Talak Karena Dipaksa ?

0
145
gambar diambil dari halaman alkhoirot.net

Oleh : KH.Abdurrahman Rasna

Penulis adalah : Kiyai, Penceramah Agama, Anggota Majlis Fatwa Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA), Anggota Komisi Da’wah MUI Pusat.

 

Problematika dalam rumah tangga sering muncul disebabkan perkara kecil bahkan sering tak prinsipil sehingga tak jarang berujung pada perceraian.
Tulisan ini dibuat dan diangkat sebagai mencoba memberikan jawaban terhadap tidak kurang dari 4 (empat pertanyaan) dari tiga orang jamaah penanya, baik yang disampaikan langsung dalam suatu forum kajian fiqih munakahat yang diselenggarakan di salah satu Majelis Ta’lim yang penulis bina, maupun pertanyaan via media WA yang disampaikan kepada penulis.

Pertanyaan pertama :
Apakah sah dan jatuh talak apabila dipaksa, dan bagaimana penjelasan hadits Rasulullah SAW?

بِسْـمِ اللّهِ الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلات والسلام على رسول الله،
وعلى اله واصحابه ومن تبع هدىه.
اما بعد :
،

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Hukum talak yang dilakukan karena dipaksa adalah tidak sah, demikian yang disampaikan oleh para ulama diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, para ulama yang tergabung dalam Lajnah Daaimah. Imam Ibnu Utsaimin berkata :

إنما يقع الطلاق إذا أراده الإنسان إرادةً حقيقية وكتبه بيده أو نطقه بلسانه مريداً له غير ملجأ إليه ولا مغلقٍ عليه ولا مكره ، فهذا الذي يقع طلاقه

“Talak yang sah itu talak yang dilakukan dengan keinginan yang hakiki, atau ditulis dengan tangan sendiri atau diucapkan dengan lisannya sendiri karena menginginkan cerai, bukan dalam rangka mencari pelarian, atau ga ada pilihan atau karena dipaksa, ini semua adalah talak yang tidak sah.” (Fatawa Nurun Alad Darb : 10/359).

Diantara dalil yang melandasi ucapan para ulama ini adalah sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Sesungguhnya Allah memaafkan umatnya jika mereka melakukan kesalahan karena tidak sengaja, lupa dan karena dipaksa.” (HR Ibnu Majah : 2043 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu juga menyatakan :

لَيْسَ لِمُكْرَهٍ طَلاَقٌ

“Orang yang dipaksa itu tidak berlaku talak baginya.” (HR Baihaqi dalam Sunan Al Kubra : 15499 dishahihkan oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam I’lamul Muwaqqi’in : 3/38).
نصر من الله وفتح قريب
هدانا الله بهدايته الى صراط مستقيم

——————- 02 —————–

PENJELASAN HADITS RASULULLAH SHALLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAMWASALLA

Saya mencoba menjelaslan Mengenai hadits Rasulullah SAW yang berbunyi :

( لا طلاق في إغلاق

“Tidak ada talak secara paksa

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah: 2046 dan Ahmad dalam Musnadnya: 26360, Abu Ya’la dalam Musnadnya: 4444 dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

(لَا طَلَاقَ وَلَا عَتَاقَ فِي إِغْلَاقٍ) وحسنه الألباني في ” صحيح وضعيف سنن ابن ماجة “(2046

“Tidak ada talak juga tidak ada pemerdekaan (budak) secara paksa”. (Dihasankan oleh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah: 2046)

Para ulama telah berbeda pendapat dalam memahami arti dari “al ighlaq”, sebagian mereka mentafsirinya sebagai paksaan, al Khithabi berkata: “Arti dari al ighlaq adalah al ikrah (paksaan)”. Umar bin Khottab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhum- mereka tidak berpendapat bahwa talak dengan terpaksa tidak dianggap talak, pendapat ini juga pendapat Syuraih, ‘Atha, Thawus, Jabir bin Zaid, al Hasan, Umar bin Abdul Aziz, al Qasim dan Salim, demikian juga Malik bin Anas, al Auza’i, Syafi’i, Ahmad bin Hambal dan Ishak bin Rahawaih”. (Ma’alim Sunan: 3/242)

Dan disebutkan di dalam “At Taisir fil Jami’ as Shaghir (2/501):

( لَا طَلَاقَ وَلَا عَتَاقَ فِي إِغْلَاقٍ )

“Tidak ada talak dan tidak ada pemerdekaan (budak) dalam keadaan terpaksa”.

