Tak Sekedar Halal

Oleh : Tati Rahmawati

Penulis adalah : Kolomnis Artikel, Relawan Apoteker Tanggap Bencana Provinsi Banten.

 

Bgaimana warna hati yang sehat? Hati yang sehat dan normal berwarna coklat kemerahan, permukaannya halus, mulus dan bagian ujung/tepinya lancip.

Jari telunjuknya menunjuk bagian yang beliau maksud. Diperlihatkannya bagian dalam dari organ hati yang sedang diperiksa. Dengan cekatan tangannya mengambil sampel “ jeroan ” atau organ dalam setiap hewan qurban yang telah selesai proses pemotongan dan pengulitan.

Bagi saya mengenal beliau adalah sebuah keberuntungan. Meskipun sama-sama berada di bidang kesehatan dan mengulik tentang penyakit, namun beliau orang pilihan yang harus memahami banyak spesies. Ya, itulah dokter hewan.

Ibu Sri Herny, seorang relawan dari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Banten yang berprofesi sebagai dokter hewan. Profesi yang tugasnya belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Mengobati kucing dan anjing yang sakit, begitulah mungkin pekerjaan dokter hewan yang terlintas di benak kita. Tidak terbayangkan, seorang dokter hewan menjadi penentu dan berpengaruh terhadap kesehatan manusia, Dan saya melihat bagaimana keilmuan beliau dibutuhkan oleh masyarakat ketika saya bertemu dengannya beberapa hari lalu.

Saat Idul Adha, kesehatan dari hewan qurban tentu menjadi hal penting. Tanda penneng/kalung yang dikeluarkan oleh Dinas Peternakan dapat menjadi identifikasi bahwa hewan tersebut sehat. Selain itu kelayakan syariah yaitu syarat umur hewan qurban ditandai dengan gigi yang poel , dan yang terakhir tata cara penyembelihan, pengulitan dan pengemasan hingga pengawasan post mortem ( setelah kematian). Hal-hal ini yang terkadang luput, dan drh. Sri Herny menjelaskan hal tersebut kepada masyarakat lokal juga para relawan yang hadir di Cigobang, Lebak dalam kegiatan Tebar Qurban.

“Dok, bagaimana kita mengetahui hati yang ada cacingnya?, tanya saya ketika beliau menjelaskan pemeriksaan bagian dalam melalui inspeksi (dilihat), palpasi (diraba) dan insisi (disayat) . “Cek teksturnya, ujar beliau,”. Jangan konsumsi hati yang keras berurat, karena itu bisa jadi merupakan bekas aktivitas parasite/cacing bahkan cacing akan keluar dari bagian yang nampak seperti bungkul urat tersebut. Wah, saya jadi bergidik membayangkan “jeroan” yang berisi cacing. Beliau menegaskan berulang kali, selain kehalalan kita juga harus memperhatikan kesehatan dari apa yang akan dikonsumsi.

Saya makin dibuat penasaran oleh pernyataan beliau saat menjelaskan pentingnya pisau yang tajam agar cukup sekali gesekan saat proses pemotongan. Bagi para juru sembelih, ini berhubungan dengan kehalalan, namun beliau menambahkan bahwa tidak hanya untuk itu. Kesalahan dalam proses penyembelihan akan membuat darah masuk ke paru dan membuat warnanya menjadi berbeda. Spontan saya menanyakan bagaimana warna paru yang baik. Beliau mengambil paru dan menyayatnya. Warna pink menandakan paru yang sehat atau normal, begitu penjelasan beliau.

drh. Sri Herny pun memberi pengetahuan seputar cara menggantung hewan qurban untuk proses pengulitan. Jangan sampai hewan mati karena tercekik, tegasnya. Tim penyembelih harus bisa memastikan hewan benar-benar mati, baru setelah itu bisa dikuliti dengan kondisi kaki yang tergantung. Ini juga menjadi perhatian jika kita membeli daging, sebaiknya yang digantung agar darah maksimal keluar, dan menjadikannya lebih awet.

Dokter yang menjadi Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Wilayah Banten I dan memiliki 74 anggota yang tersebar di Kabupaten Lebak, Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota serang serta Cilegon ini ditengah kesibukannya yang cukup tinggi masih berpraktik di Rangkas pada akhir pekan. Tutur katanya yang lembut serta caranya menjelaskan membuat banyak pemilik hewan menunggu tangan dingin beliau untuk memeriksa hewan kesayangannya. Dan kekaguman saya bertambah, beliau masih menyempatkan turun ke lapangan sebagai relawan, melakukan pemeriksaan hewan di kegiatan lintas lembaga yang bertajuk Giving Living, Tebar Qurban di Huntara.

Peran dokter hewan tentu tak kalah penting dengan dokter lainnya. Sesuai dengan slogan dokter hewan, Manusya mriga satwa sewaka (mengabdi untuk kesejahteraan manusia melalui dunia hewan) drh. Sri Herny telah memberi contoh kepada kita semua. Jangan ada kekerasan, diperlakukan penuh kasih saying, diperiksa dengn seksama hingga semuanya Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *