Pengabdi Bansos

0
242

Oleh : Guruh Andrianto

Penulis adalah : Pekerja Sosial Tinggal di Rangakasbitung Lebak-Banten.

Pernah merasakan kecanduan sesuatu? Kecanduan akan sesuatu hal biasanya dimulai dari sedikit demi sedikit dan setelah merasakan sensasinya pada akhirnya menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi dan merasa bahwa hidupnya tidak bisa lepas darinya. Orang yang sudah kecanduan akan sulit melepaskan diri dari ketergantungannya pada sesuatu. Jika sampai tidak mendapatkan sesuatu yang sudah dicandunya itu maka timbul rasa sakit baik pada fisik maupun mental. Dalam dunia medis, penyembuhan akibat kecanduan bisa dilakukan dengan pengobatan rutin dan terapi. Selain itu, konseling juga bisa dilakukan sebagai penyembuhan dari sisi psikologis.

Contoh sederhana dari sebuah kecanduan adalah kebiasaan merokok. Berawal dari niat iseng kemudian coba – coba menghisap satu batang rokok hingga akhirnya meningkat dari beli rokok ketengan hingga akhirnya membeli 1 bungkus rokok. Pada fase kecanduan rokok yang akut, orang akan lebih memilih membeli rokok dari pada beli sebungkus nasi saat uang menipis dan harus memilih antara nasi atau rokok. Padahal jika dipikir dengan akal sehat, orang bisa bertahan hidup justru dengan makan bukan dengan merokok. Untuk menyembuhkan seseorang akibat kecanduan rokok diperlukan usaha yang serius dari terapi maupun membuang racun tubuh sehingga seorang pecandu rokok bisa teralihkan perhatiannya dari keinginan untuk merokok.

Begitu juga dengan adanya fenomena kecanduan bantuan sosial yang akhir – akhir ini dialami oleh sebagian masyarakat. Berawal dari pemberian bantuan sosial yang dilakukan oleh Pemerintah kepada keluarga miskin dalam beberapa bentuk program seperti PKH, BSP Sembako, PIP/KIP dan PIS/KIS juga BST maupun Sembako Covid 19, hampir sebagian besar masyarakat merasa berhak atas beberapa bantuan sosial tersebut. Mereka beramai – ramai mendaftarkan diri supaya bisa masuk dalam DTKS meskipun sebenarnya kondisi sosial ekonomi mereka tidak memenuhi syarat dan kriteria sebagai keluarga miskin yang ditetapkan dalam DTKS.

Padahal seperti yang kita ketahui, tidak semua bantuan sosial itu ditujukan bagi keluarga miskin yang tercatat dalam DTKS dan jenis bantuan sosialnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi sosial keluarga miskin tersebut. Di sisi lain, sebagian keluarga miskin yang sudah tercatat dalam DTKS justru sepertinya enggan melepaskan bantuan sosial yang selama ini sudah diterimanya padahal kondisi sosialnya sudah mengalami perubahan menjadi lebih sejahtera. Mereka sepertinya lupa bahwa bantuan sosial yang diterimanya itu tidak bersifat permanen, tidak diwariskan maupun tidak bisa dialihkan kepada orang lain. Mereka memberi kesan seolah tidak boleh dihentikan dengan alasan apapun meski orang tersebut sudah tidak memenuhi syarat dan kriteria sebagai penerima bantuan sosial.

Kecanduan bantuan sosial itu memang nyata ada, cukup kronis dan dialami oleh sebagian besar dari masyarakat. Masyarakat sepertinya sudah terjebak dalam zona nyaman dan berlindung di balik kata – kata keluarga miskin, mereka mau menasbihkan diri dan keluarganya sebagai bagian dari keluarga miskin. Perlu usaha keras dari Pemerintah dan masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran bersama bahwa bantuan sosial tidak bisa diberikan kepada seluruh masyarakat melainkan kepada masyarakat yang benar – benar membutuhkan bantuan sosial, bukan menginginkan bantuan sosial. Selain itu, perlu diperketat kembali sistem dan pengawasan kepada masyarakat yang layak mendapatkan bantuan sosial sehingga bantuan sosial itu akan tepat sasaran.

Dalam UUD 1945, pada pasal 34 menjelaskan bahwa bahwa fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara namun bukan berarti semua urusan biaya hidup setiap keluarga kemudian menjadi tanggung jawab negara. Mereka yang telah memutuskan untuk membangun rumah tangga tentu harus siap dengan segala macam konsekwensinya dan tentu ada tanggung jawab yang harus dilakukan untuk merawat kehidupan mereka. Bangasa Indonesia adalah bangsa yang kuat dan tidak mudah menyerah. Kita harus ingat bahwa ada Tuhan yang sudah menjamin rejeki dari tiap makhluk ciptaan-Nya dan untuk meraih rejeki itu manusia harus berikhtiar dan berdoa. Selebihnya, biarkan tangan Tuhan yang bekerja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here