Ramadhan Ke-4 : Belajar Bahasa Arab untuk Non Pesantren

0
5

Oleh : Destika Cahyana, SP, M.Sc

Penulis Adalah : Kandidat Doktor Institut Pertanian Bogor, Ketua Litbang Program DPP GEMA Mathla’ul Anwar

Selamat!
Kita sudah mengenal secara singkat 3 kelompok besar kata dalam B. Arab: kata benda (isim), kata kerja (fi’l), dan kata bantu (harf).

Pemahaman ketiganya sangat penting, sehingga kita akan mendalaminya dalam beberapa hari ke depan.

Namun, pada 2 hari ini kita akan membahas hal berbeda yaitu mengenal secara singkat abjad dan tanda baca dalam B. Arab.

Pasti kamu semua sudah tahu keduanya, tetapi kita segarkan kembali agar istilah yang kita gunakan sama.

*Tanda baca*

Dalam B. Arab tidak ada abjad berbunyi vokal ‘a’, ‘i’, ‘u’ karena semua abjad arab berbunyi konsonan. Terdapat 29 abjad arab yang disebut huruf hijaiyyah.

Saat ini bunyi vokal terbentuk setelah diberi perangkat baca atau tanda baca yang disebut harakat.

Di masa lalu tidak ada tanda baca, tetapi masyarakat arab sudah paham membaca dan membunyikan vokal walau tanpa tanda baca.

Musababnya mereka terbiasa bercakap-cakap dan membaca B. Arab sebagai bahasa ibu. Contohnya B. Arab dalam syair-syair dan Al Qur’an di masa permulaan tidak memiliki tanda baca alias gundul.

Tanda baca kemudian diciptakan para ilmuwan bahasa sebagai sebuah inovasi berharga. Kehadiran Agama Islam berperan besar dalam penciptaan tanda baca dalam tradisi Arab. Musababnya tujuan awal pemberian tanda baca agar Al Qur’an dapat dipelajari dengan mudah oleh orang non Arab.

Pada konteks ini Agama Islam berkontribusi besar dalam menjaga B. Arab dengan berkembangnya ilmu tata bahasa arab.

Berikut ini abjad dalam B. Arab:

ا، ب، ت، ث، ج، ح، خ، د، ذ، ر، ز، س، ش، ص، ض، ط، ظ، ع، غ، ف، ق، ك، ل، م، ن، و، ه، ي.

Tanda baca untuk keperluan berbicara, mendengar, dan menulis B. Arab secara garis besar ada 6 buah.

Sementara tanda baca untuk keperluan membaca Al Qur’an lebih banyak lagi sehingga dipelajari dalam ilmu lain (misal, ilmu tajwid). Kita tidak belajar hingga ke sana karena sudah termasuk wilayah ilmu yang berbeda.

Tanda baca yang dibahas di sini dikembangkan pertamakali oleh ahli bahasa bernama Abdul Aswad ad-Dawly pada era Muawiyah dan terus berkembang oleh ahli-ahli bahasa lainnya.

Keenam tanda baca itu adalah 1) suara pendek, 2) suara dobel, 3) suara panjang, 4) sukun, 5) dobel huruf, serta 6) al-komariah dan as-syamsiah.

Berikut kita bahas satu per satu:
1. Suara pendek: a, i, u

Tanda baca suara pendek diberikan dengan menambah huruf ‘alif’ yang ditulis miring (َ ) di atas huruf lainnya untuk bunyi ‘a’ yang disebut fathah. Sementara pada bunyi ‘i’ huruf alif yang ditulis miring diletakkan di bawah (ِ ) yang disebut kasrah. Terakhir bunyi ‘u’ ditandai dengan meletakkan huruf ‘wau’ kecil di atas huruf lainnya (ُ ) dlommah.

Contoh:
a. Ba: بَ
b. Bi: بِ
c. Bu: بُ
d. Ta: تَ
e. Ti: تِ
f. Tu: تُ
Demikian seterusnya.

2. Suara dobel pendek: an, in, un

Tanda baca dobel ditulis dengan menulis dobel tanda baca a, i, u yang sudah kita bahas di point pertama. Perhatikan tanda an (ً ) yang disebut fathatain, in (ٍ ) yang disebut kasrotain, dan un (ٌ ) yang disebut dhammatain.

Perhatikan tanda bunyi ‘un’ (ٌ ) itu sebenarnya dobel ‘wau’ kecil tetapi disederhanakan seperti ‘wau’ yang mengunakan topi atau ‘wau’ berekor. Ketiga tanda dobel itu disebut juga tanwin.

Contoh aplikasi tanda dobel atau tanwin:
1. An: أًا
2. In: إٍ
3. Un: أٌ
4. Ban: بًا
5. Bin: بٍ
6. Bun: بٌ

Perhatikan! Untuk bunyi fathatain (ً ) selalu ditambahkan ‘alif’ mengikuti huruf sebelumnya.

Misal, بًا، تًا، ثًا، جًا

Dengan demikian, bila ada huruf alif mengikuti huruf sebelumnya di akhir sebuah kata, dapat diperkirakan (meskipun tidak semua) berbunyi ‘an’.

Coba latihan baca huruf ini tanpa tanda baca:

با، تا، ثا، جا، حا، خا.
Mudah bukan?

Bersambung
(Mohon koreksi bila ada salah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here