Pemakaman Jenazah Covid-19 Menurut Hukum Positif Dan Hukum Islam

0
2

Oleh : Hotmaria Hertawaty Sijabat

Penulis adalah : Dosen pada Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Mahasiswa Fakultas Hukum Univesitas 17 Agustus 1945 Jakarta

 

Penyakit korona virus 2019 ( coronavirus disease 2019, disingkat COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, salah satu jenis virus korona. Penyakit ini mengakibatkan pandemi koronavirus 20192020. Penderita COVID-19 dapat mengalami demam, batuk kering, dan kesulitan bernapas, sakit tenggorokan, pilek, atau bersin-bersin. Bahkan sampai saat ini ditemukan juga orang tanpa gejala. Pada penderita yang paling rentan, yaitu golongan usia di atas 45 tahun, penyakit ini dapat berujung pada pneumonia dan kegagalan multi organ yang menyebabkan kematian.

Infeksi Covid-19 menyebar dari satu orang ke orang lain melalui percikan (droplet) dari saluran pernapasan yang sering dihasilkan saat batuk atau bersin. Waktu dari paparan virus hingga timbulnya gejala klinis berkisar antara 114 hari dengan rata-rata 5 hari. Metode standar diagnosis adalah uji reaksi berantai polimerase transkripsi-balik (rRT-PCR) dari usap nasofaring atau sampel dahak dengan hasil dalam beberapa jam hingga 2 hari. Pemeriksaan antibodi dari sampel serum darah juga dapat digunakan dengan hasil dalam beberapa hari. Infeksi juga dapat didiagnosis dari kombinasi gejala, faktor risiko, dan pemindaian tomografi terkomputasi pada dada yang menunjukkan gejala pneumonia.

Saat ini kasus Covid 19 semakin banyak menimpa masyarakat. Tidak hanya sampai di situ, yang menyedihkan dan tragis, pasien atau warga yang meninggal, masih banyak yang diperdebatkan saat proses pemakamannya. Salah satu yang menggugah penulis untuk membuat tulisan ini adalah kasus penolakan jenazah perawat positif Corona di Semarang. Selain perawat ternyata masih banyak warga masyarakat yang menolak saat jenazah pasien ini hendak dikuburkan. Saat ini sudah terdapat regulasi hukum positif dan Fatwa MUI untuk masyarakat.

Berdasarkan Undang-Undang No 4 / 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dalam Bab V tentang upaya penanggulangan, Pasal 5 dijelaskan upaya penanggulangan wabah meliputi:

1. Penyelidikan epidemiologis;
2. Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita, termasuk tindakan karantina;
3. Pencegahan dan pengebalan;
4. Pemusnahan penyebab penyakit;
5. Penanganan jenazah akibat wabah;
6. Penyuluhan kepada masyarakat;
7.Upaya penanggulangan lainnya.

Dalam pasal 14 UU No 4 / 1984 tentang wabah penyakit menular berisi:

(1) Barang siapa dengan sengaja menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 1 (satu) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah).

(2) Barang siapa karena kealpaannya mengakibatkan terhalangnya pelaksanaan penanggulangan wabah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 6(enam) bulan dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah).

(3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) adalah pelanggaran.

Sehubungan dengan hal tersebut, untuk jenazah pasien Covid-19 yang beragama Islam, dalam Fatwa MUI ( Majelis Ulama Indonesia) No. 14 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19 telah diatur ketentuan hukum bahwa dalam pengurusan jenazah (tajhiz janazah) terpapar Covid-19, terutama dalam memandikan dan mengkafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariah. Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar COVID-19. Dalam Fatwa MUI nomor 18 tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah (tajhiz al-janaiz) Muslim yang Terinfeksi COVID-19 terdapat juga beberapa ketentuan hukum. Ketentuan hukum tersebut adalah:

1. Menegaskan kembali Ketentuan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 angka 7 yang menetapkan: Pengurusan jenazah (tajhiz al-janaiz) yang terpapar COVID-19, terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar COVID-19.

