Tampilkan Ringkasan Artikel

Ringkasan Berita

  • Budaya digital telah menciptakan paradoks di mana manusia yang awalnya menciptakan mesin untuk membantu kehidupan kini justru dikendalikan oleh algoritma dalam berpikir dan berperilaku.
  • Munculnya fenomena algo sapiens menandai pergeseran manusia modern yang kebiasaan berpikirnya dibentuk oleh sistem algoritmik melalui rekomendasi yang halus dan tidak terasa mengekang.
  • Data perilaku manusia diekstraksi menjadi komoditas ekonomi yang digunakan sistem untuk melakukan intervensi serta memodifikasi perilaku demi tujuan prediksi yang lebih akurat.
AI Icon Ringkasan di Generate oleh MEOWCONNECT, BADAKPOS.com Artificial Intelligence

Pada tahap pertama, algoritma hanya membaca pikiran dan emosi kita. Ia mencatat apa yang kita sukai. Lalu tahap berikutnya algoritma mulai memprediksi apa yang akan kita lakukan. Pada tahap ketiga algoritma pelan-pelan akan membentuk perilaku kita. Di sinilah salah satu titik paling tajam dalam analisis Zuboff. Persaingan untuk menghasilkan prediksi yang semakin akurat mendorong sistem bukan hanya mengumpulkan lebih banyak data, tetapi juga melakukan intervensi terhadap perilaku agar perilaku tersebut semakin dapat diprediksi dan diarahkan.

Dengan demikian , menurut Zuboff, terjadi perubahan paradigma: surveillance → prediction → intervention → behavioral modification. Bermula dari pengawasan, berujung pada pengendalian perilaku. Inilah yang membuat era algoritma berbeda dari sekedar era komputer.
Ancaman Terhadap Pikiran

Baca Juga:  Dari Beautician Jadi Penggerak Ekonomi Bangsa! My Academy Beri Mahkota Apresiasi untuk Para Perempuan Tangguh di Industri Skincare

Franklin Foer dalam bukunya World Without Mind (2017) membawa persoalan ini ke wilayah yang lebih dalam. Foer tidak hanya mengkhawatirkan tergerusnya ruang privasi, melainkan terancamnya otonomi pikiran manusia. Menurut Foer, perusahaan teknologi besar telah mengubah cara manusia memperoleh informasi dan berpikir. Algoritma dapat mendorong manusia menuju konformitas, mempersempit pengalaman informasi, dan mengikis ruang bagi kontemplasi pribadi serta pikiran yang otonom. Seseorang mungkin secara fisik bebas pergi ke mana saja, memilih belanja membeli barang apa saja, masuk restauran sesuai pilihannya. Tetapi betulkah semua itu keluar dari pilihan bebasnya ataukah sudah terkondisikan oleh rekomendasi algoritma? Jika seluruh pikirannya dibentuk oleh sistem rekomendasi yang disajikan algoritma, seberapa bebas sesungguhnya pilihan tersebut?

advertisement Iklan Artikel 1
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Misalnya, seseorang membuka internet dengan niat mencari informasi. Dia merasa sedang memilih sesuai dengan seleranya. Tetapi algoritma telah menentukan dan menyodorkan urutan informasi yang muncul. Di lain kesempatan dia memilih video. Tetapi sistem telah mempelajari jenis video apa yang cocok dengan seleranya. Atau dia merasa menemukan sebuah gagasan baru. Tetapi gagasan itu mungkin telah dipilihkan untuknya berdasarkan ribuan jejak perilaku sebelumnya. Jadi, seseorang memang tidak kehilangan kemampuan memilih. Tapi yang terjadi adalah kehilangan kesadaran tentang siapa yang membentuk dan menyediakan lanskap medan pilihannya.
Penjara Tanpa Jeruji

Baca Juga:  Dua Balita Disekap dan Dianiaya Kekasih Ibu Kandung di Penjaringan, Pelaku Ditangkap Polisi

Jadi, algo sapiens juga menampilkan bentuk kekuasaan dan penjara baru yang berbeda dari penjara klasik yang memiliki tembok yang dijaga oleh polisi. Kekuasaan algoritmik tidak selalu memerlukan tembok dan menebarkan ancaman, melainkan cukup mengatur lingkungan pilihan. Kita masih dapat memilih, tetapi pilihan-pilihan yang tersedia telah disusun. Kita masih dapat membaca, tetapi bacaan apa yang muncul pertama sudah dipilihkan berdasarkan sistem rekomendasi. Dengan demikian, bentuk kekuasaan baru ini tidak selalu menggunakan kata perintah, cukup menyediakan obyek atau informasi yang cocok dan kita butuhkan berdasarkan rekam jejak yang telah dipelajari oleh sistim algoritma.

advertisement Iklan Artikel 2

Masyarakat Yang Cemas