Saktinya Pancasila

0
47

 


Oleh : Ocit Abdurrosyid Siddiq

Penulis : Warga Banten

 

Tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang dihapus oleh PPKI kerap dijadikan alasan oleh sebagian dari kita, yaitu umat Islam Indonesia, sebagai legitimasi pemberlakuan syariat Islam di tanah air.

Sejatinya, diskursus klasik ini sudah selesai dengan penjelasan Kasman Singodimedjo ketika dia memaparkan alasannya kepada anggota PPKI perwakilan Islam, diantaranya Ki Bagus Hadikusumo.

Akhirnya, seluruh anggota PPKI menyepakati usulan Bung Hatta ini sebagai wujud bahwa para pendiri bangsa ini lebih mengedepankan persatuan diatas keberagaman warganya; agama, budaya, bahasa, suku, dan lain sebagainya.

Perkara itu sudah selesai. Final dan mengikat sebagai ijma para pendiri bangsa. Tapi, kerap kembali muncul dan dipersoalkan manakala kita dihadapkan pada persoalan “kadar nasionalisme”, seperti hari ini, ketika Pancasila yang kita anggap sakti kembali dipersoalkan.

Dalih para penggugat adalah bahwa “tadina géh” negara ini akan memakai “Ketuhanan berdasarkan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Seolah “Yang Maha Esa” selain terasa kurang islami juga dianggap tidak kaffah. Aspek mayoritas menjadi alasan.

Penghapusan ini lalu didramatisasi sebagai sebuah sikap legawa dan kelapang-dadaan umat Islam. Ditambahkan bahwa ini merupakan pengorbanan besar umat Islam bagi negeri kita tercinta.

Sementara para “penjaga kesatuan” beranggapan bahwa negara ini terwujud berdasarkan perjuangan bersama, dengan latar beragam dan berbeda. Fakta bahwa warga bangsanya bhineka, bukan hanya saat ini. Tapi jauh sebelum Indonesia diproklamasikan. Termasuk mereka, para penghayat kepercayaan sebagai agama asli negeri ini.

Terlepas dari tema diskusi klasik ini -karena selalu berulang setiap tahun bahkan setiap saat, termasuk ketika terjadi tindakan terorisme yang dikaitkan dengan penganut agama pelakunya- poin pentingnya adalah Pancasila dengan 5 butir silanya telah sah menjadi dasar negara.

Bahwa sesungguhnya ada kalimat yang dihapus dari draft, itu fakta. Bahwa ada kesediaan perwakilan umat Islam saat itu untuk menerima penghapusan 7 kata, juga adalah fakta. Bahwa umat Islam kini mengklaim bahwa itu merupakan pengorbanan besar umat Islam, apa susahnya sih, “iyahin sajah!”.

Tapi bahwa ada keinginan dari kita untuk kembali menerapkan “versi draft” dasar negara, engké heula, lurd! Niat dan tindakan itu merupakan langkah mundur. Mundur sebagai warga bangsa, bukan sebagai umat beragama. Seolah mundur ke zaman megalitikum, bukan mundur ke zaman jahiliah.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, Pancasila sebagai dasar negara, itu sudah konsensus bersama. Dalam perjalanannya, sudah terbukti mampu mengatasi hantaman, tantangan, ancaman, dan gangguan dari isme lain. Misalnya komunisme, ekstraksi Pancasila (baca : ekasila), juga khilafah!

Beragam versi menyebutkan asbabul wurud terjadinya tragedi Lubang Buaya. Diantara begitu banyaknya versi, benang merahnya adalah bahwa ada niatan komunisme menjadi norma dan nilai di negeri ini.

Tujuh jenderal wafat dan dikubur bersama dalam satu sumur, adalah fakta. Tapi tragedi kemanusiaan ini tidak menyurutkan para penjaga Pancasila. Hanya satu malam tragedi itu terjadi. Karena sejak besoknya, seluruh anak bangsa bahu membahu membalikkan keadaan.

Para pelaku diburu. Pengkhianat ditumpas! Kerja keras gabungan militer dan rakyat ini, bukan semata bentuk murka atas kebiadaban para pelaku. Tetapi juga sebagai wujud bahwa mereka tidak sudi bila dasar negara ini digeser dan diganti oleh isme lain.

Dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur, ini merupakan fakta bahwa “kesaktian” Pancasila terbukti. Masih banyak peristiwa lain yang menunjukkan saktinya Pancasila. Tapi bila dalam perjalanannya banyak penyimpangan perilaku warganya atas norma dan nilai Pancasila, itu perkara lain.

Kemudian daripada itu, pagi ini Presiden hadir di Lubang Buaya, untuk memeringati Hari Kesaktian Pancasila. Semoga bukan hanya seremoni belaka. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan oleh Gus Menteri Yaqut yang begitu mengena dengan kondisi negeri akhir-akhir ini.

Masih banyak perkara lain yang membelit negeri ini. Dan itu tidak akan selesai hanya dengan upacara peringatan belaka. Perkara lain itu kita bahas diwaktu lain. Termasuk syahwat anda untuk bersegera komentar atas “warisan Ottoman 1924” yang saya sentil ditengah paragraf.

Dalam perspektif saya -dan bisa jadi juga dalam perspektif Pancasila sendiri- Ekasila dan Khilafah -dan tentu saja komunis- adalah masalah. Tentang keduanya kita bahas lain waktu. Sekarang mah ngopi dulu.
***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here