurna selagi Allah SWT tutupi kekurangannya.

Sejatinya kagum pada figuritas itu adalah hal yang wajar.
Sebabnya jangankan kita, sosok mulia Umar bin Khattab RA saja seakan tidak terima ketika Rasulullah SAW wafat.
Barulah ketika seorang yang bergelar Ashiddiq Abu Bakar RA berpidato dengan mengatakan.

“Ingatlah, barangsiapa menyembah Muhammad shallallahu alaihi wasallam maka Muhammad telah wafat, dan barangsiapa menyembah Allah maka Allah Maha hidup tidak akan mati..”

Sahabat kemudian menangis menyadari kekeliruan mereka, bahwa sesungguhnya cukuplah Allah SWT tempat bergantung kita.

Kalau kondisi itu ditarik kepada PKS, maka sesiapa yang bergabung dengan dakwah ini karena AM, FH, MS atau sesiapapun sosok yang dikagumi selama maka sesungguhnya mereka sudah tidak akan bersama kendaraan dakwah ini.

Tetapi jika bergabung karena Allah SWT, maka teruslah bertahan sampai Allah putuskan bahwa kemenangan pada kita, atau Allah SWT tetapkan kita syahid di jalan-Nya.

Maka lahirnya partai Gelora bukan pertanda akhir PKS, melainkan menjadi puncak kekebalan PKS, karena setelah ini, PKS menjadi partai besar yang sudah melewati konspirasi dari luar dan dalam kemudian menjadi imun sehingga terus melakukan lompatan demi lompatan Insyaa Allah.

Komentar dibawah ini