SANGGAR SENI KEMBANG TANJUNG LESTARIKAN BEDUG PANDEGLANG

0
259

PANDEGLANG – Bedug memang tidak asing bagi masyarakat kita. Benda ini banyak ditemui di depan mesjid dan menjadi alat penanda memasuki waktu sholat. Namun bedug Pandeglang memiliki ciri khas tersendiri. Bedug Pandeglang memiliki diameter lebih kecil bila dibandingkan bedug-bedug daerah lain karena bedug Pandeglang terbuat dari batang pohon kelapa.

Adalah sanggar seni Kembang Tanjung yang dimotori oleh Saprudin secara rutin memproduksi dan memasarkan kerajinan bedug Pandeglang. Berlokasi di Kampung Karang Tanjung, RT 04/RW 04 Kecamatan Karang Tanjung Pandeglang, sanggar seni ini mampu memproduksi bedug Pandeglang dengan lama waktu pengerjaan antara 2 hingga 4 hari untuk setiap bedugnya. Bedug-bedug ini kerap digunakan pada acara rampak bedug.

“Saya mendirikan sanggar dan memproduksi kerajinan bedug ini bermula ketika saya main ke kampung teman dan melihat anak-anak sedang bermain bedug. Seketika itu pula saya berminat dan tertarik untuk melestarikan kesenian rampak bedug supaya tidak punah,” begitu ungkap Saprudin yang biasa juga dipanggil Pudin bedug.

Selain memproduksi bedug dengan ciri khas pahatan gambar badak di bagian badan bedug, Sanggar Seni Kembang Tanjung juga berkreasi membuat bentuk kerajinan yang lain seperti bedug anjor sebagai alat properti tarian, gantungan kunci bedug kecil sebagai souvenir, pemukul/stik bedug dan Talingtitna sebagai alat bantu pengiring bedug besar.

Animo masyarakat sekitar terhadap keberadaan sanggar seni ini terbilang tinggi. Mereka sering menghabiskan waktu di sanggar. Setidaknya tercatat ada 15 pemuda yang berkarya di sanggar ini. Mereka berasal dari kampung Karang Tanjung. Apresiasi dari kalangan anak anak dan orang tua juga sangat baik karena selain memproduksi bedug, sanggar seni ini juga kerap mempertunjukkan seni rampak bedug.

Perjalanan sanggar seni ini tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada kendala-kendala yang mereka hadapi saat memproduksi bedug Pandeglang. Salah ssi diantaranya adalah ketersediaan bahan baku.

“Terkadang kami kesulitan mencari bahan baku untuk bedug karena bahannya mulai langka, khususnya di sekitar tempat kami. Karena itu kadang kami mencari bahan baku berupa batang kelapa sampai daerah Cibaliung dan Panimbang. Disana masih banyak pohon kelapa. Kendala lain adalah pemasaran yang masih mengandalkan teman-teman saja,” ujar Saprudin.

Saprudin berharap suatu saat pemkab Pandeglang dapat membantu pemasaran produknya walaupun ia mengaku pernah menerima bantuan pemkab berupa renovasi sanggar. Namun diatas semua itu dia berharap masyarakat akan semakin mencintai seni dan budaya lokal seperti rampak bedug sehingga warisan leluhur ini tidak habis digilas jaman.
.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here