Rezim Anti Islam?

0
0

Oleh : Ocit Abdurrosyid Siddiq

 

Pagi ini (24/10/2019), saya memenuhi undangan Bapak Kapolda Banten. Polda Banten akan menyelenggarakan Apel Konsolidasi dalam rangka Berakhirnya Operasi Mantap Brata Kalimaya 2018. Dalam undangan tertulis bahwa apel akan dimulai Pukul 07.30 WIB. Disertai catatan agar undangan hadir 15 menit sebelum acara dimulai.

Karena saya tahu jajaran kepolisian -juga tentara- terbiasa disiplin dengan waktu, maka saya sudah bersiap berangkat dari rumah Pukul 06.30 WIB. Saya perkirakan perjalanan akan ditempuh selama 30 menit. Jadi masih ada waktu sekitar 15 menit sebagai antisipasi bila ada hambatan dalam perjalanan.

Saat melintas di SPBU Cikande, sopir mengarahkan mobil ke SPBU. Saya ingatkan sopir agar tak masuk SPBU karena khawatir lama mengantri dan bisa menyebabkan datang terlambat. Sopir tak menjawab. Dia hanya menunjuk odometer yang sudah menyala kuning. Pertanda bahan bakar sudah menipis.

Ya, sudahlah. Daripada tidak diisi lalu kehabisan bahan bakar di perjalanan, dan itu akan semakin membuat lama perjalanan, akhirnya saya izinkan mobil ke SPBU. Tiga menit berlalu, antrian masih lama. Resah karena khawatir terlambat.

Yang saya tahu, biasanya kalau ada acara apel di Mapolda, tepat waktu. Bila kita datang terlambat, pintu gerbang ditutup. Lalu kita terpaksa memarkir kendaraan di pinggir jalan. Untuk mencapai lokasi acara, harus berjalan kaki melewati pos pemeriksaan, dan lapangan apel yang lumayan luas.

Alhamdulillah, kami tiba di Mapolda Pukul 07.13 WIB. Ada tersisa waktu 2 menit dari yang diperkirakan . Tapi ada pemandangan yang tidak lazim. Suasana lapangan masih sepi. Padahal 15 menit lagi apel akan dimulai.

Dari lahan parkir tempat kami menyimpan mobil, saya melihat yang tersua di lapangan hanya deretan senjata laras panjang yang diletakkan dengan rapi. Merah putih yang sudah terpasang, podium yang kokoh ditengah lapangan, dan deretan kursi undangan yang berjejer rapi didepan lobi Mapolda.

Pada tiap kursi sudah terpasang kertas yang terdapat tulisan. Mungkin untuk memudahkan penempatan para undangan. Saya sisir seluruh kursi, dimanakah gerangan akan ditempatkan. “Bawaslu”, akhirnya saya temukan dideretan paling depan, diapit “Wakapolda” dan “Danlanal”.

Pukul 07.15 WIB. Tapi lapangan masih sepi. Biasanya, untuk acara sebesar ini, lokasi sudah ramai oleh peserta. Lengkap dengan teriakan komando, latihan paduan suara dan marching band, dan celoteh protokol mengecek kesiapan alat pelantang. Cek cek.. sadu sadu, dua dua, diga diga.. cek sound..

Tapi ini sepi. Bahkan senyap. Kemanakah orang-orang? Ditengah kebingungan, sayup terdengar alunan suara kitab suci. Saya coba cermati. Kadar pendengaran saya tingkatkan. Ternyata suara itu berasal dari dalam mesjid. Mesjid yang terletak disisi kiri Mapolda, samping utara lapangan.

Penasaran, saya dekati sumber suara itu. Dan, subhanalllah, ternyata suara alunan ayat-ayat suci itu berasal dari lisan mulia polisi. Bukan hanya satu. Tapi dari seisi mesjid. Bukan puluhan, tapi ratusan. Semakin saya mendekat, suara itu semakin menggema mengisi seluruh ruangan. Gemanya seperti serombongan tawon yang sedang berjibaku membangun sarang.

Saya dekati satu diantara mereka, dan bertanya, “Maaf Pak, membaca kitab suci Al Quran ini dilakukan karena pagi ini akan apel?”. Jawabnya, “Bukan Pak. Ini kami lakukan secara rutin dan berjamaah”.

Subhanalllah, untuk yang kedua kalinya saya bertasbih. Tersua disana tamtama, bintara, bahkan perwira, duduk bersama, melantunkan ayat suci, mengagungkan asma Allah, memuliakan muruwah Islam. Wujud nyata mencintai agama.

Subhanalllah..
Ini untuk ketiga kalinya.

Penulis adalah : Komisioner Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) Banten, Alumni dan Kader Mathla’ul Anwar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here