Karena orang yang terpaksa akan menutup pintu dan kebanyakan merasa terpojok, maka talaknya tidak berpengaruh apa-apa menurut tiga imam, namun Hanafiyah menganggap talaknya tetap terjadi”.

Sebagaimana disampaikan oleh Abu ‘Abid al Harwi”. (Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril Ibad: 5/195) dan Nail Authar (6/279):

“Fi ighlaq maksudnya adalah dengan paksaan, hal itu diriwayatkan di dalam at Talkhish dari Ibnu Qutaibah, al Khithabi, Ibnu Sayyid dan yang lainnya. Dikatakan juga maksudnya adalah dalam keadaan gila, namun al Mathrazi menganggapnya aneh, dikatakan juga maksudnya adalah dalam keadaan marah, sebagaimana tertera di dalam Sunan Abu Daud, salah satu riwayat dari Ibnul A’rabi, demikian juga penafsiran Ahmad, namun ditolak oleh Ibnu Sayyid dengan berkata: “Jika maksudnya demikian, maka tidak akan terjadi talak kepada siapapun, karena seseorang tidak akan mentalak kecuali setelah marah”.

Di dalam I’lam Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin (3/47):

“Imam Ahmad berkata yang diriwayatkan dari Hambal: “Maksudnya adalah marah”, demikian juga penafsiran dari Abu Daud, termasuk pendapat al Qadhi Ismail bin Ishak salah seorang ulama Malikiyah dan tokoh ahli fikih dari Irak, menurut beliau juga termasuk sumpah yang sia-sia, beliau memasukkan sumpahnya orang yang sedang marah termasuk sumpah yang sia-sia dan sumpah yang tertutup/terhalang, yang demikian itu diriwayatkan juga dari Ibnu Bazizah al Andalusi berkata: “ini adalah pendapat Ali, Ibnu Abbas, dan yang lainnya dari kalangan para sahabat bahwa semua sumpah yang diucapkan dengan marah maka tidak bisa mengikat”. Dan di dalam Sunan ad Daruquthni dengan sanad yang tidak terlalu kuat dari hadits Ibnu Abbas yang marfu’:

لا يمين في غضب ، ولا عتاق فيما لا يملك

“Tidak ada sumpah dalam keadaan marah, dan tidak ada pembebasan (budak) jika tidak dimiliki (sepenuhnya)”.

Hadits ini meskipun tidak ditetapkan sebagai hadits marfu’ tetapi perkataan Ibnu Abbas. Imam Syafi’i menafsiri hadits “La thalaq fii Ighlaq” dengan keadaan marah, demikian juga Masruq. Jadi ada Masruq, Syafi’i, Ahmad, Abu Daud, Qadhi Ismail, mereka semua menafsiri kata “ighlaq” dengan marah, inilah penafsiran yang paling baik; karena orang yang marah telah menutup pintu tujuannya pada saat sangat marah, seperti halnya orang yang terpaksa. Bahkan orang yang marah lebih layak menjadi tertutup dari pada orang yang dipaksa; karena orang yang dipaksa masih mempunyai tujuan untuk mengangkat keburukan besar dengan keburukan yang sedikit, maka dia benar-benar bermaksud melakukannya, dari sini maka talak pun tetap terjadi bagi yang melakukannya.

Sedangkan orang yang marah, pintu tujuan dan ilmunya tertutup rapat, seperti halnya dalam keadaan mabuk dan gila, karena kemarahan adalah tertutupnya akal, yang menipunya seperti halnya halunisasinya minuman keras, bahkan lebih dahsyat lagi karena menjadi bagian dari kegilaan, dan tidak diragukan lagi bagi yang memahami kejiwaan manusia bahwa dalam keadaan seperti ini talaknya tidak terjadi”.

Pendapat yang rajih dari maksud hadits di atas adalah:

Bahwa al Ighlaq berarti dalam keadaan dipaksa, gila, stress dan marah yang sangat. Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata: “Syeikh kami (Syeikh Islam Ibnu Taimiyah) berkata: “maksud yang sebenarnya dari kata: “ighlaq” (tertutup) yaitu; seseorang laki-laki yang telah menutup hatinya, tidak ingin berbicara atau tidak memberitahukannya, seakan dia telah menutup tujuan dan keinginannya. Abul Abbas al Mubarrad berkata: “al Gholqu adalah sempitnya dada dan tidak sabar. Syeikh kami berkata: “Termasuk dalam hal itu talaknya seorang yang dipaksa dan orang gila, dan barang siapa kehilangan akal karena mabuk atau marah dan semua yang di luar kesengajaan, dan tidak tahu apa yang dikatakannya.

