Sayangi Buah Hati, Cegah Stunting Sejak Dini

0
4

Oleh : Leni Halimatusyadia, S.ST. M.Kes

Penulis adalah : Dosen STIKes Salsabila Serang

 

Menjadi orang tua bukanlah perkara mudah akan tetapi menjadi orang tua merupakan pengalaman dan pelajaran yang sangat istimewa mulai dari proses kehamilan, proses persalinan dan proses pertumbuhan serta perkembangan sang buah hati, tentunya sejuta harapan tertuang agar tumbuh kembang buah hati berjalan normal dengan semestinya.

Selain masalah gizi kurang dan gizi buruk pada bayi dan balita, belakangan stunting sedang hangat diperbincangkan banyak orang, khususnya para ibu. Di dunia balita yang mengalami stunting sebanyak 150,8 juta atau 22,2%. (Global Nutrition Report, 2018). Indonesia merupakan Negara ke 5 dengan jumlah balita tertinggi mengalami stunting dan merupakan salah satu negara dengan triple ganda permasalahan gizi, salah satunya adalah stunting pada tahun 2013 angka stunting berada di angka 37,2 % dan pada tahun 2018 sebesar 30,8 %. (Riskesdas 2013 dan 2018).

Walau mengalami penurunan dibanding 5 tahun sebelumnya akan tetapi angka tertebut masih terbilang cukup tinggi. Maka dari itu yuukkk kita kenali Stunting dan cegah sejak dini….
What’s Stunting??

Stunting atau pendek adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Kekurangan gizi pada usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya mudah sakit dan memiliki postur tubuh tidak maksimal saat dewasa (MCA Indonesia, 2014). Jadi Stunting atau pendek merupakan kondisi gagal tumbuh sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.


Apa sih yang menjadi penyebab Stunting?

Kerangka Konsep Determinan Stunting Berdasarkan WHO, 2014 menyebutkan bahwa penyebab langsung stunting dan pertumbuhan terhambat diantaranya yaitu :

a. Faktor Rumah Tangga dan Keluarga

Penyebab langsung stunting dapat karena faktor ibu dengan status gizi buruk selama MASA PRA KEHAMILAN, KEHAMILAN DAN MENYUSUI. Disamping itu beberapa studi di Indonesia menemukan hubungan yang moderat hingga kuat antara IBU YANG PENDEK dengan kejadian stunting pada anak. Selanjutnya faktor lingkungan keluarga, Rumah tangga yang mempunyai fasilitas JAMBAN yang lebih bersih memiliki kemungkinan lebih kecil mengalami stunting baik di pedesaan maupun perkotaan. PEMBELIAN AIR MINUM YANG MURAH—diasumsikan TIDAK LAYAK—berhubungan dengan peningkatan stunting. Kondisi tingkat KERAWANAN PANGAN RUMAH TANGGA berkaitan dengan kejadian stunting. Secara umum kemungkinan anak mengalami stunting lebih tinggi apabila PENDIDIKAN ORANG TUA RENDAH. Kemampuan DAYA BELI YANG KURANG dan beberapa indikator kesejahteraan rumah tangga lainnya sangat berhubungan dengan stunting serta AYAH PEROKOK sedikit berkaitan dengan stunting pada satu penelitian

b.Pemberian ASI, Pemberian Makanan Pendamping ASI yang Tidak Mencukupi dan Infeksi.

1. Dua analisis baru-baru ini menunjukkan bahwa anak yang DISAPIH SEBELUM USIA 6 BULAN mempunyai kemungkinan kejadian stunting yang lebih tinggi

2. Rumah tangga di KUINTIL TERTINGGI UNTUK PENGELUARAN MAKANAN SUMBER HEWAN, berhubungan dengan penurunan kemungkinan kejadian stunting pada anak-anak miskin di perkotaan.

3. RUMAH TANGGA TANPA MENYEDIAKAN MAKANAN SESUAI UMUR — TERMASUK MAKANAN YANG TIDAK BERAGAM DAN FREKUENSI YANG TIDAK SESUAI—berhubungan dengan peningkatan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan.

4. Satu studi menemukan hubungan yang cukup kuat antara KEJADIAN DIARE DALAM TUJUH HARI TERAKHIR dengan kejadian stunting pada anak-anak usia 6-59 bulan terutama di pedesaan.

Dampak Stunting

Stunting dapat berpengaruh pada anak balita pada jangka panjang yaitu mengganggu kesehatan, pendidikan serta produktifitasnya di kemudian hari. Anak balita stunting cenderung akan sulit mencapai potensi pertumbuhan dan perkembangan yang optimal baik secara fisik maupun psikomotorik (Dewey KG dan Begum K, 2011).

Stunting menyebabkan terhambatnya perkembangan motorik kasar maupun halus, karena pada anak stunting terjadi keterlambatan kematangan sel-sel saraf terutama di bagian cerebellum yang merupakan pusat koordinasi gerak motorik (Mc Gregor dan Henningham, 2005). Stunting yang terjadi pada masa anak merupakan faktor risiko meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif, dan perkembangan motorik yang rendah serta fungsi-fungsi tubuh yang tidak seimbang (Allen dan Gillespie, 2001).

Bagaimana Cara Mencegah Stunting?
STUNTING BISA DICEGAH MELALUI 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN (MEMASTIKAN KESEHATAN YANG BAIK DAN GIZI YANG CUKUP).

Sumber : Kemenkes RI

1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) yang Optimal Gizi tepat + Pencegahan Penyakit = Tumbuh Kembang Optimal = Mencegah Stunting.

Sumber : Kemenkes RI

Ayo kita bangun generasi yang berkualitas untuk memajukan bangsa.

Komentar dibawah ini