Petani Muda Bojong Usul Ganti PAJALE Jadi PALECUNG

Padeglang, Badakpos.com – Tanaman Acung (Porang : Bahasa Indonesia) tanaman ini sedang menjadi fokus di budidaya oleh petani muda asal Desa Manggungjaya Bojong Endi Sudepih, bahkan pria yang akrab disapa Depih ini mengusulkan pemerintah Pandeglang agar mengganti program PAJALE menjadi PALECUNG, karena dinilai kurang tepat.

Pemuda 28 Tahun ini sudah 2 Tahun menggeluti budidaya tanama acung, ketika ditemui Badak Pos di kebun nya yang terhampar tanaman acung/porang, Depih menceritakan keunggulan budidaya acung/porang yang sangat tidak membutuhkan lahan yang lapang.

“Enaknya budidaya acung itu gak ribet, gak butuh lahan lapang, bahkan dia (acung-red) bisa tumpang sari”, papar Depih.

Depih juga menyarankan agar PAJALE (Padi Jagu Kedelai) yang di galangkan Pemerentah Kabupaten Pandeglang lebih baik diganti dengan PALECUNG (Padi Kedelai dan Acung).

Karena menurutnya menanam Jagung yang gulirkan oleh Pemerintah kepada GAPOKTAN di Desa se-Kabupetan Pandeglang saat ini kurang tepat, karena penanaman jagung itu harus memerlukan lahan yang lapang.

Depih mengharapkan acung/porang ini bisa menjadi komoditas utama pagi pertanian Pandeglang, karena untuk menanamnya tidak perlu lahan lapang alias ini tanaman tupang sari dan tidak memerlukan perawatan yang rumit.

Masih kata Depih, “Untuk pangsa pasar sendiri acung/porang ini sangat terbuka luas, mulai dari pasar lokal sampai dengan eksport ke mancanegara.

Depih berharap peran serta Pemerintah Kabupaten dapat melihat potensi besar ini.

“Acung saya di jual ke pengepul yang di cilegon satu minggu sekali, minimal omsetnya per satu minggu sekitar 2 juta rupiah, jika barangnya banyak dan kondisi baik maka omsetnya akan lebih dari itu”, ungkap Depih.

“Saya dan teman – teman petani muda masih merintis, jadi masih menjual ke pengepul yang ada di Kota Cilegon,  karena jika sudah skala pabrik minimal harus kami harus mengirim 8 ton perminggu, dan dapat dibayangkan, jika ini jadi komoditas utama para petani kita (Pandeglang-red) maka melebihi bertanam padi dan bisnis peetanian lainya”, jelas Depih.

Depih menjelaskan, saat ini harga benih acung atau yang familiar disebut biji katak, dihargai 30 ribu rupiah per kilonya, sedangkan untuk umbinya sendiri 7 ribu rupiah perkilo, “dapat dibayangkan jika ini jadi komoditas utama, ditambah cara tanam yang tak rumit bahkan bisa tumpang sari, maka ini bagi kami sangat potensial dan menjadi peluang usaha yang menjanjikan”, terang Depih sambil menunjukan hasil omsetnya minggu lalu kepada badakpos.com. (BP1).

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *