WASPADA OBAT PCC, SIKAPI DENGAN PCC (PANTANG COBA-COBA)

0
27
Gambar Merdeka.com

WASPADA OBAT PCC, SIKAPI DENGAN PCC (PANTANG COBA-COBA)

 Oleh : Yusransyah, M.Sc, Apt

 

Kamis, 14 September 2017, puluhan remaja menjadi korban penyalahgunaan obat di Kendari, Sulawesi Utara. Diduga obat PCC (Paracetamol, Caffein, Carisoprodol, atau dikenal dengan nama dagang Somadril) dan obat Tramadol menjadi penyebab puluhan remaja tersebut berperilaku aneh hingga hilang kesadaran, bahkan ada yang meninggal dunia. BNN (Badan Narkotika Nasional) menyebutkan bahwa PCC ini bukanlah narkoba jenis baru, dan berbeda dengan Flakka. Jika disalahgunakan, pemakainya akan mengamuk, melukai diri sendiri hingga bertingkah layaknya orang yang memiliki gangguan jiwa. Saat ini BNN sedang berkoordinasi dengan Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan) untuk memeriksa kandungan obat bertuliskan PCC tersebut, yang telah menyebabkan satu orang tewas dan 42 orang lainnya dirawat di beberapa RS di Kendari.

Obat PCC bekerja dengan cara menekan sel syaraf otak untuk mengurangi rasa depresi atau kecemasan berlebih pada tubuh. Metabolit dari Carisoprodol (mepobramat) berperan sebagai depresan sistem saraf pusat untuk menangani gangguan kecemasan. Obat ini tergolong muscle relaxants (pelemas otot) dan bekerja pada jaringan saraf dan otak yang mampu merileks-kan otot. Obat ini biasanya digunakan saat istirahat, saat melakukan terapi fisik, dan pengobatan lain. Sedangkan pada otot, obat ini mampu membuat otot menjadi lebih rileks. Carisoprodol berperan sebagai relaksan otot untuk mengatasi nyeri otot yang parah.

Penyalahgunaan Carisoprodol yaitu digunakan untuk menambah rasa percaya diri, sebagai obat penambah stamina, bahkan juga di beberapa daerah digunakan oleh pekerja seks komersial sebagai “obat kuat”. Namun yang penting untuk diketahui oleh masyarakat adalah efek yang ditimbulkan apabila over dosis Carisoprodol yaitu tidak mampu mengendalikan gerakan tubuh, amnesia (hilang ingatan), agitasi (resah/gelisah), depresi nafas (terganggunya proses bernafas), hilang kesadaran, hingga kematian. Hal yang sama terjadi pada obat Tramadol, yang jika disalahgunakan bisa menyebabkan depresi (gangguan mental), kejang dan kematian.

Mengingat dampak penyalahgunaannya lebih besar daripada efek terapinya, maka seluruh obat yang mengandung Carisoprodol telah dibatalkan izin edarnya oleh Badan POM sejak tahun 2013, bahkan pada bulan Juli 2017 lalu, Badan POM telah melakukan operasi Terpadu Pemberantasan Obat-Obat Tertentu yang sering disalahgunakan dan memastikan tidak ada bahan baku dan produk jadi Carisoprodol di sarana produksi dan sarana distribusi di seluruh Indonesia. Muncul pertanyaan, darimana anak-anak dan remaja tersebut mendapatkan obat PCC yang mengandung Carisoprodol? Kemungkinan besar adanya oknum yang “bermain” dan “gelap mata” dengan memanfaatkan kesempatan demi keuntungan yang tak seberapa, hal itu bisa saja terjadi di sarana produksi ataupun sarana distribusi. Saat ini kasus tersebut tengah ditangani oleh pihak Kepolisian RI bersama Badan POM, guna mengungkap pelaku peredaran obat tersebut serta jaringannya. Kita doakan semoga segera memperoleh titik terang.

Perlunya Peran Aktif Seluruh Komponen Bangsa

Beredarnya obat keras yang disalahgunakan merupakan suatu kejahatan kemanusiaan, karena merusak masa depan anak-anak dan remaja. Para korban memang saat ini sedang dalam perawatan intensif di beberapa Rumah Sakit, namun apabila ada yang sudah ketergantungan, maka harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan jiwa yang memiliki program rehabilitasi supaya dilakukan penanganan khusus, yaitu Pemeriksaan fisik dan status mental, detoksifikasi, terapi psikofarmaka, psikoterapi, rehabilitasi psikososial dan support group. Semakin cepat ditangani, maka akan semakin besar peluang untuk pulih dan kembali produktif.

Yang terpenting adalah upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang lagi (dan lagi). Peran orang tua dan keluarga terdekat sangat besar untuk mencegah dan menghindarkan anak-anak dan remaja dari perbuatan sia-sia dan terlarang, seperti mengkonsumsi obat-obat berbahaya yang mengancam keselamatan mereka. Perlu pendekatan dan hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak agar terjalin rasa kepercayaan dan keterbukaan atas segala kejadian dan masalah yang dihadapi oleh anak-anak dan remaja. Pengawasan di sekolah juga perlu ditingkatkan oleh para guru dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Masyarakat (termasuk tokoh masyarakat dan tokoh agama) juga memiliki peranan penting, diantaranya dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan positif di luar sekolah yang melibatkan anak-anak dan remaja, seperti bakti sosial, kajian keagamaan dan program ‘”life skills” agar anak-anak dan remaja memiliki keterampilan hidup dalam menghadapi tantangan ke depan, yang semua kegiatan itu dibuat sedemikian rupa sehingga anak-anak dan remaja tertarik untuk mengikutinya.

Marilah mulai dari sekarang kita menjadi warga masyarakat yang cerdas, karena sejatinya obat bukanlah komoditi biasa seperti produk-produk lainnya di pasaran. Obat bisa menjadi jalan kesembuhan jika digunakan dengan cara dan dosis yang tepat, namun bisa menjadi racun yang dapat mengakibatkan kematian jika disalahgunakan. Jika akan membeli dan menggunakan obat, pastikan obat tersebut sesuai dengan kondisi penyakit yang diderita (jauh lebih baik jika memeriksakan kondisi penyakit ke dokter sebelum memutuskan membeli obat sendiri), pastikan pula kemasan obat dalam kondisi baik, lalu baca informasi obat yang tertera pada labelnya, pastikan juga obat tersebut memiliki izin edar Badan POM dan tidak melebihi waktu kedaluwarsa, serta pilihlah Apotek yang ada Apotekernya, sehingga terjamin informasi, khasiat, efektifitas dan keamanan dari obat yang akan dikonsumsi. Jika ada oknum yang mencoba menawarkan obat-obat yang tidak jelas efek dan dampaknya ke tubuh semacam PCC, maka katakanlah dengan tegas PCC (Pantang Coba-Coba).

Penulis adalah : Dosen Sekolah Tinggi Farmasi (STF) Muhammadiyah Tangerang, Wakil Ketua Ikatan Apoteker Indonesia Provinsi Banten, Mahasiswa Doktoral Ilmu Farmasi, Universitas Padjadjaran, Bandung.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here