Kemarahan dibagi tiga:

1.Yang menghilangkan akal, pelakunya tidak sadar dengan apa yang diucapkan, yang demikian ini tidak ada perbedaan bahwa talaknya tidak berpengaruh apa-apa.

2. Kemarahan yang masih bisa dikendalikan, yang tidak menghalangi pelakunya untuk memahami apa yang diucapkan dan diinginkan, maka yang demikian itu jika ia mentalak maka jatuh talaknya.

3. kemarahan yang sangat namun tidak menghilangkan semua akal sehatnya, akan tetapi ada yang menghalangi antara dia dengan niatnya dan akan menyesal setelah dia menyadari apa yang telah diperbuatnya, di sinilah yang menjadi titik perbedaan pendapat, tidak jatuhnya talak dalam kondisi seperti ini adalah pendapat yang kuat”. (Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril Ibaad: 5/195)
والله اعلم بالصوا ب

————– 02 ————

MENJATUHKAN TALAK
DALAM KONDISI DIPAKSA

Menceraikan istri dalam kondisi dipaksa, jika terpenuhi syarat-syaratnya maka tidaklah jatuh talak tersebut. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ
“Sungguh Allah tidak menghukum umatku karena tersalah, lupa dan dipaksa orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam Fath al-Qorîb, hal 244, dijelaskan bahwa tidak jatuh talak itu jika paksaan tersebut terjadi tanpa hak. Sebaliknya jika paksaan itu dengan hak, seperti paksaan hakim kepada orang yang telah meng-‘ila[1] istrinya, dan berakhir masa ‘ila yang dibenarkan Islam, lalu hakim memaksa untuk mentalaknya, maka jatuhlah talaknya.

Begitu juga tidak setiap paksaan menjadikan tidak jatuhnya talak. Syarat paksaan yang jika terpenuhi menjadikan tidaklah jatuh talak adalah[2]:

1. Qudrotul mukrih (Pemaksa diduga kuat mampu untuk melaksanakan ancamannya).

2. ‘Ajzul mukrah ‘an daf’il mukrih (yang dipaksa tidak mampu untuk menolak ancaman pemaksa). Menolak ancaman itu bisa dengan cara melarikan diri atau dengan meminta bantuan orang lain untuk menghalangi terjadinya ancaman tersebut.

3. Ada dugaan (dzan) yang kuat pada diri yang dipaksa bahwa jika dia menolak melakukan apa yang dipaksakan tersebut maka ancaman tersebut benar-benar akan dilakukan oleh pemaksa.

4. Tidak terlihat indikasi bahwa hal yang dikerjakan itu adalah atas pilihan pihak yang dipaksa. Jika terlihat indikasi bahwa yang dipaksa melakukan paksaan itu dengan sukarela, maka tetaplah jatuh talaknya. Misalnya dipaksa menjatuhkan talak tiga, lalu dia menjatuhkan talak satu, maka jatuhlah talaknya, karena talak satu berarti atas kemauan dia sendiri.

Telah diriwayatkan dari Umar r.a bahwa ada seorang laki-laki yang mengulurkan tali untuk mengambil madu di gunung, kemudian istrinya mendatanginya dan berkata:
لأقطعن الحبل ، أو لَتُطَلِّقِنِّي

“Sungguh saya akan memotong tali tersebut atau kamu akan mentalak saya”

Lelaki tersebut bersumpah dengan nama Allah agar istrinya tidak memotong tali tersebut, istrinya tetap menolak, maka dia menceraikannya. Setelah kejadian itu suami tersebut mendatangi Umar dan menceritakan kejadian tersebut, Umar lalu berkata :

ارجع إلى امرأتك ؛ فإن هذا ليس بطلاق

“Kembalilah ke istrimu, karena hal tersebut bukanlah talak.”
(Zâdul Ma’âd, 5/208).

Kejadian di atas tidaklah membuat jatuh talak yang diucapkan suaminya sah karena syarat-syarat paksaan sudah terpenuhi.

Berbeda halnya jika suami menduga bahwa ucapan sang istri hanyalah guyon, lalu sang suami menalaknya, baik menalak dengan guyon atau serius, maka jatuhlah talaknya. Begitu juga jika ancaman istri untuk memotong tali itu disampaikan lewat streaming dari kota lain, sementara tidak ada orang lain yang ada disekitar tempat itu yang patut dicurigai sebagai suruhan istri, lalu suami menalaknya, maka tetaplah jatuh talaknya karena syarat pertama dan ketiga tidak terpenuhi.

