Program Sembako Dibalik Kaca Mata Jurnalis

0
1

Oleh : Andang Suherman

Penulis adalah : Wartawan, Ketua Jurnalis Nasional Indonesia Provinsi Banten, Kepala Biro Indonesiasatu.com.

 

‘Warga Ku Sayang Bantuan Mu Malang’

Program Pemerintah Pusat melalui Kementrian Sosial RI, menyalurkan bantuan berupa sembako pangan untuk masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, tentunya layak disebut sebagai terobosan positif, terlebih ditengah mewabahnya pandemi Covid 19 ini.

Namun gebrakan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan dan meringankan beban hidup rakyat miskin, dapat dibilang masih jauh dari harapan, jika para birokrasinya masih bermoral korup.

Pantauan jurnalis di lapangan, program sembako pangan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) senilai Rp.200.000/ Keluarga Penerima Manfaat (KPM), mulai dari sistem regulasi hingga kepada penyedia komoditi, tak lepas dari persoalan.

Lemahnya sistem pengawasan menjadikan program tersebut berjalan amburadul jauh dari kata efektif atau efesien. Pola permainannya begitu masif dan terstruktur, seakan program itu pun tidak diatur dalam pedoman umum (Pedum) pelaksanaan program.

Begitulah jika pihak terkait mengesampingkan moralnya, sehingga segala cara ditempuh berlomba mengejar ketamakan dan keserakahan duniawi, meninggalkan hati nurani.

Sembako adalah sembilan bahan pokok kebutuhan dasar masyarakat untuk makan. Dalam program BPNT nama sembako melejit dikenal setelah beberapa media menerbitkan pemberitaannya.

Beragam berita meluber di dunia maya, warga ku sayang bantuan mu malang, akibat ulah para koruptor bersembunyi dibalik legalitas dan integritas sebuah semboyan memuluskan niat bejatnya merampok uang rakyat.

Bagaimana tidak, program yang semestinya berjalan dengan baik dan lancar tergores luka ulah para konglomerat, dengan gaya borjuisnya memerankan drama layaknya arjuna, bermain watak tokoh bertopeng srigala penghisap darah.

Sistem kapitalisme dijadikan barometer menguras harta menoreh luka merobek hati hingga jati diri lepas tergadaikan tak ada lagi rasa empati.

Siapa yang salah ? Pasti semua menganggap benar, karena wong cilik hanya bisa diam menundukan kepala meratapi nasib tanpa bisa berbuat apa- apa.

Istilah kata “Apapun Kami Terima, Karena Mungkin Kami Ini Bodoh” Tapi Kalian Jangan Pernah Merasa Pintar Jika Kepintaran Kalian Hanya Untuk Membodohi Kami Yang Bodoh,”

***

Komentar dibawah ini