Ratusan santri dan santriwati menghadiri Seminar Kebangsaan

0
9

Pandeglang,Badakpos.com- Ratusan santri dan santriwati menghadiri Seminar Kebangsaan yang mengusung tema Pondok Pesantren Sebagai Pusat Penegakan Ukuwah Wathaniyah, di Pondok Pesantren Al-Muawanah Kecamatan Menes.

Seminar ini menghadirkan pembicara yang ahli dibidangnya, yaitu Ketua Umum Garda Santri Nusantara dan Sekjen Lembaga Kajian Strategis Indonesia (LKSI) Dhedi Rochaedi Razak dan Ketua MUI Pandeglang Tb. Hamdi Ma’ani.

Ketua MUI Pandeglang Tb. Hamdi Ma’ani menjelaskan, santri berkewajiban melindungi negara dari kelompok radikal yang anti Pancasila dan kelompok sekuler yang kehilangan semangat dalam beragama.

“Mereka menutup mata sama sekali, tidak mau kompromi dengan problematika masyarakat yang terus berkembang,” imbuhnya.

Selain itu, tugas utama dari Ulama adalah melindungi agama dari pengaruh-pengaruh akidah yang sesat dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang atau dengan kata lain penyimpangan berupa ekstrimisme dan radikal yang membahayakan agama.

“Pemikiran radikal yang harus diwaspadai oleh para santri dan para kiai ada 2 macam, yaitu radikalisme agama dan radikalisme sekuler. Radikalisme agama ialah kelompok-kelompok yang memahami agama secara radikal, baik ekstrim kanan maupun ekstrim kiri,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Garda Santri Nusantara dan Sekjen Lembaga Kajian Strategis Indonesia (LKSI) Dhedi Rochaedi Razak mengatakan, Agama Islam tidak mentolerir segala bentuk usaha memperjuangkan kebenaran dengan cara mencelakakan diri sendiri atau orang lain, seperti melakukakan bom bunuh diri demi memperjuangkan sebuah idealisme, sebagus apapun idealisme tersebut.

Ia menjelaskan, Islam juga mengajak berbagai kalangan untuk mengedepankan musyawarah dan dialog sehingga menghasilkan keputusan yang mufakat. Hal ini dikarenakan Islam lebih mengedepankan persatuan dan kesatuan serta kebersamaan daripada perbedaan, bahkan permusuhan.

“Jika jalur musyawarah ini menemui kesulitan, tidak lantas kita diminta menempuh jalan kekerasan, tetapi kita diminta untuk menyerahkan urusan itu kepada Allah. Namun, kita juga tidak boleh melakukan pembiaran kebatilan itu berlanjut terus-menerus, kita tetap dituntut untuk bertanggung jawab memberikan pencerahan terhadap orang lain, baik sebagai individu maupun melalui berbagai kapasitas yang kita miliki,” tutup Dhedi. (Bp3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here