2. Umat Islam yang wafat karena wabah COVID-19 dalam pandangan syara termasuk kategori syahid akhirat dan hak-hak jenazahnya wajib dipenuhi, yaitu dimandikan, dikafani, dishalati, dan dikuburkan, yang pelaksanaannya wajib menjaga keselamatan petugas dengan mematuhi ketentuan-ketentuan protokol medis.

3. Pedoman memandikan jenazah yang terpapar COVID-19 dilakukan sebagai berikut:

a. jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya;
b. petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah yang dimandikan dan dikafani;
c. jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis kelamin sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada, dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian. Jika tidak, maka ditayammumkan;
d. petugas membersihkan najis (jika ada) sebelum memandikan;
e. petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan air secara merata ke seluruh tubuh;
f. jika atas pertimbangan ahli yang terpercaya bahwa jenazah tidak mungkin dimandikan, maka dapat diganti dengan tayamum sesuai ketentuan syariah, yaitu dengan cara:
1) mengusap wajah dan kedua tangan jenazah (minimal sampai pergelangan) dengan debu;
2) untuk kepentingan perlindungan diri pada saat mengusap, petugas tetap menggunakan APD.
g. jika menurut pendapat ahli yang terpercaya bahwa memandikan atau menayamumkan tidak mungkin dilakukan karena membahayakan petugas, maka berdasarkan ketentuan dlarurat syariyyah, jenazah tidak dimandikan atau ditayamumkan.

4. Pedoman mengafani jenazah yang terpapar COVID-19 dilakukan sebagai berikut:

a. Setelah jenazah dimandikan atau ditayamumkan, atau karena darurat syariyah tidak dimandikan atau ditayamumkan, maka jenazah dikafani dengan menggunakan kain yang menutup seluruh tubuh dan dimasukkan ke dalam kantong jenazah yang aman dan tidak tembus air untuk mencegah penyebaran virus dan menjaga keselamatan petugas;

b. Setelah pengafanan selesai, jenazah dimasukkan ke dalam peti jenazah yang tidak tembus air dan udara dengan dimiringkan ke kanan sehingga saat dikuburkan jenazah menghadap ke arah kiblat.

c. Jika setelah dikafani masih ditemukan najis pada jenazah, maka petugas dapat mengabaikan najis tersebut.

5. Pedoman menyalatkan jenazah yang terpapar COVID-19 dilakukan sebagai berikut:
a. Disunnahkan menyegerakan shalat jenazah setelah dikafani;
b. Dilakukan di tempat yang aman dari penularan COVID-19;
c. Dilakukan oleh umat Islam secara langsung (hadhir) minimal satu orang. Jika memungkinkan, boleh dishalatkan di kuburan sebelum atau sesudah dimakamkan. Jika tidak dimungkinkan, maka boleh dishalatkan dari jauh (shalat ghaib);
d. Pihak yang menyalatkan wajib menjaga diri dari penularan COVID-19.

6. Pedoman menguburkan jenazah yang terpapar COVID-19 dilakukan sebagai berikut:
a. Dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah dan protokol medis.
b. Dilakukan dengan cara memasukkan jenazah bersama petinya ke dalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik, dan kafan.
c. Penguburan beberapa jenazah dalam satu liang kubur dibolehkan karena darurat (al- dlarurah al-syariyyah) sebagaimana diatur dalam ketentuan fatwa MUI nomor 34 tahun 2004 tentang Pengurusan Jenazah (Tajhiz al-Janaiz) Dalam Keadaan Darurat.