Pengncam/Pemaksa :

Pengancam /pemaksa bisa siapa saja, tidaklah harus istri. Mertua, mantannya istri, atau siapa saja yang mengancam dan memenuhi syarat-syarat ancaman di atas, maka paksaan tersebut menjadikan tidak jatuhnya talak yang diucapkan suami walaupun suami mengucapkannya.

Jenis Ancaman :

Ancaman yang bisa memaksa seseorang untuk menceraikan istrinya, yang dengan ancaman itu TIDAK JATUH TALAK walau suami mengucapkannya, sebagaimana dijelaskan dalam Kasyful Asrâr Syarah Ushul al-Bazdawi, 4/385 dijelaskan[3]:

أَمَّا مَا يَئُولُ إلَى إذْهَابِ الْجَاهِ، مِثْلُ أَنْ تَقُولَ لِلْمُحْتَشِمِ لَأُسَوِّدَنَّ وَجْهَك أَوْ لَأَطُوفَنَّ بِك فِي الْبَلَدِ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ أَوْ لَأُتْلِفَنَّ مَالَك فَلَا يَكُونُ ذَلِكَ إكْرَاهًا إذَا كَانَ يُكْرِهُهُ عَلَى قَتْلٍ أَوْ قَطْعٍ وَإِنْ كَانَ يُكْرِهُهُ عَلَى إتْلَافِ مَالٍ أَوْ عَلَى طَلَاقٍ أَوْ عَتَاقٍ فَهُوَ إكْرَاهٌ عَلَى قَوْلِ بَعْضِ أَصْحَابِنَا

“Adapun sesuatu yang berujung pada hilangnya kemuliaan (pembunuhan karakter), seperti engkau berkata kepada seorang yang terhormat: “Saya akan menghitamkan wajahmu, atau saya akan mengarak engkau keliling kota, atau yang lainnya, atau saya akan musnahkan hartamu”, maka hal itu bukan termasuk paksaan, jika paksaannya berupa membunuh atau memotong orang, (namun) jika paksaannya berupa merusak harta atau untuk  menjatuhkan talak, atau memerdekakan (budak), maka hal itu dianggap paksaan, menurut pendapat sebagian sahabat kami.”

Sedangkan jika suami mengatakan “saya terpaksa menceraikan istri saya karena tidak kuat menghadapi ejekan dari istri dan celaan mertua” maka ‘terpaksa’ dalam keadaan ini tetaplah menjadikan talaknya sah.

Semoga dimaklumi, dan kepada Allah SWT kita bertawakkal serta memohon petunjuk-Nyapetunjuk-Nya agar tidak terulang kembali.

————- 02 ————-

HUKUM CERAI TERPAKSA KARENA DIPAKSA
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، واعز جنده، وهزم الاحزاب وحده.
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه ومن تبع هدىه باءحسان الى يوم القيامة.
اما بعد:

Cerai adalah sesuatu yang halal namun sangat dibenci oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

ابغض الحلال عند الله الطلاق

Ucapan cerai yang dijatuhkan suami kepada istrinya yang dilakukan bukan atas kehendak sendiri melainkan karena terpaksa hukumnya TIDAK SAH dan TIDAK JATUH TALAK.
Berikut uraiannya:

Cerai Karena Terpaksa
TIDAK JATUH TALAK

1. Suami menceraikan istrinya karena dipaksa pihak lain dan terpaksa melakukannya, maka talaknya tidak sah. Berdasarkan pada hadits riwayat Ibnu Majah dalam Kitab Talak hadits no. 2044 Nabi bersabda:

إن الله تجاوز عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

Artinya: Allah memaafkan dari umatku (tiga hal): kesalahan, lupa, terpaksa.

Nabi bersabda dalam hadits sahih riwayat Abu Dawud dalam Kitab Talak, hadits no. 2193 dan riwayat Hakim sbb:

لا طلاق ولا عتاق في إغلاق

Artinya: Talak tidak terjadi dalam keadaan terpaksa.

