Sejumlah Petani Patia Diduga Gagal Panen

0
82

Pandeglang, Badakpos.com – Paska terjadinya banjir pekan lalu, sejumlah petani di Patia keluhkan hasil tanaman padi tahun ini, padi yang akan dipanen satu atau dua minggu kedepan diduga gagal panen lantaran terserang hama.

 

Kamsani (50) , warga kampung surianeun RT.005/001 Desa Surianen Kecamata Patia saat di temui di sebuah warung dipinggir sawah oleh wartawan badakpos.com senin, (5/2/18) menerangkan, tanaman padi yang ada di sini (patia) rata – rata terkena penyakit, belum diketahui penyakitnya apa, ciri tanaman padi yang terkena penyakit itu awalnya ketika berumur 40-60 hari daun padinya memerah seperti terbakar.

Karena tidak adanya tindakan yang dilakukan dari poktan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), akhirnya dia menanganinya sendiri dengan membeli beberapa macam pestisida dan racun. Kata dia, ini hasil inisiatif sendiri dengan bertanya dari toko pestisida di tarogong. “Saya sudah memakai kurang lebih enam macam obat semprot Heksa, Winder, Antrakol, Gibro, dua lagi lupa, bekasnya jg udah di bakar. Tapi tidak ada perubahan setelah penyemprotan itu. Sekarang padi yang sudah tumbuh biji patah leher cirinya membusuk pada pelapah daunnya”. Ujarnya

 

Ditempat terpisah, Jasim (60) warga kampung surianeun RT. 007/002 Desa Surianeun Kecamatan Patia menjelaskan, padi yang ditanamnya yang terkena penyakit 90% diperkirakan akan gagal panen. “Tidak tau apa penyakitnya pada umur padi sekitar 40-60 hari terus ada juga wereng, selain itu kebanjiran juga dan setelah banjir diserang ulat sampai buahnya di makanin ulat, terus satu rumpun padi paling dua tangkai yg berbuah, itu pun hasilnya tidak berisi malah putih dan kosong buahnya atau hapa”. Ucapnya
“Kami petani mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah terkait gagalnya panen kali ini, ” tambahnya

 

Aep PPL Patia saat dikonfirmasi via telepon seluler membenarkan, dari 2. 469 Ha sekitar, 111 Ha tanaman padi yang terkena penyakit, dan kerusakan tanaman padi mencapai 75%. “Kemungkinan hasil panen tidak akan maksimal, untung ikut asuransi sehingga dapat pergantian”. Tandasnya

 

Sementara Kadis Pertanian Banten Agus M Tauchid membenarkan jika asuransi pertanian salah satu upaya untuk jaminan jika petani mengalami gagal panen. Kata dia, dari asuransi itu, akan mendapatkan pergantian kurang lebih 6 juta tiap hektarnya. “Memang ada dua solusinya untuk petani yang gagal panen, pertama progr Cadangan Benih Daerah (CBD), yang kedua asuransi usaha tani. Masalahnya petani masih belum semuanya ikut asuransi,” pungkasnya(Bp-Mg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here