Ramadhan ke-25 : Belajar Bahasa Arab untuk Non Pesantren

0
1

Oleh: Destika Cahyana

Kita sudah praktek membuat jumlah ismiyah yang disambung dengan kata kerja lampau (fi’l madhi) atau kata kerja sekarang (fi’l mudhari).

Semua contoh rangkaian kalimat (jumlah ismiyah) yang telah kita buat menggunakan kata kerja intransitif (fi’l lazim) yang tidak membutuhkan objek seperti duduk, pergi, masuk.

Kini kita akan belajar menggunakan rumus terakhir jumlah ismiyah yaitu rumus 5 pada pelajaran B. Arab dasar. Setelah hari ini dan beberapa latihan kita akan masuk ke tahap berikutnya yaitu membuat kalimat (jumlah) yang diawali kata kerja atau jumlah fi’liyah.

Pada rumus 5 kita menggunakan kata kerja transitif (fi’l muta’ady) yaitu kata kerja yang membutuhkan objek. Dengan demikian hari ini kita mengenal istilah baru yaitu kata benda yang berkedudukan sebagai objek (isim maf’ul).

Perhatikan rumus 5:
Kata benda 1 + kata kerja transitif + kata benda (objek) + keterangan tempat

isim 1 + fi’l muta’ady + isim maf’ul + keterangan tempat

إسم + فعل + إسم مفعل + (حرف/اسم المكان)

م + خ + مفعل + (حرف/اسم المكان)

Contoh:
Dia (1 laki-laki) telah membaca buku di masjid yang besar
هو قَرَأ الكِتَابَ في المسجد الكبير

Dia (1 laki-laki) sedang membaca buku di masjid yang besar
هو يَقْرَأُ الكِتَابَ في المسجد الكبير

Perhatikan 2 contoh di atas!
Lihat tanda baca di ujung kata ‘buku’ berupa fatah (ba). Tanda baca fatah tersebut menunjukkan kedudukan buku sebagai objek (maf’ul) sehingga tidak ditulis dhamah (bu) seperti biasa.

Agar lebih faham, perhatikan 2 contoh ini:
Polisi (الشُرْطِيُّ)
Pencuri (السَارِقُ)

1. Polisi telah memukul pencuri
١. الشُرْطِيُّ ضَرَبَ السَارِقَ
٢. السَارِقَ ضَرَبَ الشُرْطِيُّ
Pencuri menjadi objek karena bertanda baca fathah walaupun posisi polisi yang semula di depan dan pencuri di akhir kalimat bertukar tempat.

2. Pencuri telah memukul polisi
٣. السَارِقُ ضَرَبَ الشُرْطِيَّ
٤. الشُرْطِيَّ ضَرَبَ السَارِقُ
Polisi menjadi objek karena bertanda baca fathah walau posisi pencuri dan polisi bertukar tempat.

“Pemahaman penggunaan fathah sebagai tanda baca yang menunjukkan objek semakin penting saat nanti kita belajar jumlah fi’liyah.

Contoh sedikit:
ضرب الشرطيّ السارق
Pada kalimat di atas kita tidak tahu siapa yang memukul dan dipukul tergantung tanda bacanya. Saat membaca kitab gundul tanpa tanda baca, maka penting bagi kita melihat konteks secara keseluruhan. Dengan demikian sesungguhnya belajar B. Arab secara otomatis selalu melatih kita memahami konteks secara keseluruhan.”

Bagaimana untuk ketentuan kesesuaian jenis kelamin dan kuantitas mubtada dengan khabar? Pada fi’l muta’ady semua tetap berlaku seperti biasa.
Contoh:
ضرب، ضربا، ضربوا
ضربت، ضربتا، ضربن
ضربت، ضربتما، ضربتم
ضربت، ضربتما، ضربتن
ضربت، ضربنا

Latihan:
Buat paragraf seperti di bawah ini:
Seorang muslim (1 laki-laki) sedang duduk di masjid. Seorang muslim (1 laki-laki) sedang membaca buku di masjid. Seorang muslim (1 perempuan) sedang menulis buku di masjid. Dua orang muslim (laki-laki) sedang minum kopi di depan masjid.

Kosa kata:
Minum: شَرِبَ-يَشْرَبُ
Menulis: كَتَبَ-يَكْتُبُ

Bersambung
(BP/12-MG))

Komentar dibawah ini