Versi Sebelah

0
91

Oleh : Ocit Abdurrosyid Siddiq

Penulis adalah : Warga Biasa

 

Saya punya kawan. Dia seorang penulis. Yang dia tulis banyak hal. Apa saja. Setiap ada peristiwa, langsung direspon. Selalu paling awal merespon. Seolah tidak mau ada orang lain yang lebih dulu tahu. Apalagi keduluan merespon.

Tulisannya banyak. Baik di group whatsapp maupun di media sosial lainya. Facebook misalnya. Bila di group whatsapp lebih banyak berkomentar sebagai respon atas sebuah peristiwa, kalau di Facebook lebih banyak menulis status. Ya, penulis status.

Satu kali, pernah bikin tulisan. Ya, artikel. Artikelnya banyak disukai pembaca. Bahkan dipuja, sebagai dukungan atas sikapnya. Tulisannya tentang hebatnya Erdogan yang tidak menutup satu pun masjid di Turki hanya karena gegara corona. Referensinya, sepotong meme!

Sementara di Indonesia, demi kemashlahatan, banyak masjid ditutup atas himbauan ulama. Tak hanya ulama, rezim pun kena sasarnya. Menurutnya, rezim ini anti Islam. Lalu membandingkannya dengan Erdogan, yang digambarkan sebagai sosok pemimpin idaman.

Belakangan diketahui, bahwa Erdogan tidak pernah melakukan hal itu. Kadung, sanjungan sudah ia tuai. Pujian tidak bisa ditarik kembali. Apalagi dibatalkan. Kesalahan berjamaah itu tetap saja dinikmati.

Mestinya, belajar dari pengalaman, dapat menempa kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama; serampang dan gegabah dalam merespon informasi, lalu membuncah hujatan. Tapi ternyata tidak. Rupanya perilaku itu telah menjadi tabiat.

Siang ini, beredar kabar, 6 orang laskar sebuah organisasi kemasyarakatan meninggal, ditembak polisi. Disusul pernyataan pers dari pengurus ormas tersebut. Tentu saja kontennya tentang benarnya kronologi peristiwa menurut versinya.

Lalu, atas dasar versi ini, déjà vu! Membuncahlah amarah, lewat makian, cercaan, dan hujatan; bahwa rezim ini dzalim terhadap Islam. “Yang harus ditembak mati mah koruptor!”. Nah, tabiat laten kembali muncul; menyaji pembanding yang tidak sepadan, dan bersumber baru dari satu versi.

Ayolah bersabar. Neta S, Pane saja sebagai Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) menyarankan agar segera bentuk Tim Pencari Fakta, sebagai bentuk kehati-hatian dan demi objektifitas atas terjadinya peristiwa itu.

Setali tiga uang, Ruli Margianto, Direktur Eksekutif Pusat Advokasi Hukum dan HAM (PAHAM), juga menuntut untuk dibentuk Tim Pencari Fakta Independen, sebagai media bagi investigasi bersama untuk mencari bukti dan fakta yang sesungguhnya. Hal yang sama diusulkan oleh HMI dan PKS.

Kita tunggu versi lain yang bisa jadi berbeda. Misalnya hasil investigasi bersama. Dengan begitu kita lebih utuh dalam mencecap sebuah informasi. Karena utuh, kita akan lebih bijak dalam merespon.

Jadi, tahan dulu ya, karena “respon konyol akibat serampang mengeluarkan statement, hanya akan jadi bahan tertawaan kelak ketika fakta sejatinya terkuak”.Semoga tidak seperti kawan penulis saya diatas.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here