Berdasarkan kedua hadits di atas, maka ulama madzhab Syafi’i menyatakan tidak terjadi dan TIDAK SAH TALAK suami yang menceraikan istrinya karena dipaksa. Khatib Syarbini dalam Mughnil Muhtaj, hlm. 3/271, menyatakan:

ولا يقع طلاق مكره بغير حق خلافا لأبي حنيفة كما لا يصح إسلامه لقوله صلى الله عليه و سلم رفع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه ولخبر لا طلاق في إغلاق أي إكراه رواه أبو داود والحاكم وصحح إسناده على شرط مسلم ولأنه قول لو صدر منه باختياره طلقت زوجته وصح إسلامه فإن أكره عليه بباطل لغا كالردة

Artinya: Tidak terjadi talaknya suami yang dipaksa (atau terpaksa) tanpa hak, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah, sebagaimana tidak sahnya keislamannya (apabila dipaksa) berdasarkan hadits, “Dimaafkan dari umatku kesalahan (yang tidak disengaja), karena lupa dan yang dipaksa.” Dan berdasarkan hadis, “Tidak sah talak dalam keadaan terpaksa.” Hadits riwayat Abu Dawud dan Hakim dan sanadnya sahih dengan syarat Muslim. Dan juga karena kalau perkataannya itu keluar atas kehendak sendiri maka istrinya tertalak dan sah Islamnya apabila dipaksa dengan cara batil maka sia-sia sebagaimana murtad.

Bentuk dan sasaran pemaksaan.
Adapun bentuk pemaksaan pihak lain kepada suami bisa bermacam-macam yang intinya pemaksaan itu membuat suami menceraikan istrinya bukan karena kemauannya sendiri.

Khatib Syarbini dalam Mughnil Muhtaj, hlm. 3/271, menjelaskan beberapa bentuk dan cara pemaksaan sebagai berikut:

وقوله ” ونحوها ” من زيادته أي مما يؤثر العاقل لأجله الإقدام على ما أكره عليه ويختلف الإكراه باختلاف الأشخاص والأسباب المكره عليها فقد يكون الشيء إكراها في شخص دون آخر وفي سبب دون آخر فالإكراه بإتلاف مال يضيق على المكره بفتح الراء كخمسة دراهم في حق الموسر ليس بإكراه على الطلاق لأن الإنسان يتحمله ولا يطلق بخلاف المال الذي يضيق عليه والحبس في الوجيه إكراه وإن قل كما قاله الأذرعي والضرب اليسير في أهل المروءات إكراه والتهديد بقتل أصله وإن علا أو فرعه وإن سفل إكراه بخلاف ابن العم ونحوه بل يختلف ذلك باختلاف الناس كما مر

Artinya: (bentuk pemaksaan) dapat berupa apa saja yang dapat mempengaruhi orang yang berakal sehat (yakni, suami) melakukan perbuatan yang dipaksakan. Pemaksaan itu berbeda sesuai perbedaan individu dan sebab yang dipaksakan. Terkadang suatu hal bersifat memaksa pada seseorang tapi tidak bagi yang lain, begitu juga alat pemaksaan bisa berlaku bagi satu orang tapi tidak bagi yang lain. (Misalnya,) Penekanan dengan merusak harta benda dapat menekan psikis yang ditekan (tapi) seperti uang 5 dirham (nilainya kecil) tidak bersifat menekan bagi orang kaya untuk menceraikan istrinya karena ia dapat menahannya dan tidak menceraikannya. Berbeda halnya dengan (ancaman perampasan) harta yang berjumlah besar yang dapat menekan si suami. Penahanan atau penyanderaan termasuk bentuk penekanan walaupun sedikit sebagaimana yang dikatakan Al-Adzra’i. Pemukulan sedikit (termasuk bentuk penekanan) bagi ahli muruah (orang terhormat). Ancaman pembunuhan terhadap orang tua ke atas atau anak cucu termasuk bentuk penekanan. Berbeda halnya ancaman pembunuhan pada sepupu dan lainnya. Jadi, bentuk tekanan bisa berbeda-beda sesuai dengan perbedaan setiap individu.

Jadi, talak yang dilakukan kasus berada di bawah tekanan pihak lain dan bukan kehendak sendiri, tidak sah, tidak terjadi talak.

Namun ada pendapat dalam madzhab Hanbali yang menyatakan bahwa menceraikan istri saat suami dalam keadaan emosi TIDAK JATUH TALAK.
Rujukan QS Al-Baqarah 2:230

Semoga ada faedahnya, dan jangan sampai terulang lagi, karena setiap pelanggarana syari’at harus benar-benar taubat nashuha juga terbebani kewajiban membayar kifarat.

والحمد لله رب العالمين

Semiga tulisan ini dapat memberikan jawaban terhapat pertanyaan seputar talak paksa, terpaksa dan dipaksa. —————- 02 ————–

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here