Ramadhan Ke-11 : Belajar Bahasa Arab untuk Non Pesantren

0
1

Oleh: Destika Cahyana, SP, M.Sc

Penulis Adalah : Kandidat Doktor Institut Pertanian Bogor, Ketua Litbang Program DPP GEMA Mathla’ul Anwar

Kali ini kita akan membahas tema khusus terkait jamak mudzakar yang tidak beraturan (jamak taksir).

Secara bahasa ‘taksir’ bermakna ‘pecah’ sehingga jamak taksir artinya kata yang dipecah menjadi banyak. Secara tata bahasa nahwu, jamak taksir adalah kata jamak yang berubah dari bentuk tunggalnya.

Jamak taksir memiliki banyak pola hingga lebih dari dua puluh pola (yang tidak akan dipelajari di sini) sehingga dianggap sebagai jamak yang tidak beraturan.

Namun, jangan khawatir, kita pasti bisa mengenalinya sedikit demi sedikit.

Cara terbaik mengenali jamak taksir adalah sering-sering membuka kamus dan membaca literatur Bahasa Arab klasik maupun modern. Kita juga harus sering mendengar percakapan B. Arab.

Prinsipnya, semakin sering kita terpapar Bahasa Arab, maka kita akan semakin mudah belajar B. Arab secara otomatis tanpa perlu menghapal khusus.

Berikut beberapa catatan penting tentang jamak taksir:

1. Satu kata benda mudzakar tunggal (mufrad) yang telah diketahui merupakan jamak taksir, dapat saja memiliki lebih dari satu jamak taksir. Ada yang 2, 3, 4, bahkan lebih jamak taksir. Jadi, jangan kaget dan berdebat dengan orang lain yang menyebut jamak taksir yang berbeda dengan yang kita ketahui. Segera cek di kamus, bahkan beberapa kamus, jangan langsung menyalahkan.
Contoh:
Ulat:
دُوْدَةٌ

Ulat-ulat:
دِيْدَانٌ، دُوْدٌ

Rambut:
شَعْرٌ

Rambut-rambut:
أَشْعَارٌ، شُعُوْرٌ

2. Satu kata benda yang diketahui merupakan jamak mudzakar salim (beraturan), boleh jadi juga memiliki jamak taksir. Sekali lagi, jangan terburu-buru menyalahkan yang berbeda, segera cek ke kamus dan beberapa kamus.
Contoh:
Seorang kafir:
كَافِرٌ
Beberapa orang kafir (jamak mudzakar salim):
كافرُوْنَ أو كافرِيْنَ

Beberapa orang kafir (jamak taksir):
كُفَّارْ

3. Jamak taksir untuk kata benda yang tidak berakal (bukan manusia, misal buku) dalam tatabahasa dianggap sebagai muannats (perempuan/feminim).
Contoh:
Sebuah buku (maskulin):
كِتَابٌ

Beberapa buku (dianggap menjadi feminim):
كُتُبٌ

4. Jamak taksir untuk kata benda yang berakal (misal, sifat-sifat manusia) dianggap tetap mudzakar (laki-laki) dalam kaidah tata bahasa, tetapi boleh juga dianggap muannats (perempuan/feminim).
Contoh:
Seorang berilmu:
عَالِمٌ

Beberapa orang berilmu:
عُلَمَاءُ

Mudah bukan? Jangan dianggap sulit, cukup kenali saja dulu.

Contoh lain jamak taksir:
Rasul:
رَسُوْلٌ-رُسُلٌ
Rumah:
بَيْتٌ-بُيُوْتُ
Guru:
أُسْتَاذٌ-أَسَاتِيْذٌ
Ahli ibadah:
عَابِدٌ-عُبَّادُ

*Catatan:*
Pelajaran tentang pola jamak taksir sangat penting untuk memahami konteks dan makna Bahasa Al Qur’an. Bila berminat setelah nanti mahir, pelajarilah pola jamak taksir terbagi dua kelompok: jamak taksir untuk kuantitas 3-10 (beberapa/qillah) dan jamak taksir kuantitas di atas 3 hingga tak terhingga (banyak/katsrah).

Bersambung
(BP12/MG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here