Untuk DKI Jakarta telah diterbitkan Surat Edaran Nomor 55/SE/Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pemulasaran Jenazah Pasien Covid-19 DKI Jakarta. Berikut adalah prosedur lengkap pemulasaran jenazah pasien Covid-19
A. Ruang rawat/kamar isolasi
1. Petugas
a. Persiapan. Seluruh petugas pemulasaran jenazah harus menjalankan kewaspadaan standar ketika menangani pasien yang meninggal akibat penyakit menular.
b. Berikan penjelasan.  Petugas memberikan penjelasan kepada pihak keluarga tentang penanganan kusus bagi jenazah yang meninggal dengan penyakit menular. (Penjelasan terkait sensitivitas agama, adat istiadat, dan budaya).
c. Melihat jenazah.  Jika ada keluarga yang ingin melihat jenazah, diizinkan dengan syarat memakai alat pelindung diri (APD) lengkap sebelum jenazah masuk kantong jenazah.
d. Gunakan APD lengkap. Petugas yang menangani jenazah memakai APD lengkap (gaun sekali pakai, lengan panjang dan kedap air, sarung tangan nonsteril (satu lapis) yang menutupi manset gaun, pelindung wajah atau kacamata/google (untuk antisipasi adanya percikan cairan tubuh), masker beda, celemek karet (apron), dan sepatu tertutup yang tahan air.
e. Yang tidak diperkenankan melihat jenazah. Selain yang disebutkan di atas tidak diperkenankan untuk memasuki ruangan.  Baca juga: Ini Petunjuk Teknis Memakamkan Pasien Positif Covid-19.

2. Perlakuan terhadap jenazah
a. Suntik pengawet Tidak dilakukan suntik pengawet dan tidak dibalsem.
b. Dibungkus plastik Jenazah dibungkus dengan menggunakan kain kafan kemudian dibungkus dengan bahan dari plastik (tidak tembus air) setelah itu diikat.
c. Kantong jenazah Masukkan jenazah ke dalam kantong jenazah yang tidak mudah tembus.
d. Tidak ada kebocoran Pastikan tidak ada kebocoran cairan tubuh yang mencemari bagian luar kantong jenazah.
e. Kantong jenazah disegel Pastikan kantong jenazah disegel dan tidak boleh dibuka lagi.
f. Disindeksi kantong jenazah Lakukan disinfeksi bagian luar kantong jenazah menggunakan cairan disinfektan.
g. Gunakan brankar khusus Jenazah hendaknya dibawa menggunakan brankar khusus ke ruangan pemulasaran jenazah/kamar jenazah oleh petugas dengan memerhatikan kewaspadaan standar.
h. Autopsi Jika akan diautopsi hanya dapat dilakukan oleh petugas khusus, autopsi dapat dilakukan jika sudah ada izin dari pihak keluarga dan direktur RS.

Untuk Kota Bekasi, Walikota Bekasi mengeluarkan surat edaran yang membahas tentang proses pemakaman ini. Berdasarkan Surat Edaran Walikota Bekasi tanggal 30 Maret 2020 No 469/2320/SETDA.TU mengenai Pelaksanaan Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19 di Kota Bekasi, dijelaskan tentang perlakuan terhadap jenazah, yaitu :
1. Tidak dilakukan suntik pengawet dan tidak dibalsem;
2. Jenazah dibungkus dengan menggunakan kain kafan kemudian dibungkus dengan bahan plastic ( tidak tembus air ), setelah itu diikat;
3. Masukkan jenazah kedalam kntong jenazah yang tidak mudah tembus;
4. Pastikan tidak ada kebocoran cairan tubuh yang dapat mencemai bagian luar kantong jenazah;
5. Pastikan kantong jenazah disegel dan tidak boleh dibuka lagi;
6. Lakukan desinfeksi bagian luar kantong jenazah menggunakan cairan desinfektan;
7. Jenazah hendaknya dibawa menggunakan brankar khusus keruangan pemulasaran jenazah / kamar jenazah oleh petugas degan memperhatikan kewaspadaan standar;
8. Jika akan diautopsi dapat dilakukan oleh petugas khusus, autopsi dapat dilakukan jika sudah ada ijin dari pihak keluarga dan direktur Rumah Sakit.

Dari penjelasan yang diberikan di atas, tidak ada perbedaan mendasar mengenai tata cara penanganan pemulasaran dan/ atau pemakaman jenazah selama pandemi Covid-19 menurut hukum positif dan hukum islam.

Komentar dibawah ini