SEJARAH PANJANG KOPASSUS

0
47

NASIONAL – 16 April 1952, atas prakarsa Kolonel A, W. Kawilarang, terbentuklah Kesatuan Komando Tentara Teritorium III Siliwangi.  Gagasan ini lahir berdasarkan pengalaman Kawilarang saat bertempur dengan pasukan komando RMS saat terjadi pemberontakan di Maluku Selatan.  Kawilarang menginginkan agar pasukan Siliwangi juga memiliki sebuah satuan tempur komando yang taktis dan dapat bergerak cepat.

Gagasan Kawilarang rupanya menarik Mabes TNI hingga akhirnya pada tanggal 18 Maret 1953, kesatuan komando milik teritorium III Siliwangi inipun kemudian diambil alih dan dirubah namanya menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD).  Seiring dengan bertambahnya jumlah pasukan, maka pada tahun  1955, KKAD ditingkatkan menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).  Pasukan inilah yang kemudian dibawah komando Sarwo Edhie Wibowo menjadi garda depan pasukan TNI saat menumpas pemberontakan PKI di tahun 1965.

Desember 1966, nama RPKAD dirubah menjadi Pusat Pasukan Khusus AD (Puspassus AD), namun nama ini tidak begitu popular dan hanya bertahan hingga tahun 1971.  Ketka itu nama pasukan elit angkatan darat Indonesia ini dirubah menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassanda),  Kopassanda berperan besar saat mendorong integrasi Timor Timur.  Pasukan inilah yang pertama kali mendarat di Dilli, Timtim.

Prestasi yang melambungkan nama Kopassandha adalah saat melakukan operasi pembebasan sandera pesawat DC-9 Woyla Garuda Indonesian Airways yang dibajak oleh lima orang yang mengaku berasal dari kelompok ekstremis Islam “Komando Jihad” yang dipimpin Imran bin Muhammad Zein, 28 Maret 1981. Pesawat yang tengah menerbangi rute Palembang-Medan itu sempat didaratkan di Penang, Malaysia dan akhirnya mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok. Di bawah pimpinan Letkol Sintong Panjaitan, pasukan Kopassandha mampu membebaskan seluruh sandera dan menembak mati semua pelaku pembajakan. Korban yang jatuh dari operasi ini adalah Capa (anumerta) Achmad Kirang yang meninggal tertembak pembajak serta pilot Kapten Herman Rante yang juga ditembak oleh pembajak. Imran bin Muhammad Zein ditangkap dalam peristiwa tersebut dan dijatuhi hukuman mati.

Tanggal 26 Desember 1986, nama Kopassanda dirubah menjadi Komando Pasukan Khusus AD (Kopassus AD) dan nama ini terus digunakan hingga hari ini.  Markas besar Kopassus berada di Cijantung Jakarta namun pasukannya tersebar di beberapa daerah, termasuk satu grup yang berada di Serang Banten.

Diusianya yang ke 65 tahun, Kopassus telah menunjukkan prestasi yang luar biasa.  Bahkan pasukan ini sering disnadingkan dengan pasukan-pasukan elit dari negara terkemuka karena kemampuan tempurnya yang luar biasa.  Dirgahayu Kopassus, kami bangga memilikimu. (DS – dari berbagai sumber, Foto : wikipedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here